Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

Samuel Andi

5.0
Komentar
Penayangan
26
Bab

Setelah ditinggal meninggal dunia suaminya dan bayi yang belum sempat lahir, Nadira Arsyad terpaksa mengambil keputusan berat: menjadi ibu pengganti bagi anak dari seorang penguasa mafia yang terkenal dingin dan kejam, Rafhael Satrio. Dunia Nadira yang sebelumnya tenang kini penuh dengan intrik, ketakutan, dan rahasia gelap yang membayangi setiap langkahnya. Di sisi lain, hati Nadira mulai merasakan getaran yang tak ia mengerti saat dekat dengan Rafhael. Namun, rasa cintanya tertutupi oleh rasa bersalah dan dendam yang membara. Ternyata, Rafhael mengetahui fakta mengejutkan: suami Nadira dulu, Alfian Prakoso, memiliki andil dalam kematian istrinya sendiri karena konflik bisnis yang fatal. Tak hanya itu, Nadira pun menyadari kenyataan pahit: Rafhael-lah yang seharusnya bisa menolong suaminya saat kritis, tapi terlambat karena urusan keluarga dan bisnis yang rumit, sehingga kematian suaminya tak terhindarkan. Kini, di tengah ketegangan antara cinta dan dendam, Nadira dan Rafhael harus memutuskan: apakah mereka akan menemukan jalan untuk saling memaafkan dan mencintai, ataukah rasa sakit dan pengkhianatan akan mengubah mereka menjadi musuh abadi?

Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua Bab 1 menenangkan hatinya yang hancur

Hujan turun dengan deras di kota yang jarang tidur itu. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, menciptakan bayangan yang seolah menari-nari di trotoar yang basah. Di sebuah apartemen kecil di lantai sepuluh, Nadira Arsyad duduk membeku di depan jendela, menatap tetesan hujan yang menetes perlahan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang hancur.

Dua minggu yang lalu, dunia Nadira runtuh. Suaminya, Alfian Prakoso, meninggal secara tragis dalam kecelakaan yang tak pernah ia sangka. Dan lebih memilukan lagi, bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan juga tak sempat melihat dunia ini. Rasa sakit itu begitu menyiksa, seakan setiap sel dalam tubuhnya menjerit memanggil kedua orang yang dicintainya itu.

"Kenapa... kenapa semuanya harus begini?" bisik Nadira pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derasnya hujan. Matanya memerah, namun air mata tak lagi menetes. Hatinya sudah kebal, atau mungkin terlalu lelah untuk menangis lagi.

Tiba-tiba, dering teleponnya memecah kesunyian apartemen itu. Nadira menatap layar, dan seketika wajahnya mengeras. Nomor yang muncul di layar bukan nomor biasa. Itu nomor Rafhael Satrio.

Rafhael-nama yang sudah cukup menakutkan bagi siapa pun yang mengenalnya. Pria itu dikenal sebagai ketua salah satu jaringan mafia paling berpengaruh di kota ini. Kejam, dingin, dan tanpa ampun bagi siapa saja yang menghalangi jalannya. Namun anehnya, saat ini, dia menelpon Nadira.

Dengan tangan gemetar, Nadira mengangkat telepon. "Halo?" suaranya terdengar tegang.

"Selamat malam, Nadira," suara di seberang terdengar tenang tapi berat, seperti gelap yang melingkupi ruangan. "Aku datang menemuimu. Sekarang."

Nadira menelan ludah. "Kenapa? Aku... aku tidak ingin bertemu denganmu, Rafhael."

"Ini bukan permintaan. Aku tidak suka menunggu," kata Rafhael singkat. Nada bicaranya dingin, tegas, dan tak memberi ruang untuk keberatan.

Hati Nadira berdetak kencang. Ia tahu menolak bukanlah pilihan. Di dalam hatinya, ia juga tahu bahwa ini akan mengubah hidupnya selamanya. Dengan berat hati, ia menggenggam jaketnya dan berjalan menuju mobil yang terparkir di bawah. Hujan tak menghalanginya; hatinya sudah terlalu basah oleh air mata untuk peduli lagi.

Mobil mewah hitam milik Rafhael menunggu di lobi apartemen. Begitu Nadira masuk, Rafhael menyipitkan matanya, memeriksa setiap detail di wajahnya. Nadira merasakan tatapannya seperti pisau yang menembus tulang.

"Kau tahu alasan aku memanggilmu?" tanya Rafhael saat mobil meluncur di jalanan basah.

Nadira menunduk, menahan amarah dan rasa takutnya. "Aku bisa menebaknya," jawabnya singkat.

Rafhael diam, hanya menghela napas panjang. "Anakku... kau akan merawatnya."

Nadira menatapnya, tak percaya. "Maaf? Apa maksudmu?"

Rafhael menoleh, matanya yang gelap menatap tajam. "Suamiku... aku tidak akan mengatakan itu lagi. Kau akan menjadi ibu pengganti untuk anakku. Tidak ada diskusi. Tidak ada penolakan."

Nadira terdiam, napasnya tertahan. Kata-kata itu seperti pukulan di perutnya. Bagaimana mungkin ia-yang baru saja kehilangan segalanya-harus mengurus anak seorang pria yang ia bahkan tak kenal sebelumnya, seorang pria yang dingin dan menakutkan itu?

"Tapi aku... aku bukan siapapun yang bisa menggantikan ibu anakmu," gumam Nadira, suaranya bergetar.

"Tidak masalah. Kau tidak punya pilihan," jawab Rafhael, dan kata-katanya itu tidak bisa diganggu gugat.

Dalam perjalanan itu, Nadira merasa dunia semakin gelap. Hatinya berontak, tubuhnya menolak. Namun di dalam, ada sesuatu yang membuatnya tetap bergerak-anak itu. Anak yang tak bersalah, yang entah kenapa nasibnya kini terikat dengan kehidupannya sendiri.

Malam itu, Nadira sampai di mansion Rafhael. Gedung besar itu berdiri kokoh di tengah hujan, dikelilingi oleh pagar tinggi dan penjagaan ketat. Begitu ia memasuki ruangan, Rafhael sudah menunggunya di ruang keluarga, duduk di kursi besar dengan postur yang selalu menimbulkan rasa takut. Di pangkuannya, seorang bayi kecil tidur, wajahnya lucu namun tak berdosa.

"Namanya... Arka," kata Rafhael. "Sejak ibunya meninggal, dia hanya mengenalku sebagai ayahnya. Dan kau... kau akan menjadi ibunya."

Nadira menatap bayi itu, hatinya terasa tertusuk. Bayi ini mengingatkannya pada anak yang tak pernah ia lahirkan. Tangannya gemetar saat ia mendekat, dan Rafhael meletakkan bayi itu di pelukannya. Arka menatapnya dengan mata yang jernih dan polos, seakan mengenali sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

"Jangan coba menolak," Rafhael menegaskan. "Jika kau menolak, konsekuensinya... kau tidak ingin tahu."

Nadira menelan ludah, menatap Arka. "Baik... aku akan merawatnya. Tapi jangan harap aku akan mencintaimu, atau bahkan menyukai situasiku ini," bisiknya.

Rafhael tersenyum tipis, dingin. "Aku juga tidak mengharapkan itu. Tapi kau harus bisa bertahan."

Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Nadira. Rafhael jarang menunjukkan sisi lembutnya; ia tegas, dingin, dan kadang kejam jika Arka tidak menurut. Nadira, yang baru belajar menjadi ibu, sering kewalahan. Setiap tangisan Arka membuat hatinya hancur, namun ia berusaha tetap kuat, menyembunyikan kesedihan pribadinya.

Namun, di balik sikap keras Rafhael, ada sesuatu yang mulai ia rasakan. Perhatian kecil yang ia tunjukkan, cara ia menatap Arka dengan lembut saat Nadira tak melihat, mulai membuka celah di hatinya. Nadira tidak ingin mengakuinya, tapi ada getaran aneh yang muncul setiap kali Rafhael tersenyum tipis padanya-senyum yang jarang muncul, tapi mampu membekas lama.

Suatu malam, ketika hujan turun lagi, Nadira menemukan Rafhael duduk sendirian di ruang kerjanya. Cahaya lampu redup menyoroti wajah tegangnya, mata gelapnya menatap jauh ke luar jendela. Nadira masuk perlahan, membawa secangkir teh hangat.

"Kau tidak tidur?" Nadira bertanya, suaranya pelan.

Rafhael menoleh. "Aku tidak bisa. Pikiranku... berantakan."

Nadira duduk di seberangnya, menaruh cangkir di meja. Ada jarak di antara mereka, tapi juga ketegangan yang sulit diabaikan. "Apakah... kau merasa bersalah?"

Rafhael menghela napas panjang. "Bukan rasa bersalah... tapi rasa kehilangan. Aku seharusnya bisa mencegah semuanya. Suamimu... ia seharusnya selamat. Tapi aku terlambat."

Nadira menahan napasnya. Kata-kata itu seperti pedang yang menembus hatinya. Ia tahu kebenaran itu-Rafhael-lah yang seharusnya bisa menolong suaminya ketika kecelakaan terjadi. Tapi mengetahui fakta itu tidak membuatnya membenci Rafhael; justru campuran amarah dan rasa sakit mulai bercampur dengan sesuatu yang tak ia pahami-rasa simpati, bahkan... mungkin ketertarikan.

"Dan aku juga... aku harus jujur padamu," lanjut Rafhael, suaranya lebih lembut. "Suamimu... ia memiliki andil dalam kematiannya. Konflik lama... membuat semuanya semakin buruk. Aku tidak ingin menyalahkanmu, tapi kau harus tahu kebenaran ini."

Nadira menunduk, air mata kembali menetes. Hatinya terasa hancur berkeping-keping-dendam, kesedihan, dan rasa cinta yang tak bisa ia kendalikan bercampur menjadi satu.

"Jadi... kita berdua... terluka karena satu sama lain," bisiknya. Suaranya bergetar.

Rafhael mengangguk, mata gelapnya menatap dalam. "Ya. Dan entah bagaimana, aku masih... tidak bisa membenci anakmu. Atau bahkan dirimu."

Nadira menatapnya, hati berdebar. Kata-kata itu seperti bom yang meledak perlahan di dadanya. Ia benci dirinya sendiri karena merasakannya. Bagaimana mungkin, dalam situasi yang penuh dendam dan kehilangan ini, hatinya bisa mulai merasakan sesuatu terhadap pria yang menyebabkan tragedinya?

Hari-hari berlalu, dan hubungan mereka menjadi rumit. Nadira merawat Arka dengan sepenuh hati, sementara Rafhael mulai membuka sisi lembutnya yang jarang terlihat orang. Mereka berdua hidup dalam ketegangan: satu sisi cinta yang perlahan tumbuh, satu sisi dendam dan rasa bersalah yang menghantui.

Pertanyaan besar selalu mengintai: apakah cinta mereka bisa bertahan, ataukah rasa sakit dan pengkhianatan akan mengubah mereka menjadi musuh selamanya?

Nadira menatap Arka yang tertidur di pelukannya, dan Rafhael yang berdiri di dekat jendela, menatap malam basah di luar. Hujan masih turun deras, seperti dunia yang ingin membersihkan segala dosa dan kesedihan. Tapi mereka tahu, membersihkan hati tidak semudah menyingkirkan air hujan.

Dan malam itu, Nadira menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus menenangkan: kehidupan barunya bersama Rafhael tidak akan pernah mudah. Tapi mungkin... hanya mungkin, cinta bisa lahir di antara luka dan rahasia yang mereka simpan.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Samuel Andi

Selebihnya
Ayah Mertuaku, Musuhku

Ayah Mertuaku, Musuhku

Romantis

5.0

Setelah kematian tragis suaminya, Laras merasa dunianya runtuh. Namun, keluarganya, terutama mertua, memperlakukannya dengan sangat hangat. Mereka seolah ingin menutupi kesedihan Laras dengan perhatian yang tulus, membuatnya merasa sedikit tenang di tengah duka yang mencekam. Di antara mereka, Rizqan, abang iparnya, selalu hadir dengan senyum yang lembut. Laras selalu mengira itu sekadar perhatian keluarga, tapi lama-kelamaan ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda di setiap tatapan Rizqan. Ada kehangatan dan kepedulian yang tak biasa, seolah menyembunyikan perasaan yang lebih dalam. Malam itu, hujan turun deras, dan Laras duduk sendiri di ruang tamu sambil menatap hujan yang membasahi kaca jendela. Rizqan masuk, membawa dua cangkir teh hangat. "Ini, biar hangat," katanya, suaranya lembut dan nada yang lebih dalam dari biasanya. Laras menerima cangkir itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Rizqan..." suaranya nyaris tak terdengar. Percakapan mereka mengalir begitu saja, ringan tapi penuh makna terselubung. Mereka tertawa, berbagi cerita masa lalu, dan tanpa disadari jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Saat larut malam, hujan tak kunjung berhenti, dan suasana menjadi semakin intim. Rizqan duduk lebih dekat, menatap Laras dengan tatapan yang tak bisa disembunyikan lagi. "Laras... aku... aku tidak bisa membohongi perasaanku lebih lama lagi," ucapnya, suaranya nyaris bergetar. Laras menatapnya, hatinya campur aduk antara takut dan rindu. Tanpa sadar, mereka tertarik satu sama lain, dan malam itu, dalam kesunyian rumah yang diterangi lampu redup, mereka membiarkan perasaan yang lama tertahan itu meledak-menghapus duka sejenak dengan kehangatan yang terlarang tapi nyata.

Buku serupa

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua Samuel Andi Romantis
“Setelah ditinggal meninggal dunia suaminya dan bayi yang belum sempat lahir, Nadira Arsyad terpaksa mengambil keputusan berat: menjadi ibu pengganti bagi anak dari seorang penguasa mafia yang terkenal dingin dan kejam, Rafhael Satrio. Dunia Nadira yang sebelumnya tenang kini penuh dengan intrik, ketakutan, dan rahasia gelap yang membayangi setiap langkahnya. Di sisi lain, hati Nadira mulai merasakan getaran yang tak ia mengerti saat dekat dengan Rafhael. Namun, rasa cintanya tertutupi oleh rasa bersalah dan dendam yang membara. Ternyata, Rafhael mengetahui fakta mengejutkan: suami Nadira dulu, Alfian Prakoso, memiliki andil dalam kematian istrinya sendiri karena konflik bisnis yang fatal. Tak hanya itu, Nadira pun menyadari kenyataan pahit: Rafhael-lah yang seharusnya bisa menolong suaminya saat kritis, tapi terlambat karena urusan keluarga dan bisnis yang rumit, sehingga kematian suaminya tak terhindarkan. Kini, di tengah ketegangan antara cinta dan dendam, Nadira dan Rafhael harus memutuskan: apakah mereka akan menemukan jalan untuk saling memaafkan dan mencintai, ataukah rasa sakit dan pengkhianatan akan mengubah mereka menjadi musuh abadi?”
1

Bab 1 menenangkan hatinya yang hancur

09/11/2025

2

Bab 2 Nadira Arsyad menggigil

09/11/2025

3

Bab 3 orang yang mengintai

09/11/2025

4

Bab 4 dekat perapian yang hangat

09/11/2025

5

Bab 5 menampar kesadaran

09/11/2025

6

Bab 6 pukul tangan tak kasat mata

09/11/2025

7

Bab 7 Malam ini akan menentukan segalanya

09/11/2025

8

Bab 8 Semua yang terjadi

09/11/2025

9

Bab 9 Kau khawatir

09/11/2025

10

Bab 10 terhenti untuk saat ini

09/11/2025

11

Bab 11 orang dekat

09/11/2025

12

Bab 12 bisa digunakan musuh

09/11/2025

13

Bab 13 Di belakangnya

09/11/2025

14

Bab 14 berani dan luas kali ini

09/11/2025

15

Bab 15 Kita akan melindungi Arka

09/11/2025

16

Bab 16 semua yang mereka cintai

09/11/2025

17

Bab 17 mansion kembali tenang

09/11/2025

18

Bab 18 Persiapan dimulai

09/11/2025

19

Bab 19 mengeringkan jas hujan

09/11/2025

20

Bab 20 Kau benar-benar yakin ini ide yang tepat

09/11/2025

21

Bab 21 membawa rasa cemas

09/11/2025

22

Bab 22 berantakan basah akibat hujan

09/11/2025

23

Bab 23 Sebetulnya saya tidak berhak bicara banyak

09/11/2025

24

Bab 24 mengambil flashdisk kecil

09/11/2025

25

Bab 25 mengenali cinta yang sejati

09/11/2025

26

Bab 26 menyimpan rahasia besar

09/11/2025