icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Menaklukkan Duda Dingin

Menaklukkan Duda Dingin

icon

Bab 1 Bertemu Tuan Dingin

Jumlah Kata:1117    |    Dirilis Pada: 22/12/2022

sambil berusaha bangkit dari timbunan salju. Hi

ah payah, ia melangkah menuju aspal. "Berhenti kalian! Jangan membu

dikejarnya sudah berputar arah. Dua pria yang tadi melemparn

dj

k sekencang-kencangnya. "Dasar penipu! Aku membayar mahal untuk dianta

nghilang di kejauhan. Ia sadar, tidak ada gunanya memekik ata

percaya pada mereka,"

seorang pun di sekitarnya. Yang ada hanyalah bayangan pohon pi

ngin yang berembus telah menghantarkan dingin hingga ke tulan

annya tadi. Dua detik kemudian, wanita itu tiba-tiba menghela napas tak percaya. Sama

rkan mata. Ia berpikir telah menemukan secercah harapan

pun rumah warga. Apa mungkin ... ada orang yang hi

gan sekitar. Yakin bahwa tidak ada ba

r hangat. "Orang di rumah itu pasti mau membantuku." Dengan penuh percaya

lega. Sambil terus menggosok tangan, ia memperhatikan

duk." Setelah mengembuskan napas cepat, Amber meng

anita itu kembali mengetuk. "Pe

erdengar. Keheningan itu membuat kekesalan Amber bang

gilanku? Ck, aku bisa membeku kalau terus menunggu di luar sini," geru

etengah panik. Tangannya yang terasa kaku tak henti-henti membentur papan t

rbuka. Mendapati celah untuk masuk, sen

an tegap menghalangi jalan. Sambil menghunuskan tatapan ding

mati wajah laki-laki brewok dengan rambut cokelat tak terurus itu. Tidak ada ekspr

m gemuruh napasnya. "Nama saya Amber dan saya bukan orang jahat. Saya datang ke negara ini untuk bertemu dengan Adam Sm

katkan kepalanya kepada Amber. "Kutanya se

, sang wanita sontak bergidik ngeri. Sambil me

di samping pintu. Setengah tulisannya tertutupi salju. "Baca itu dan pergilah

k percaya. "Aku hanya ingin meminta bantuan. Kenapa dia

yang menghalangi tulisan. "Menjauhlah jika tidak ingin

aja? Aku justru bisa membeku kalau menjauh dari pondok ini," gumam Amber se

ayar. Sekarang, tolonglah aku agar tidak mati kedinginan di sini," seru Amber, mengabaika

ebelum ia melewati ambang pintu, seember air tiba-tiba menampar wajahnya. Dalam sekejap, wanita itu meme

pa kau menyiramku?"

emudian, ia menutup pintu rapat-rapat. Pemilik pondok itu sama sekali tidak

mulai memukul dan menendang pintu. "Kalau kau ingin membunuhku, kenapa kau

saja nanti! Kau akan menyesal kalau sampai aku mati di sini. Orang tuaku tidak

mber yang terisi penuh. Tak ingin mendapat guyuran kedua, Amber bergeg

kh

gkan air di atas kepalanya. "Pergilah

k Amber sambil menyingkirkan butiran air

k dan menutup pintu. Menyaksikan sikap dingin pria itu, napas Amb

gkit berdiri. "Kenapa harus psikopat itu yang tinggal di sini? Kenapa

ejaknya tadi. "Aku tidak boleh putus asa. Pasti ada orang lain

untuk bergerak. Meski napasnya terasa semakin berat, ia terus be

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Menaklukkan Duda Dingin
Menaklukkan Duda Dingin
“Amber Lim terkenal akan gaya hidup yang mewah dan kecantikan yang memukau. Namun sayang, perempuan itu juga dikenal sebagai perusak hubungan orang alias pelakor internasional. Menyesali sikap buruknya, ia pun bertekad untuk memulai hidup baru. Tanpa memedulikan musim dingin ekstrem yang sedang berlangsung, Amber pergi ke utara untuk berguru dengan Adam Smith, desainer perhiasan terbaik dunia yang misterius. Malangnya, di tengah perjalanan, Amber dirampok dan ditinggalkan di sebuah hutan. Hanya ada sebuah pondok kecil yang dapat menyelamatkannya dari beku, dan hanya ada satu orang yang dapat membantunya bertahan hidup-Tuan Dingin. Tidak ada yang tahu nama asli Tuan Dingin. Ia sengaja hidup menyendiri dan sangat tidak suka diganggu. Penduduk desa terdekat bahkan memanggilnya kanibal karena minimnya rasa kemanusiaan dalam diri pria itu. Padahal sesungguhnya, Tuan Dingin hanyalah seorang duda yang sangat membenci wanita, apalagi pelakor. Lantas, apa yang akan terjadi selanjutnya? Mampukah Amber menaklukkan Tuan Dingin dan pulang dengan selamat? Atau justru ... berakhir menjadi santapan lezat sang duda?”