back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Perangkap Tuan CEO

Perangkap Tuan CEO

Suny_Edelia

5.0
Ulasan
9.8K
Penayangan
165
Bab

“Menjadi milikku adalah keharusan bagimu, karena aku menginginkan hal itu. Tubuhmu, jiwamu, setiap jengkal kulitmu. Hanya aku yang boleh memilikinya, dan hanya aku.”

Bab 1
Seorang Gadis Incaran CEO

“Menjadi milikku adalah keharusan bagimu, karena aku menginginkan hal itu. Tubuhmu, jiwamu, setiap jengkal kulitmu. Hanya aku yang boleh memilikinya, dan hanya aku.”

Blade Corp, sebuah perusahaan multinasional yang sedang merangkak menuju nomor satu di dalam negeri. Akan terjadi sebuah insiden yang menggemparkan hari itu, ketika seorang gadis yang selalu menjadi bulan-bulanan CEO di perusahaan tersebut tiba-tiba dipaksa menjadi kekasih sang CEO.

Ini tentang Eva, seorang gadis yang selalu dipandang sebelah mata tiba-tiba saja menarik banyak sekali perhatian kala dia mampu membuat CEO-nya terobsesi padanya. Ini tentang Eva, yang bahkan nyaris tidak mengerti kenapa CEO-nya melakukan ini padanya, dan apa alasan di balik ini semua.

Ini tentang Eva, yang ingin melepaskan diri dari dominasi dan rasa obsesi yang menguasai CEO-nya.

Deret bangku departemen bagian penjualan sudah mulai sepi, apalagi pada musim akhir seasonal seperti sekarang ini. Ruangan kantor berbentuk cubicle yang berpetak-petak itu kini serupa labirin yang tak berpenghuni, walau masih terdengar suara ketukan keyboard jauh di sana.

“Senangnya mereka bisa pulang,” hela Evalina Megan Perth. Dia adalah salah satu karyawan paling junior di departemen tersebut. Wajahnya yang berbentuk oval itu kini seperti meleleh bersama semangatnya yang mulai surut.

Kepalanya melongok di atas meja kerjanya sendiri, melewati ujung ruang cubicle miliknya untuk melihat gerumbulan orang-orang yang sudah berarak di depan pintu keluar dan meninggalkan meja masing-masing. Bel pulang sudah berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu, lautan manusia segera meledak setelah itu.

“Huh, apa yang bisa dilakukan karyawan junior dengan banyak pekerjaan sepertiku?” parau gadis berusia dua puluh tahun itu. Tangannya yang ramping dengan kuku jari yang lentik itu kini berdiri untuk menyangga wajahnya yang mulai pucat karena kelelahan bekerja.

Di tengah semua itu, seseorang menegur Eva, “Yang bisa kau lakukan hanyalah menyelesaikan laporan bulanan milikmu dan serahkan laporan itu pada Tuan Arthur.”

BLUSH! Belum apa-apa Eva sudah merona di tempatnya. Wajah pucat pasi layaknya mayat hidup miliknya telah mendapat pompaan darah dari jantungnya yang berdebar-debar. Eva tau suara itu, Eva tau suara yang menegurnya itu.

Dengan rona pipi yang sudah tidak bisa disembunyikan, Eva pun mendongakkan wajahnya pelan. Dalam kondisi normal dan bersemu seperti sekarang ini Eva layaknya seorang peri cantik yang sangat ramah, begitu berbeda dari yang tadi yang terlihat layu dan hampir meranggas.

“Oh, hai Kak Jeremy. Apa Kakak sudah mau pulang?” deham Eva dengan malu-malu setelah dia mampu merapikan rambutnya dengan gerakan kilat. Untuk menambah kesan manis dan imut, Eva sengaja menyelipkan rambut di belakang telinganya dengan manja.

Jeremy terkekeh geli. “Ya, aku memang akan pulang sekarang, dan sedihnya melihat juniorku harus tersiksa karena perintah langsung dari CEO-ku,” komentar Jeremy dengan tulus. Setelannya yang selalu rapi telah membalut sempurna tubuhnya yang sehat, yang agak padat karena otot. Senyumannya yang sangat manis itu seperti memberikan serbuk-serbuk sari pada Eva hingga membuat gadis itu berlinang air mata karena terharu.

‘Tampannya,’ leleh Eva bersama senyuman bodohnya.

Jeremy yang biasa mendapatkan perlakuan manis dari para gadis itu pun memaklumi reaksi berlebihan Eva, reaksi yang tak lain adalah tersenyum tanpa henti dengan mata kosong seperti berfantasi. Sekali lagi Jeremy tersenyum lalu menempuk pelan pundak Eva. Lelaki yang didaulat sebagai karyawan paling populer di perusahaan itu pun berkata, “Baiklah, aku pulang sekarang. Semoga pekerjaanmu lancar. Bye.”

“B – byeeee.” Eva seperti menjadi linglung seketika. Senyumannya yang bodoh tak lekas terhapuskan dari wajah cantik miliknya. Poninya yang menutupi dahi seolah memberikan hujan cinta penuh letupan merah muda yang diterbangi sayap kupu-kupu.

Eva tersentuh, dia jatuh cinta, dan semua itu karena Jeremy. “Gadis mana yang tidak akan jatuh cinta padanya?”

Di samping semua itu diam-diam seorang gadis lain tengah mengawasi Eva yang tengah kasmaran, dan juga Jeremy yang bereaksi biasa saja. Gadis itu adalah Sonia, teman dekat Eva di kantor tersebut. Sonia yang berperawakan tinggi bak model, ramping tapi terkesan kurus, dengan rambut ikal tak alami hasil salon kini mendekat pada meja Eva yang sudah tinggal lima langkah dari posisinya sekarang ini.

Tas branded warna hitam berbahan kulit buaya saat ini sedang Sonia tenteng. Dagunya mendongak dengan langkah kaki melenggak-lenggok bak model. Mungkin Sonia tengah lupa bahwa saat ini dia sedang berada di kantor, bukannya di atas catwalk.

Sonia melipat lengan panjangnya. Masih dengan dagu mendongak dia memandangi Eva yang tak bisa berhenti untuk melongok demi memandang kepergian Jeremy, si pujaan hati. Sekitar lima menit Sonia berdiri dalam diam, menjadi pengamat sampai akhirnya dia kehilangan kesabaran.

“Hey, hentikan lamunanmu itu! Kak Jeremy bisa langsung tau kalau kau menaksirnya. Kau mau membongkar ra

hasiamu sebelum valentine hah?” cerocos Sonia tanpa basa-basi, dia juga tidak memprediksi apakah nantinya Eva mendengar semua ocehannya atau sebaliknya.

Terkejut, Eva lantas membenahi posisinya. Dia juga merapikan rambut dan bajunya, seakan dia baru saja berbuat sebuah kesalahan. Setidaknya gadis itu mendengar teguran teman dekatnya yang bermulut blak-blakan.

“Oh iya aku lupa. Aduh, untung kau mengingatkan aku!” Eva tiba-tiba bingung sendiri. Dia meraba-raba meja kayu miliknya seolah dia buta. Tangannya turun demi menjelajahi laci meja dan lalu membukanya. Nampak sebuah kotak kado dengan bungkus warna biru di dalamnya, ada hiasan pita dan lalu tempelan surat bertuliskan, “Dear Kak Jeremy, From Eva.”

Eva menghembuskan napas sangat lega. “Untunglah kadonya masih di dalam laci.” Sambil memeluk kado itu, Eva tak berhenti mengucap syukur.

Sonia mencibir sendiri. Bibirnya yang penuh lipstick dengan riasan bold itu terlihat menyungging tak beraturan. “Tidak akan ada yang mencuri kado itu di dalam lacimu, jadi kau jangan memikirkan soal itu. Yang terpenting sekarang adalah kau harus mempersiapkan dirimu untuk mengakui perasaanmu pada Kak Jeremy besok malam.” Besok malam adalah hari valentine.

Melihat Sonia yang melipat lengan dan mendongak angkuh justru menghilangkan semangat Eva. Pasalnya adalah yang dia taksir sekarang itu seorang Jeremy, lelaki paling populer di perusahaan, yang digilai oleh seluruh gadis dari semua kalangan. “Aku tidak yakin. Aku hanya takut jika Kak Jeremy menolakku, atau dia sudah punya pacar.”

“Apa pun keputusannya dan apa pun yang terjadi kau tetap harus mencobanya. Tidak akan ada yang tau hasilnya kan? Sebagai teman dekat yang akan menjadi sahabatmu, aku selalu menendangmu dari belakang.”

Eva mengernyit, “Bukankah seharusnya mendorongku dari belakang ya?”

“Terserah aku, aku kan putrinya di sini.”

“Baik, Tuan Putri!” geleng Eva dengan agak menyindir. Tapi itu tidak membuat Sonia tersinggung sama sekali. Sonia adalah seorang gadis bermental baja dengan kepercayaan diri tak tertandingi.

“Ok, aku pulang dulu kalau begitu. Semoga berhasil dengan laporanmu malam ini, dan semoga kau berhasil dengan pernyataan cintamu besok.” Sonia berkedip, lalu mengecup pelan puncak kepala Sonia sebelum pergi.

“Sumpah dia tidak perlu melakukan itu,” desis Eva sembari melirik pada teman dekatnya itu, yang kini sudah berlenggak-lenggok bersama sepatu hak tinggi berwarna mencolok di kakinya.

Untuk beberapa saat gadis dengan rambut lurus hitam legam sebahu itu mencibiri Sonia tanpa henti. Eva juga menyebutkan semua keburukan Sonia dalam bisikan layaknya mantra yang sakti mandraguna, sampai seseorang mengetuk bagian luar meja bentuk cubicle miliknya, hingga membuat Eva mendongak dan kemudian membelalak.

Si pengetuk meja adalah Arthur Raymond Blade, yang merupakan CEO di perusahaan tersebut. Bukan hal lumrah bagi Arthur untuk turun langsung dan menemui seorang karyawan ecek-ecek seperti Eva, dan bukan hal yang lumrah bagi Arthur untuk tiba-tiba turun dan pergi memeriksa sendiri pada ruangan kantor para karyawan tersebut.

Jika Arthur mampu mengubah kebiasaannya, maka itu berarti bencana!

“Tu – Tuan Arthur!” Eva buru-buru berdiri. Semua semangatnya berkat Jeremy, dan semua energinya yang menggebu untuk menyumpahi Sonia kini telah surut. Bagai tikus yang terpojok di antara beribu predator, Eva hanya bisa menunduk bersama keringatnya yang tak bisa berhenti membasahi muka, tubuh, dan kepalanya. Wajahnya mulai pucat pasi dengan bibir yang tergigit penuh.

“Aku tunggu laporanmu satu jam lagi di ruanganku.” Hanya itu yang dikatakan oleh Arthur. Suara bass miliknya bisa mengancam dalam satu semburan paling lirih. Belum lagi matanya yang sangat dingin dan kelam di banyak kesempatan, dan wajahnya yang selalu pucat karena aura mengerikan miliknya.

Eva menelan ludah dengan kesulitan, bahkan Eva hampir tidak bisa bernapas kala merasakan ledakan jantungnya yang menggila, yang rasanya mempersempit paru-parunya. Dan ruangan kantor yang tadinya serasa gerah karena banyaknya pekerjaan yang menanti itu tiba-tiba terasa sangat dingin dan membeku, sampai membuat Eva kini menggigil pelan.

Jika Jeremy adalah surga dunia di perusahaan itu, yang bisa memekarkan kelopak paling rapuh di dalam hati Eva, maka Arthur adalah kebalikannya. CEO itu adalah neraka bagi Eva, dan mungkin bagi semua karyawan di perusahaan itu. Akan tetapi akhir-akhir ini nampaknya semua karyawan setuju bahwa hanya Eva yang mendapat neraka paling ganas dari Arthur.

Hal itu terjadi karena Arthur secara sengaja memberikan banyak pekerjaan melimpah tanpa henti pada Eva, hanya pada Eva, seakan CEO itu menaruh dendam paling pekat di seluruh bumi ini pada gadis itu, dan seakan Arthur ingin melihat kematian Eva di depan matanya demi bersiap untuk memakan dan melumat gadis itu.

Hanya Eva, hanya gadis itu, yang merasakan dominasi paling mematikan dari sang CEO. Hingga membuatnya ingin pergi dan melarikan diri, terlebih setelah Arthur menuntut Eva untuk menjadi kekasihnya suatu saat nanti.

***

Unduh Buku