Altair Onder de

Altair Onder de

Lyxn

5.0
Komentar
55
Penayangan
90
Bab

"Kau sudah tiba?" tanyanya. Perempuan itu adalah sosok Claretta yang sangat Altair rindukan. "Altair?" ucap Altair. Perempuan itu tertawa kecil dengan menutupi mulut dengan tangannya. "Terdengar aneh jika seseorang memanggilku dengan namaku sendiri," ujar Claretta. "Mungkin banyak pertanyaan yang akan kamu lontarkan kepadaku," ungkap Claretta, "tapi sebelum itu tolong Altair, terbiasalah dengan tubuhmu yang baru, aku sudah lelah dengan tuntutan sebagai penerus pengendali Mana, yang aku inginkan hanya bagaimana rasa memiliki seorang ibu." sambung Claretta. Claretta menengadahkan wajahnya ke langit. "Kau pasti tahu banyak informasi tentang duniaku sekarang karena kau adalah orang yang cerdas dan tangguh," ujar Claretta lagi melihat wajah Altair. Wajah mereka saling menatap Altair tidak bisa membalas perkataan Claretta Altair yang merasa tidak adil dengan pertukaran tubuh seenaknya yang dilakukan dewa kepada mereka berdua. Muncul perasaan iba di dalam benak mereka masing-masing seperti mengerti rasa sakit, penderitaan mereka dan kesedihan. Claretta mengambil kedua tangan Altair, air matanya tidak bisa dibendung. Dengan tersenyum Claretta berkata,"Mungkin karena aku sudah berada di tubuh seorang wanita jadi perasaanku menjadi lebih sedikit sensitif." "Maukah kamu merelakan hidup kita yang sekarang?" tanya Claretta dengan harap. Altair menggenggam tangan wanita kecil itu, kini hati Altair menjadi goyah karena sebelum dirinya bertemu dengan pemilik asli tubuh Altair, dia berniat untuk memukul kepala orang tersebut yang dengan sesuka hati meminta kepada dewa untuk menukarkan tubuhnya tanpa izin. Angin sejuk berhembus, menerbangkan beberapa kelopak bunga di sekitar mereka mengibaskan rambut panjang milik Claretta. "Ternyata, aku sangat cantik." batin Altair. Altair meletakkan tangannya di atas kepala Claretta dan membelai kepalanya seraya berkata, "tidak apa-apa." ucap Altair dengan tenang. Akhirnya mereka saling mengikhlaskan satu sama lain dan memutuskan untuk menjalani kehidupan mereka sekarang masing-masing, mereka terpisah oleh sebuah cahaya. "Aku akan menjaga ibumu Altair sebagaimana ibuku sendiri karena aku sangat menyayanginya." ujar Claretta yang hanya terdengar suara.

Altair Onder de Bab 1 Chapter 1

"Bukankah dia si wanita angkuh?" bisik seorang karyawan laki-laki bersembunyi dari belakang meja kerja.

"Benar, ada kabar dia tidak suka dengan laki-laki." jawab laki-laki lain di seberang.

Seorang yang lain bersungut mendengar temannya memancing percakapan,"Ibunya seorang pelacur yang hidup di kalangan saudagar kaya akhirnya dinikahi."

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya seorang junior, terlihat dari kemeja putih yang dia kenakan sangat rapi dan bersih. Berbeda jauh dengan orang-orang yang sudah lama bekerja disana, mereka rata-rata hanya mengenakan pakaian seadanya.

"Temanku bercerita dan dia mengenalnya. Dia pernah diajak tidur oleh teman sekelas dan lagi foto-foto vulgarnya sudah tersebar banyak di internet."

Suasana ruang kerja mulai memanas, Claretta yang mendengar bualan mereka mendatangi meja kerja.

"Bukannya itu editan? Semua orang tahu kalau itu editan."

"Memang siapa yang peduli, itu editan atau bukan. Kalau benar berarti..." ucap yang lain, namun kata-katanya berhenti ketika Claretta mendatangi mereka.

Dia yang sedari tadi mendengar pembicaraan segerombolan laki-laki, memukul meja dengan berkas yang dia bawa.

"Masuk di perusahaan sehebat ini adalah mimpi semua orang. Kalian masuk dan bekerja di sini karena mulut busuk kalian yang hanya bermodalkan orang yang sama busuk seperti kalian. Jika ingin bekerja lama di sini, maka lakukan tugas kalian. Karena jika tidak, berarti otak kalian editan." tukas Claretta dengan lantang sehingga terdengar oleh karyawan lainnya.

Setelah mengucapkan hal tersebut, Claretta pergi ke divisi lain berisikan pegawai wanita, ide pemisahan tempat kerja adalah idenya. Menurutnya lebih efisien dan Claretta lebih senang bergaul dengan mereka.

Claretta melihat seorang gadis yang belum pernah dia temui dan menghampirinya.

Dengan rasa penasaran,"Siapa namamu?" tanya Claretta.

"Sa... saya Mia." ucapnya sembari berdiri dengan tergesa-gesa, tingkahnya yang terlihat ceroboh membuat Claretta tersenyum, sembari pergi mengambil beberapa berkas dari pegawai lain.

Dia heran banyak dari mereka sedang asik bermain ponsel daripada sibuk di depan komputer masing-masing.

"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya usai memeriksa berkas hasil pekerjaan karyawan yang lain tiba-tiba beberapa orang mulai mengerumuni dan menyodorkan hp mereka ke wajah Claretta.

"Coba lihat ini!" tiba-tiba sebuah ponsel mengarah ke wajah Claretta dengan mata berbinar-binar tidak menghiraukan situasinya yang kini sedang dihimpit banyak orang.

Sejenak Claretta melihat judul novel 'Ksatria dan 4 Ultimate' dan membaca sekilas judul novel online tersebut melihat tingkah mereka, Claretta merasa pusing.

"Waktu kalian hanya habis untuk ini?" Claretta menghela nafas meletakkan tangannya ke atas kepala.

"Kau tidak tahu? Mereka tampan dan sangat keren. Apalagi tokoh utama ksatria yang ada dalam cerita. Novel ini bercerita tentang seseorang yang berinkarnasi masuk dalam novel dan menjadi tokoh utama." ucap gadis itu yang menyodorkan smartphone.

"Apa yang bagusnya? Lagi pula reinkarnasi? Apa-apaan itu? Hanya cerita takhayul yang tidak mendasar sekali." sanggah Claretta mulai gemas dengan tingkah lakunya.

"Kami suka membaca ini dan berharap bisa bereinkarnasi seperti tokoh utama. Membayangkan dikelilingi 5 laki-laki tampan, kaya, memiliki kekuatan dan berkuasa." timpal Hyein dengan pita merah yang mengikat di kemeja biru muda dengan rambut yang diikat, imajinasinya melayang tinggi.

"Harem?" ujar salah satu karyawan yang lain entah dari mana asalnya.

Sontak semua karyawan yang mendengarkan ucapan tersebut tertawa, fitrah wanita juga ingin dipuja. Sedangkan Claretta merasa bulu kudunya berdiri di satu sisi tingkah mereka membuat Claretta senang.

Sore hari dimana pekerjaan mereka telah selesai, Claretta yang sudah menyelesaikan semua tanggung jawabnya sebagai kepala divisi akhirnya keluar dari tempat kerjanya dan berniat untuk mengabari ibunya.

Claretta ingat berjanji akan menelpon untuk menanyakan kabar dan pergi berkunjung kerumah ibunya. Lift pun berhenti dan Claretta berbicara di telepon.

"Halo, Ibu? Bagaimana kabarmu?" tanya Claretta.

"Apakah kau sudah pulang kerumah?" jawabnya dari seberang.

"Aku baru keluar dari tempat kerja dan akan berkunjung." ujar Claretta.

"Ayah dan saudara-saudaramu tidak jadi ke rumah, jadi tidak perlu khawatir dan besok kamu juga bekerja."

Mendengar kabar baik, Claretta merasa lega dan hari ini ibunya pasti dalam keadaan baik-baik saja.

"Baiklah bu, tapi saya akan mengirimkan uang untuk Ibu di rumah." sambil berusaha menahan helaan nafas.

"Ya, terima kasih. Jangan lupa dengan kebutuhanmu juga di sana." jawab ibu Claretta.

Lift Pun berhenti membuka pintu dengan lebar dan Claretta berhambur keluar bersama pegawai lainnya.

"Ya Ibu, aku beruntung bisa bekerja di sini dan terimakasih karena Ibu selalu ada untuk menemaniku." Berjalan keluar gedung, dia melihat senja sangat cantik hari ini.

"Seharusnya Ibu yang berterima kasih karena kamu terlahir dari Ibu dan menjadi sahabat Ibu."

Segera Claretta menyeka air matanya dan percakapan mereka ditutup dengan salam perpisahan sayang dari seorang ibu kepada anak perempuannya.

Untuk mengilangkan rasa sedihnya, Claretta ingat dengan restauran milik teman yang pernah dia bantu karena pencurian asuransi yang hampir dibawa kabur oleh orang yang tidak dikenal. Claretta berniat mendatangi restoran Kareen, menghentikan sebuah taksi untuk pergi ke restoran miliknya.

Claretta Pun beranjak keluar setelah menikmati restoran ayam berlemak, selama di restoran, Kareen tidak berhenti membujuk Claretta membaca cerita novel yang dibahas kantornya tadi pagi dengan jengkel akhirnya Claretta membaca novel hingga selesai.

Hari sudah semakin larut dia berjalan menuju kasir di mana ibu Kareen yang bertugas menjaga meja.

"Malam, berapa semua Bibi?" tanya Claretta sembari bersiap mengeluarkan aplikasi pembayaran melalui ponsel.

"Claretta. Lama tidak melihatmu? Bagaimana keadaan Ibumu?" tanya ibu Kareen membersihkan tangannya yang berminyak dengan kain lap yang melingkar di pinggangnya.

"Ibu, baik-baik saja" jawab Claretta dengan senang.

"Tidak usah, itu traktir dari kami." menolak pembayaran Claretta.

"Tidak saya ingin membayarnya Bibi." Sahutnya sedikit memaksa.

"Tidak apa-apa, lain kali ajak Ibumu nanti kau boleh membayarkan untuk itu," jawabnya sambil tersenyum.

"Terima kasih banyak, Bibi. Semoga restorannya lancar dan ramai dengan pengunjung." ucap Claretta penuh haru.

Dia pergi meninggalkan sambil membungkukkan badanya.

"Sama-sama." sahutnya dan sosok Claretta sudah hilang dari balik pintu kaca diikuit suara khas lonceng berbunyi.

Claretta Pun keluar dari restoran tersebut, apartemen dan jarak restoran hanya sekitar 10 menit berjalan kaki meskipun begitu dia dalam keadaan mabuk, berusaha keras untuk berjalan menuju apartemen miliknya.

Claretta tidak menyadari bahwa sekitar 5 menit yang lalu sudah ada seseorang yang mengikuti dirinya dari jalan seberang mengambil celah dan terus mengikutinya.

JLEB!! SRAT!! Suara itu terdengar ketika Claretta sudah ditusuk oleh orang aneh dengan menggunakan topi dan jaket. Melihat Claretta yang masih berdiri, pria itu hendak menusuknya lagi.

Melihat kedatangan serangan Claretta bersiap mengambil senjata panjang yang selalu dia bawa dalam kantong saku, yang lebih mirip tongkat pemandu orang buta yang bisa dilipat.

Dengan sekuat tenaga dia memukul dengan keras kepala orang tersebut sehingga topi yang dipakai terjatuh. Claretta melihat sosok yang dia kenal. Dia adalah karyawan laki-laki yang menyebarkan gosip buruk tentangnya.

Laki-laki itu terjatuh tersungkur, melihat sebuah batu di dekatnya dia langsung melemparkan batu lalu mengenai kepala, Claretta menahan rasa sakit, darah mulai mengucur dari kepala, mabuk membuat kesadarannya mulai kabur. Pria itu lari meninggalkan Claretta yang sudah ambruk dan merasa yakin telah membunuhnya.

Claretta sendirian terbaring di tempat sepi. Muncul kembali dalam benaknya bahwa memang laki-laki bukanlah makhluk yang patut dikasihani dengan kebejatan serta kengisan yang tiada tara. Bahkan nafsu durjana membawa seseorang ke dalam neraka.

Claretta bertekad tidak akan menikah dan ingin hidup bersama ibunya untuk selamanya.

Angin malam terasa dingin, rasa sakit pada bagian perut dan kepala membuatnya sulit untuk bergerak. Claretta berusaha membuka ponsel untuk menelpon nomor darurat.

Beruntung respon yang cepat, akhirnya Claretta berhasil menelpon rumah sakit dan tidak berselang lama suara sirine berbunyi keras, orang-orang sudah berkumpul dan sebuah ambulan datang mendekat petugas berhambur keluar. Sedangkan penglihatan Claretta mulai samar, hembusan nafasnya mulai terasa berat dan dingin.

Kulit merasakan hawa dingin membuat Claretta ingin segera membuka mata. Claretta terbangun dengan langit-langit yang aneh, terlihat gypsum-gypsum mewah dan besar. Terpampang lampu hias besar, corak langit malaikat-malaikat kecil bertelanjang dada. Dia terkejut dan melempar selimut yang dia pakai.

Meraba bagian perut yang semalam tertusuk dan tiidak terasa apa-apa. Claretta loncat dari tempat tidurnya. Merasa asing dengan barang-barang di sekitar.

"Apakah selera rumah sakit telah berbeda? Suka dengan gaya klasik beserta ornamen-ornamen tua!" Claretta melihat ke arah bunga di dalam vas.

Claretta berlari keluar ruangan tersebut ada seorang pria paruh baya yang menghadang dirinya di depan pintu. Kebenciannya muncul kembali, Claretta lari dan mendorong laki-laki dengan kuat hingga terjatuh. Melihat hanya ruangan-ruangan besar dengan ukiran antik, lukisan aneh dan patung-patung setengah badan.

"Tuan, mau pergi kemana?" sahut seseorang kepadanya.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Altair Onder de Altair Onder de Lyxn Adventure
“"Kau sudah tiba?" tanyanya. Perempuan itu adalah sosok Claretta yang sangat Altair rindukan. "Altair?" ucap Altair. Perempuan itu tertawa kecil dengan menutupi mulut dengan tangannya. "Terdengar aneh jika seseorang memanggilku dengan namaku sendiri," ujar Claretta. "Mungkin banyak pertanyaan yang akan kamu lontarkan kepadaku," ungkap Claretta, "tapi sebelum itu tolong Altair, terbiasalah dengan tubuhmu yang baru, aku sudah lelah dengan tuntutan sebagai penerus pengendali Mana, yang aku inginkan hanya bagaimana rasa memiliki seorang ibu." sambung Claretta. Claretta menengadahkan wajahnya ke langit. "Kau pasti tahu banyak informasi tentang duniaku sekarang karena kau adalah orang yang cerdas dan tangguh," ujar Claretta lagi melihat wajah Altair. Wajah mereka saling menatap Altair tidak bisa membalas perkataan Claretta Altair yang merasa tidak adil dengan pertukaran tubuh seenaknya yang dilakukan dewa kepada mereka berdua. Muncul perasaan iba di dalam benak mereka masing-masing seperti mengerti rasa sakit, penderitaan mereka dan kesedihan. Claretta mengambil kedua tangan Altair, air matanya tidak bisa dibendung. Dengan tersenyum Claretta berkata,"Mungkin karena aku sudah berada di tubuh seorang wanita jadi perasaanku menjadi lebih sedikit sensitif." "Maukah kamu merelakan hidup kita yang sekarang?" tanya Claretta dengan harap. Altair menggenggam tangan wanita kecil itu, kini hati Altair menjadi goyah karena sebelum dirinya bertemu dengan pemilik asli tubuh Altair, dia berniat untuk memukul kepala orang tersebut yang dengan sesuka hati meminta kepada dewa untuk menukarkan tubuhnya tanpa izin. Angin sejuk berhembus, menerbangkan beberapa kelopak bunga di sekitar mereka mengibaskan rambut panjang milik Claretta. "Ternyata, aku sangat cantik." batin Altair. Altair meletakkan tangannya di atas kepala Claretta dan membelai kepalanya seraya berkata, "tidak apa-apa." ucap Altair dengan tenang. Akhirnya mereka saling mengikhlaskan satu sama lain dan memutuskan untuk menjalani kehidupan mereka sekarang masing-masing, mereka terpisah oleh sebuah cahaya. "Aku akan menjaga ibumu Altair sebagaimana ibuku sendiri karena aku sangat menyayanginya." ujar Claretta yang hanya terdengar suara.”
1

Bab 1 Chapter 1

09/12/2021

2

Bab 2 Chapter 2

09/12/2021

3

Bab 3 Chapter 3

09/12/2021

4

Bab 4 Chapter 4

09/12/2021

5

Bab 5 Chapter 5

09/12/2021

6

Bab 6 Chapter 6

11/12/2021

7

Bab 7 Chapter 7

12/12/2021

8

Bab 8 Chapter 8

13/12/2021

9

Bab 9 Chapter 9

14/12/2021

10

Bab 10 Chapter 10

15/12/2021

11

Bab 11 Chapter 11

20/12/2021

12

Bab 12 Chapter 12

20/12/2021

13

Bab 13 Chapter 13

22/12/2021

14

Bab 14 Chapter 14

23/12/2021

15

Bab 15 Chapter 15

24/12/2021

16

Bab 16 Chapter 16

26/12/2021

17

Bab 17 Chapter 17

28/01/2022

18

Bab 18 Chapter 18

29/01/2022

19

Bab 19 Chapter 19

30/01/2022

20

Bab 20 Chapter 20

31/01/2022

21

Bab 21 Chapter 21

01/02/2022

22

Bab 22 Chapter 22

02/02/2022

23

Bab 23 Chapter 23

03/02/2022

24

Bab 24 Chapter 24

04/02/2022

25

Bab 25 Chapter 25

05/02/2022

26

Bab 26 Chapter 26

06/02/2022

27

Bab 27 Chapter 27

07/02/2022

28

Bab 28 Chapter 28

08/02/2022

29

Bab 29 Chapter 29

09/02/2022

30

Bab 30 Chapter 30

10/02/2022

31

Bab 31 Chapter 31

11/02/2022

32

Bab 32 Chapter 32

12/02/2022

33

Bab 33 Chapter 33

13/02/2022

34

Bab 34 Chapter 34

14/02/2022

35

Bab 35 Chapter 35

15/02/2022

36

Bab 36 Chapter 36

16/02/2022

37

Bab 37 Chapter 37

17/02/2022

38

Bab 38 Chapter 38

18/02/2022

39

Bab 39 Chapter 39

19/02/2022

40

Bab 40 Chapter 40

20/02/2022