A Thousand Tears of Sword

A Thousand Tears of Sword

Dz

5.0
Komentar
575
Penayangan
18
Bab

Novel Yang Berjudul A Thousand Tears of Sword adalah novel yang menceritakan salah satu benua yang masih melakukan perdagangan manusia atau semacamnya, peraturan yang tidak tegas membuat benua yang dulunya damai dan tentram berakhir menjadi mimpi buruk bagi semua orang di belahan dunia. Alasan dunia memberi nama benua terkutuk adalah tata cara hidup yang ekstrim dimana yang lemah akan mati tertindas atau mati dalam keadaan mengenaskan, kejahatan, penjualan budak, penindasan, penyiksaan, pemerkosaan, kerja paksa, dan lainnya. Namun semua itu berakhir ketika para dewa mengutus Dewi Kematian untuk turun kebumi dengan suatu tugas membantai semua orang yang berada di benua terkutuk, dan menyelamatkan semua orang yang membutuhkan pertolongan. Buruknya dalam perjalanan turun kebumi, Dewi Kematian mengalami kesalahan teknis yang membuat semua kekuatannya menghilang lalu lahir menjadi seorang anak perempuan yang bernama Hua Hua. (Bagaimana kelanjutan nya? ayo kita simak ceritanya, jangan lupa dukungannya biar author semangat update).

Bab 1 1. Jiwa Yang Menangis

Ep 1. Jiwa Yang Menangis

Pemberitahuan:

(Novel ini dibuat bertujuan untuk menghibur pembaca dan membagikan beberapa pengalaman pahit dimasa lampau, dan tidak bertujuan untuk menyinggung pihak manapun. Kalau ada kesamaan nama tokoh, tempat, peristiwa mohon dimaklumi, novel dibuat hasil imajinasi sendiri tanpa meniru pihak manapun) ( Novel ini bukan untuk usia -18 tahun/ atau yang masih polos )

(Novel Type : Sad, Struggle, Life Journey, Action-packed, Ancient, Epic, Random Flow, Etc).

***********

Sebelum memulai cerita penulis akan menjelaskan tingkat kekuatan di dalam cerita ini.

Tingkat Kekuatan:

Physical Body

Fighter Body

King's Body

Soul Body

Burning Soul Body

Immortal Soul Body

Immortal Golden Body

Semua orang bisa memiliki dengan cara tertentu.

-----------

The Body of the Four Elements Emperor:

(Fire Immortal Body)

(Wind Immortal Body)

(Earth Immortal Body)

(Water Immortal Body)

Setelah mendapatkan tubuh empat element mereka akan mendapatkan salah satu tubuh dari element spesial.

--------

Golden God Body

Goddess Body

Yang tertera disini adalah jenis tingkat khusus yang dimiliki beberapa orang, salah satu nya Hua Hua.

---------

Immortal God Emperor Body

Heaven Soldier

Heaven Fighter

Emperor of Heaven

King of Heaven

King of Fighters

Setelah melewati beberapa tahap siksaan hidup, orang yang berhasil menembus alam surgawi maka akan bisa menembus kekuatan selanjutnya.

---------

Angel Soldier

Angelic General

Angel Fighter

King of Angels

Perfect God Power

Itulah penjelasan tentang tingkatan kekuatan.

**********

Di gerbang kota merah terlihat banyak orang sedang mengantri untuk memasuki ibukota, suara teriakan dan tangisan terdengar di depan gerbang tersebut, mereka adalah manusia yang dijadikan budak oleh keluarga teratas. Kebayang diri mereka adalah perempuan yang akan dijual kepada salah satu untuk pemuas nafsu, sedangkan laki-laki budak tidak terlalu banyak.

Di tengah keramaian terlihat bocah kecil bersama ibunya, sosok tersebut tidak lain adalah Hua Hua bersama ibunya bernama Sulin. Sulin adalah seorang budak cantik yang memiliki satu anak, ia akan dijual oleh orang yang bernama Toran kepada keluarga bangsawan. Karena tidak bisa melawan Sulin hanya diam tanpa mengatakan apapun.

Toran mengayunkan cambuk ke arah Sulin "Cepat jalan?"

Sulin berusaha tidak berteriak di hadapan anaknya Hua Hua, ia berjalan mengikuti Toran dari belakang. Hidup sebagai budak yang selalu menerima siksaan adalah makanan banyak orang yang bukan dari kalangan atas, sedangkan suaminya dibunuh oleh perampok ketika hendak pulang ke rumah.

Langkah Hua Hua dan ibunya berhenti didepan beberapa orang yang akan menikmati seluruh tubuh Sulin, tentunya mereka harus membayar uang kepada Toran yang menjual mereka.

"Cantik sekali!"

"Tentu saja, semua gadis-gadis yang aku miliki cantik semua.... Kalau yang ini 200 koin emas!"

"Oke, ini 200 koin emas!"

"Ikuti dia!" teriak Toran.

Beberapa orang menarik rantai yang terikat di tangan Sulin, Hua Hua berusaha menahan ibunya yang ingin dibawa pergi.

"Ibu... jangan bawa ibuku!" teriak Hua Hua yang terseret sambil memegang gaun ibunya.

"Anak silakan!" teriak satu orang lalu menendang Hua Hua.

"Aduhh..!"

"Ibuuuu....!"

Sulin menggelengkan kepalanya agar Hua Hua tidak melawan, itu ia lakukan agar anaknya tidak dibunuh oleh mereka. Hua Hua berdiri mematung melihat ibunya yang terikat rantai dalam keadaan diseret beberapa orang.

---------

Di tengah keramaian orang yang sedang melakukan penjualan budak dan organ tubuh, Hua Hua mengikuti beberapa orang yang membawa ibunya ke suatu tempat, langkah Hua berhenti disalah satu rumah tua. Lima orang melepaskan rantai yang terikat di kaki dan tangan Sulin lalu membawanya masuk kedalam rumah tersebut, Hua Hua berjalan dengan hati-hati untuk melihat apa akan dilakukan mereka di rumah tua.

Hua Hua yang masih polos tidak tau apa yang dilakukan semua orang di rumah tersebut, ia terus mengintip banyak wanita diperkosa selain ibunya.

"Ahhhhh... !" teriak salah satu wanita di tempat itu.

Hua Hua mengalihkan pandangan ke arah ibunya, ia melihat lima pria melepaskan semua pakaian Sulin, lima orang melihat tubuh Sulin yang masih terlihat mulus mereka langsung menciumi tubuhnya. setelah itu mereka menikmati seluruh tubuh Sulin secara bergantian.

"Lepaskan aku!"

"Aaaahhhh...!"

"Ahhh..... lepaskan!"

Hua Hua ingin berlari menyelamatkan ibunya, langkahnya terhenti ketika melihat salah satu wanita yang baru saja dibunuh. Tubuh Hua Hua bergetar hebat saat mengetahui setelah ini ibunya akan dibunuh, ia tidak berani bergerak dan hanya mematung melihat semua wanita yang di perkosa dengan darah berceceran di lantai.

Hua Hua melihat kemaluan Sulin dan semua wanita yang sudah berdarah dan banyak orang yang masih terus memaksa untuk terus melakukan meski korban sudah lemah tidak berdaya, Sulin berteriak histeris kesakitan yang memperlihatkan urat wajah ingin terputus. Jiwa Hua Hua terasa disambar petir berkali-kali.

"Ahhhh...!" suara desahan Sulin yang diiringi air mata.

Sulin hanya bisa menangis menahan rasa sakit, ia sudah tidak kuat untuk berteriak atau bersuara lagi. Kematian cepat adalah hal terindah bagi semua budak yang disiksa, berbeda dengan Sulin yang berusaha hidup dari kejamnya kehidupan.

Tidak lama kemudian beberapa pria saling bunuh satu sama lain karena memperebutkan salah satu tubuh wanita cantik, dentingan senjata menghiasi rumah tua, suara teriakan kesakitan menggema di pikiran Hua Hua yang masih polos.

Hua Hua melihat banyak kepala pria yang terpenggal, ia melihat ke arah pria yang hanya tersisa sendiri sedang mengambil organ tubuh untuk dijual. Hua Hua mengambil senjata pria yang sudah tewas lalu memasukkan di bagian kepala pria yang mengambil organ tubuh.

"Aaaaaaaaaaaaaa?" pria tewas.

Semua wanita yang terbaring lemas mengalihkan pandangan ke arah Hua Hua yang bermandikan darah segar, mereka ketakutan histeris seperti melihat iblis kecil yang haus darah. Sulin melihat anaknya yang baru saja membunuh satu orang, di negeri tempat tinggal Hua Hua tidak banyak perempuan yang berani membunuh, kalau itu ada dia ditakdirkan sebagai penyelamat para budak.

"Ibuuuu!" teriak Hua dengan tangisan.

"Terimakasih!"

"Ibu ayo pergi dari sini!"

Sulin berusaha berdiri, setelah itu mereka pergi meninggalkan rumah tua. Tidak butuh waktu lama mereka sudah berada di jalan utama kota, mata mereka disambut keramaian orang yang masing-masing membawa budak.

Hua Hua berhenti melangkah, ia melihat seorang pria berjalan dalam keadaan leher terikat Rantai, tubuh pria juga memperlihatkan banyak cambukan beserta luka bakar. Pria tersebut mengeluarkan gulungan dari dalam celana lalu melemparkan ke arah Hua Hua, ia tersenyum hangat kepada anak kecil yang mengambil gulungan.

Hua Hua mengambil gulungan lalu mengalihkan pandangan ke arah ibunya.

"Sayang, apa itu?"

"Tidak tahu ibu, ayo kita cari tempat istirahat."

"Ayo."

Hua Hua berjalan melewati keramaian orang yang membawa budak pria dan wanita, pria budak akan digunakan sebagai bahan siksaan untuk membuang rasa marah setiap majikan, hal ini banyak membuat pria budak tewas terbunuh, sedangkan wanita untuk dinikmati lalu dibunuh. Tradisi mereka tidak membunuh anak kecil karena mereka akan digunakan sebagai budak di masa depan.

Tidak hanya disitu Hua Hua juga melihat seorang wanita yang membawa budak laki-laki untuk dipekerjakan atau pemuas nafsu, kebanyakan dari mereka berusia muda agar tidak melawan.

Wanita yang membawa budak laki-laki menyewa beberapa pengawal pria yang sudah dilengkapi dengan senjata, kalau budaknya tidak sanggup memberikan kepuasan maka kemaluannya akan dipotong atau dibunuh, selain itu mereka akan dipekerjakan hingga mati tanpa diberi makan.

---------

Sulin dan Hua Hua sudah berada di tempat sepi, mereka duduk bersandar di batu sambil mengatur nafas lelah. Sulin melihat anaknya dengan perasaan bersalah, ia menyesali karena tidak mampu memberikan Hua Hua masa depan yang lebih baik.

"Ibu, kenapa kita tidak keluar langsung dari kota ini?"

"Kita tidak memiliki lencana kebebasan, kita akan keluar diam-diam pada malam hari!"

"Iya ibu!"

Hua Hua membuka gulungan kertas yang diberikan pria misterius, matanya melihat simbol aneh yang belum pernah ia lihat, ia mengalihkan pandangan ke arah ibunya untuk bertanya.

"Ibu, apakah kamu tahu ini apa?"

Sulin mengambil gulungan yang ada di tangan anaknya, setelah itu ia melihat simbol Formasi. Sulin meminta anaknya berbalik badan lalu membuka pakaian Hua Hua yang memperlihatkan tanda lahir sama bentuk dengan simbol yang berada di gulungan. Sulin mencocokkan dua gambar yang berada di gulungan dan tanda lahir di belakang Hua Hua.

"Ibu, kamu sedang apa?"

"Tidak ada, ibu hanya kecocokan tanda lahirmu!"

"Apakah ada sesuatu?"

"Ibu tidak mengetahuinya nak."

Mereka duduk diam Hua Hua tertidur dipangkuan ibunya, sedangkan Sulin memikirkan tanda lahir yang hampir sama dalam lukisan gulungan. Sebelum kecelakaan dalam perjalanan Dewi Kematian memiliki seorang kekasih yang bernama Pangeran malam, setelah Dewi Kematian mengalami musibah yang membuatnya kehilangan kekuatan dan lahir menjadi seorang anak perempuan bernama Hua Hua.

Selama ini Hua Hua tidak mengetahui identitas aslinya kalau dia adalah Dewi Kematian yang ditugaskan para dewa.

Bersambung...

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku