Samuel Andi
2 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Samuel Andi
Ayah Mertuaku, Musuhku
Romantis Setelah kematian tragis suaminya, Laras merasa dunianya runtuh. Namun, keluarganya, terutama mertua, memperlakukannya dengan sangat hangat. Mereka seolah ingin menutupi kesedihan Laras dengan perhatian yang tulus, membuatnya merasa sedikit tenang di tengah duka yang mencekam.
Di antara mereka, Rizqan, abang iparnya, selalu hadir dengan senyum yang lembut. Laras selalu mengira itu sekadar perhatian keluarga, tapi lama-kelamaan ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda di setiap tatapan Rizqan. Ada kehangatan dan kepedulian yang tak biasa, seolah menyembunyikan perasaan yang lebih dalam.
Malam itu, hujan turun deras, dan Laras duduk sendiri di ruang tamu sambil menatap hujan yang membasahi kaca jendela. Rizqan masuk, membawa dua cangkir teh hangat. "Ini, biar hangat," katanya, suaranya lembut dan nada yang lebih dalam dari biasanya.
Laras menerima cangkir itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Rizqan..." suaranya nyaris tak terdengar.
Percakapan mereka mengalir begitu saja, ringan tapi penuh makna terselubung. Mereka tertawa, berbagi cerita masa lalu, dan tanpa disadari jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Saat larut malam, hujan tak kunjung berhenti, dan suasana menjadi semakin intim. Rizqan duduk lebih dekat, menatap Laras dengan tatapan yang tak bisa disembunyikan lagi.
"Laras... aku... aku tidak bisa membohongi perasaanku lebih lama lagi," ucapnya, suaranya nyaris bergetar.
Laras menatapnya, hatinya campur aduk antara takut dan rindu. Tanpa sadar, mereka tertarik satu sama lain, dan malam itu, dalam kesunyian rumah yang diterangi lampu redup, mereka membiarkan perasaan yang lama tertahan itu meledak-menghapus duka sejenak dengan kehangatan yang terlarang tapi nyata. Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua
Romantis Setelah ditinggal meninggal dunia suaminya dan bayi yang belum sempat lahir, Nadira Arsyad terpaksa mengambil keputusan berat: menjadi ibu pengganti bagi anak dari seorang penguasa mafia yang terkenal dingin dan kejam, Rafhael Satrio. Dunia Nadira yang sebelumnya tenang kini penuh dengan intrik, ketakutan, dan rahasia gelap yang membayangi setiap langkahnya.
Di sisi lain, hati Nadira mulai merasakan getaran yang tak ia mengerti saat dekat dengan Rafhael. Namun, rasa cintanya tertutupi oleh rasa bersalah dan dendam yang membara. Ternyata, Rafhael mengetahui fakta mengejutkan: suami Nadira dulu, Alfian Prakoso, memiliki andil dalam kematian istrinya sendiri karena konflik bisnis yang fatal.
Tak hanya itu, Nadira pun menyadari kenyataan pahit: Rafhael-lah yang seharusnya bisa menolong suaminya saat kritis, tapi terlambat karena urusan keluarga dan bisnis yang rumit, sehingga kematian suaminya tak terhindarkan.
Kini, di tengah ketegangan antara cinta dan dendam, Nadira dan Rafhael harus memutuskan: apakah mereka akan menemukan jalan untuk saling memaafkan dan mencintai, ataukah rasa sakit dan pengkhianatan akan mengubah mereka menjadi musuh abadi? Anda mungkin suka
Kutandatangani Surat Cerai, Dia Kehilangan Segalanya
Jasper Night Selama dua tahun, aku memainkan peran sebagai istri yang sempurna, bodoh, dan penurut untuk miliarder Baskara Adiputra.
Namun malam ini, dia melemparkan draf perceraian ke hadapanku karena cinta pertamanya, Jasmine, telah kembali dalam keadaan sakit.
Baskara menatapku seolah aku adalah noda menjijikkan, memberiku kompensasi murah dan menyebutku pemburu harta yang tidak tahu diri.
Keluarganya ikut menghinaku habis-habisan di acara makan malam, sementara Jasmine dengan licik memalsukan kecelakaan mobil untuk menjebakku atas tuduhan percobaan pembunuhan.
Baskara membela wanita itu mati-matian, berteriak menyuruh polisi menangkapku, dan mengusirku dari pandangannya.
Dia mengira aku akan hancur, menangis, dan memohon untuk tidak dibuang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa rekam medis Jasmine adalah pemalsuan tingkat tinggi, dan ada dalang yang mendanai penipuan ini dari balik layar.
Alih-alih menangis, aku menatap matanya dengan tenang.
"Aku ingin penthouse ini, lima persen saham perusahaanmu, dan tunjanganku digandakan."
Setelah memeras kekayaannya dan menandatangani surat cerai, aku kembali ke kamar, membuka brankas rahasia di balik lemari, dan mengeluarkan pistol Glock 19 serta laptop terenkripsiku. Waktunya berhenti bermain rumah-rumahan.