icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Altair Onder de

Bab 4 Chapter 4

Jumlah Kata:1316    |    Dirilis Pada: 09/12/2021

ir yang melihat ke arah bendera dengan lambang keluarga Duke Onder de sedang berkibar d

eberapa orang, lengkap dengan baju zirah dan senjata ya

n tersebut dan mulai berjalan kembali meninggalkan

gan dengan seorang pelayan." ucap seseorang dengan tubuh be

bahak-bahak mendengar komanda

g akan mengikuti sesuai jalu

gajak mereka berduel. Apa karena sebab rasa benci laki-laki atau karena memang pemilik tubuh ini ti

pedang kayu yang biasa digunakan untuk berlatih pedang,

r, tameng, baju besi dan masih banyak lagi. Mary yang tidak beranj

idak mengalami sesua

edang, bukan dengan adu mulut." kata Altair memb

tuk berduel, karena Claretta ingin melihat reaksi bagaimana tu

muncul dalam benaknya perasaan yang lebih memilukan adalah Altair belum pernah

bermain dengan banyak wanita cantik, baik dari kalang

sekalipun kasus yang memprotes atau menuntutnya hingga

n ksatria penyihir, sedangkan mereka tidak akan sekalipun peduli dengan kematiannya." kata komandan tersebu

mulai." tambahnya

mbil pedang. Berjalan dengan angkuh dan memutar-mutark

berdiri deng

g yang berada di tengah tanah lapang unt

ertarungan mencari tempat untuk berted

engenai lawan hingga terluka dia adala

nya dengan seny

n dan mulai mengayunkan pedang yang berada di tangannya, serangan dari Altair dapat dibaca dan dih

bertenaga. Altair yang masih muda tidak pernah menggunakan pedang untu

di bagian dada Altair. Altair juga menghindari serangan pedang kom

atria semakin bersorak-sorak ada beberapa pelayan berhen

ha menghindar, menjaga jarak dan mempe

dengan senang hati menebas kakimu supaya kau tidak bisa da

wannya. Altair merasa tubuhnya panas, napas pun mulai t

an karena sinar matahari," ucap batin Altair

l tersebut karena dari pertandingan wajahnya memperlihatkan senyuman ingin menebas tubu

kali lagi gerakan Altair dapat mudah dibaca lawan

untuk menyerang bagian vital se

bagian vital komandan pasukan juga berusaha menghindar

erakan satu ayunan pedang, tatapan seolah tidak ingin ada y

, diiringi suara teriakan yang tidak ada habisnya. Duke Leon memperhat

awannya mulai berlari melakukan serangan lagi ketika pedang mere

ING

ING

dang milik mereka. Altair menekan keras dan

endekati lawan dengan cepat, sayangnya kaki Altair tergelincir mengenai batu

an kaki lawannya yang sedang berusaha berdiri. Altair yang berusaha berdiri deng

erkejut menahan nafas membuatnya

t menikmati pertarungan duel yang terjadi di depan mereka. Altai

NG

nduk berusaha untuk berdiri. Pedang yang berusaha menebus lingk

untuk menembus lingkaran sihir perisai di depannya. Lingkaran sihir y

tersenyum. Dia tahu bahwa sejak usia 10 tahun, calon penerus 5 penyegel Ma

untuk melindungi mereka dari serangan ma

kup aman setelah melihat lingkar

a untuk melapisi seluruh pedang miliknya berw

mandan dengan menye

air yang sudah berdiri kembal

menembus perisai membuat lingkaran sihir p

an menjadi lebih kuat dan ce

enebas leher Altair. Altair yang melihat hal terseb

aja menyerang Altair dari belakang yang hampir kehilangan konsent

lang dari pandangan, mengarahk

ngeluarkan darah, pedang yang berada di genggaman

an kekuatan Mana milik komandan dan akhirnya memotong

digerakkan komandan akhirnya melepa

orang-orang yang berada di sekita

s, air matanya mulai mengali

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Altair Onder de
Altair Onder de
“"Kau sudah tiba?" tanyanya. Perempuan itu adalah sosok Claretta yang sangat Altair rindukan. "Altair?" ucap Altair. Perempuan itu tertawa kecil dengan menutupi mulut dengan tangannya. "Terdengar aneh jika seseorang memanggilku dengan namaku sendiri," ujar Claretta. "Mungkin banyak pertanyaan yang akan kamu lontarkan kepadaku," ungkap Claretta, "tapi sebelum itu tolong Altair, terbiasalah dengan tubuhmu yang baru, aku sudah lelah dengan tuntutan sebagai penerus pengendali Mana, yang aku inginkan hanya bagaimana rasa memiliki seorang ibu." sambung Claretta. Claretta menengadahkan wajahnya ke langit. "Kau pasti tahu banyak informasi tentang duniaku sekarang karena kau adalah orang yang cerdas dan tangguh," ujar Claretta lagi melihat wajah Altair. Wajah mereka saling menatap Altair tidak bisa membalas perkataan Claretta Altair yang merasa tidak adil dengan pertukaran tubuh seenaknya yang dilakukan dewa kepada mereka berdua. Muncul perasaan iba di dalam benak mereka masing-masing seperti mengerti rasa sakit, penderitaan mereka dan kesedihan. Claretta mengambil kedua tangan Altair, air matanya tidak bisa dibendung. Dengan tersenyum Claretta berkata,"Mungkin karena aku sudah berada di tubuh seorang wanita jadi perasaanku menjadi lebih sedikit sensitif." "Maukah kamu merelakan hidup kita yang sekarang?" tanya Claretta dengan harap. Altair menggenggam tangan wanita kecil itu, kini hati Altair menjadi goyah karena sebelum dirinya bertemu dengan pemilik asli tubuh Altair, dia berniat untuk memukul kepala orang tersebut yang dengan sesuka hati meminta kepada dewa untuk menukarkan tubuhnya tanpa izin. Angin sejuk berhembus, menerbangkan beberapa kelopak bunga di sekitar mereka mengibaskan rambut panjang milik Claretta. "Ternyata, aku sangat cantik." batin Altair. Altair meletakkan tangannya di atas kepala Claretta dan membelai kepalanya seraya berkata, "tidak apa-apa." ucap Altair dengan tenang. Akhirnya mereka saling mengikhlaskan satu sama lain dan memutuskan untuk menjalani kehidupan mereka sekarang masing-masing, mereka terpisah oleh sebuah cahaya. "Aku akan menjaga ibumu Altair sebagaimana ibuku sendiri karena aku sangat menyayanginya." ujar Claretta yang hanya terdengar suara.”