icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Altair Onder de

Bab 5 Chapter 5

Jumlah Kata:1365    |    Dirilis Pada: 09/12/2021

enjatuhkan pedang. Altair menahan luka di leher dengan

akan bahwa dirinya sudah kalah dalam pertarungan. Koman

iri dan melihat lu

ya tergores." jawab Altair seb

bat cair di atasnya memberikan sapu tangan itu kepadany

terduduk karena lingkaran sihir Mana menyerap

menghilangkan gemetar diseluruh t

ng para leluhur terdahulu." ucap komandan l

datangan komandan yang

ja?" tanya Altair yang sudah da

h tanda bahwa duel sudah berakhir."

uk mengalahkan komandan pasukan sepertiku." imbuhnya la

awa panas dalam tubuh Altair sudah mereda dan dia beran

eristirahat ke kamar." s

ni. Ada banyak hal yang harus aku cari di sa

ragu. Altair berjalan di depan meninggalkan Mary sendiri. Mary b

an lapang luas yang hanya ditumbuhi bunga peri berwarna putih berbentuk

di sana. Angin sejuk terasa di kulit. Sejauh mata memandang terlihat po

berdiri dengan kokoh. Umur bangunan tersebut pasti lebih tua daripada usia Altair sendiri kare

berada di sana untuk bekerja dan melakukan penelitian. Di sana ada beberapa pe

eperti tadi siang tuan." imbuh Mar

y. Tenang saja. Kali ini aku tidak aka

kuran tinggi sekitar 5 meter yang sedang tertutup rapat. Di sebelah pintu masuk

. Mary mengikuti dari belakang. Mereka langsung disa

denganku masuk ke menara ini?" tanya

tuan," jawab Ma

nyihir. Terkadang kami sampai kembali larut malam dan baru keluar dari menara. Sekedar me

hir sedang melakukan uji coba dan terlihat juga melakukan eksper

r cairan berada dalam gelas kaca s

a terdapat rak buku besar nan luas menutupi tembok usang berwarna abu-abu. Melihat kedata

pertama adalah ruang orang-orang yang tadi mereka lihat, lantai 2

i sekaligus tempat dia bekerja. Mengamati semua pergerakan

ngga kembali. Di Sekeliling mereka sekarang terdapat obor-obor ap

kitpun. Ada yang mengikuti Mary di belakang ada pula yang terbang mendekati bahu Altair dan

jendela besar di depan, tengah terbuka dan menyila

rna silver berkilauan sedang tertutup. Berhiaskan beberapa ruby da

nci yang hanya bisa diakses oleh keturunan Onder de dengan m

oleh orang yang bukan keturunan asli Onder de,

unci itu, Altair yang merasa harus meletakkan telap

untuk mendekat baik para penyihir ataupun pela

g menghiasi pintu besar bersinar sesuai dengan warna asli mereka, terdengar gigi mesin berputar keras d

ersusun dan tertata rapi dengan lemari-lemari besar di rak buku

an Mana sihir segel buku-buku di sana masih terjaga

ini tuan karena kami dilarang mendekati ruanga

gantarkanku sampai kesini" sambung

dan mulai hilang hingga tidak terl

dung. Ruangan yang lembab dan pengap beruntung cah

ntu yang tertutup sendiri untuk menjaga orang

Membuka salah satu jendela agar tidak pengap terlihat pemandangan luas de

an sapu tangan yang terikat di l

ir mengambil beberapa dengan menaiki tangga perpustakaan buku seperti sej

ke dalam ruangan melalui salah satu ornamen peca

Altair berharap salah satu buku di sini bisa

adi kotor akibat debu dan darah, tidak

di sana. Meja dan kursi yang terbuat dari kayu jati

n beludru berwarna merah tua yang mewah dikelilin

ntuk penyandar kursi. Ukiran kayunya pun sangat antik mirip aks

membaca buku-

a Pengendali Mana memiliki sebutan serta kekuatan sendiri yaitu: Mana

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Altair Onder de
Altair Onder de
“"Kau sudah tiba?" tanyanya. Perempuan itu adalah sosok Claretta yang sangat Altair rindukan. "Altair?" ucap Altair. Perempuan itu tertawa kecil dengan menutupi mulut dengan tangannya. "Terdengar aneh jika seseorang memanggilku dengan namaku sendiri," ujar Claretta. "Mungkin banyak pertanyaan yang akan kamu lontarkan kepadaku," ungkap Claretta, "tapi sebelum itu tolong Altair, terbiasalah dengan tubuhmu yang baru, aku sudah lelah dengan tuntutan sebagai penerus pengendali Mana, yang aku inginkan hanya bagaimana rasa memiliki seorang ibu." sambung Claretta. Claretta menengadahkan wajahnya ke langit. "Kau pasti tahu banyak informasi tentang duniaku sekarang karena kau adalah orang yang cerdas dan tangguh," ujar Claretta lagi melihat wajah Altair. Wajah mereka saling menatap Altair tidak bisa membalas perkataan Claretta Altair yang merasa tidak adil dengan pertukaran tubuh seenaknya yang dilakukan dewa kepada mereka berdua. Muncul perasaan iba di dalam benak mereka masing-masing seperti mengerti rasa sakit, penderitaan mereka dan kesedihan. Claretta mengambil kedua tangan Altair, air matanya tidak bisa dibendung. Dengan tersenyum Claretta berkata,"Mungkin karena aku sudah berada di tubuh seorang wanita jadi perasaanku menjadi lebih sedikit sensitif." "Maukah kamu merelakan hidup kita yang sekarang?" tanya Claretta dengan harap. Altair menggenggam tangan wanita kecil itu, kini hati Altair menjadi goyah karena sebelum dirinya bertemu dengan pemilik asli tubuh Altair, dia berniat untuk memukul kepala orang tersebut yang dengan sesuka hati meminta kepada dewa untuk menukarkan tubuhnya tanpa izin. Angin sejuk berhembus, menerbangkan beberapa kelopak bunga di sekitar mereka mengibaskan rambut panjang milik Claretta. "Ternyata, aku sangat cantik." batin Altair. Altair meletakkan tangannya di atas kepala Claretta dan membelai kepalanya seraya berkata, "tidak apa-apa." ucap Altair dengan tenang. Akhirnya mereka saling mengikhlaskan satu sama lain dan memutuskan untuk menjalani kehidupan mereka sekarang masing-masing, mereka terpisah oleh sebuah cahaya. "Aku akan menjaga ibumu Altair sebagaimana ibuku sendiri karena aku sangat menyayanginya." ujar Claretta yang hanya terdengar suara.”