5.0
Komentar
1.2K
Penayangan
20
Bab

Winarsih, seorang wanita yang sedang mengandung, ditinggalkan oleh suaminya. Awalnya suaminya pamit untuk berangkat kerja ke luar kota. Sekian lama menanti, Robby, suami Winarsih tidak pernah kembali. Ia menghilang tanpa kabar. Lalu Winarsih mencoba mencari suaminya, namun tak ia temukan. Akhirnya wanita itu putus asa, Robby adalah satu-satunya keluarga yang ia punya, karena orang tuanya telah lama meninggal. Lalu bagaimana Winarsih menjalani hidupnya? Kemana sebenarnya Robby pergi?

Bab 1 Kemana Kan Ku Cari

"Mas pergi dulu ya, Sayang!" ucap Mas Roby sebelum ia pergi.

"Baik-baik di rumah, jaga anak kita ya!" Sambil mengelus perutku yang membesar, lalu kemudian menciumnya.

"Jangan nakal sama Ibu, ya, Nak!" Dia bicara di depan perutku. Kemudian ia mengecup keningku lalu memelukku erat.

"Hati-hati ya, Mas!" ucapku sembari mencium punggung tangannya.

Namaku Winarsih memasuki usia dua puluh satu tahun dan suamiku Roby usianya dua puluh sembilan tahun. Aku dan Mas Roby menikah sudah tiga tahun dan kami sudah dikaruniai seorang anak perempuan dua tahun lalu. Tapi sayangnya, anak kami itu meninggal sesaat setelah ia lahir. Sekarang aku tengah mengandung anak kedua. Usia kandunganku saat ini sudah enam bulan.

Perkenalanku dengan Mas Roby berawal di sebuah kios penjual pulsa, dimana saat itu ia hendak membeli pulsa dan aku adalah yang menjaga kios itu. Saat itu Mas Roby mengajakku berkenalan. Setelah itu ia jadi sering membeli pulsa di kios itu, hingga akhirnya kami saling bertukar nomor ponsel. Dan kami semakin sering berhubungan lewat telepon maupun pesan singkat.

Setelah sebulan kenalan, kami menjalin hubungan yang lebih serius dan empat bulan kemudian Mas Roby melamarku dan akhirnya kami pun menikah.

Setelah kami menikah, Mas Roby mengajakku untuk tinggal di kontrakannya, karena saat itu aku memang tinggal di kios Pak Haji, tempat aku bekerja. Jaraknya kurang lebih satu jam perjalanan dari tempat tinggalku saat itu. Mas Roby juga memintaku untuk tidak bekerja, katanya supaya aku fokus sama keluarga. Selain itu juga supaya aku tidak terlalu capek, berhubung jaraknya yang lumayan jauh.

Mas Roby adalah orang yang baik, perhatian, penyayang dan bertanggung jawab. Selama kami menikah, tidak pernah sekalipun dia bersikap kasar padaku. Jika ada masalah, dia akan memilih diam disaat aku sibuk menyalahkannya. Setelah suasananya mulai dingin dan tenang, barulah ia mengajakku bicara baik-baik, dan mencari jalan keluar masalah itu dengan baik.

****

Sudah dua bulan Mas Roby tidak pulang, seminggu di awal kepergiannya ia masih sering memberi kabar, baik lewat pesan wa ataupun lewat telpon dan video call. Awalnya biasa saja, tapi setelah itu ia mulai jarang memberi kabar bahkan sudah hampir satu bulan ini Mas Roby sama sekali tidak menghubungiku.

Ada rasa khawatir takut Mas Roby kenapa-napa di jalan. Pekerjaannya sebagai sopir ekspedisi antar propinsi sangat beresiko. Biasanya, kalau keluar kota paling lama dua minggu ia sudah pulang. Aku takut mobil yang dibawa Mas Roby celaka di jalan atau dia sudah melupakanku dan calon anak kami? Ahh ... tidak mungkin. Aku cepat-cepat membuang pikiran burukku. Aku pun berniat menghubungi keluarga dan teman-temannya. Siapa tahu mereka bisa memberi informasi tentang suamiku.

"Sudah dua bulan ini Mas Roby nggak pulang, Mas. Apa dia ada ngasih kabar pada Mas Joko?" tanyaku pada Mas Joko, ketika aku menghubunginya lewat panggilan telepon.

"Nggak ada, Win. Bahkan dia udah lama nggak pernah lagi menghubungi kami." jawab Mas Joko semakin membuatku hilang harapan.

"Coba kamu telfon lagi dia, siapa tau kemarin di tempatnya nggak ada sinyal," ucap Mas Joko lagi.

"Nomornya udah nggak bisa dihubungi lagi, Mas." jawabku parau.

"Ohh ... gitu. Ya udah, nanti aku coba bantu cari ya, Win," ujar Mas Joko, sedikit memberiku harapan.

"Iya, Mas! Tolong ya, Mas! Aku nggak tau harus minta tolong siapa, Mas. Cuma Mas Joko keluarga yang kukenal." ucapku, berharap Mas Joko mau membantu mencari Mas Roby.

Aku bingung, tidak tahu harus mencari Mas Roby kemana lagi. Keluarganya hanya Mas Joko, orang tua Mas Roby sudah lama meninggal. Saat ku tanya pada teman-teman Mas Roby, jawaban mereka sama saja. Tidak ada yang tahu dimana suamiku berada. Bahkan saat ku tanya ke kantornya pun orang-orang disana tidak ada yang tahu Mas Roby kemana. Menurut salah satu temannya yang ku temui disana, Mas Roby ternyata sudah tidak bekerja disana lagi sudah dua bulan, itu artinya saat Mas Roby pergi dari rumah ia sudah tidak bekerja lagi. Lalu kemana dia?

Kepergian Mas Roby yang tanpa kabar membuatku pusing. Aku tidak tahu lagi kemana harus mencarinya. Kehamilanku sudah mendekati lahiran, tapi belum ada sama sekali persiapan. Bahkan tabunganku pun sudah semakin menipis. Selain biaya untuk lahiran, aku juga harus memikirkan biaya kontrakan yang sebentar lagi harus diperpanjang. Ini tahun kedua kami tinggal di kontrakan ini. Biasanya uang kontrakan di bayar untuk setahun.

Selama ini aku hanya mengandalkan uang dari Mas Roby, dan dua bulan ini Mas Roby tidak mengirim uang padaku. Uang yang bisa ku sisihkan selama ini tidaklah banyak.

Lalu sekarang aku harus bagaimana? Dengan kondisiku sekarang tidak memungkinkan untuk ku mencari pekerjaan. Tidak akan ada yang mau mempekerjakan orang yang tengah hamil besar sepertiku.

Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku pun sudah tidak punya keluarga. Orang tuaku sudah lama meninggal. Ibu meninggal saat usiaku empat bulan, sementara ayahku meninggal saat aku masih SMP. Sebenarnya aku punya seorang kakak, namanya Minarsih, tapi dia tinggal di luar pulau. Itu yang kutahu. Kata ayah, kakakku itu dibawa pamanku, adik dari ibuku, beberapa saat setelah ibu meninggal. Setelah Kak Minarsih dibawa paman, tidak pernah ada kabar darinya.

Aku benar-benar tidak tahu lagi harus mencari Mas Roby kemana. Selama ini dia tidak pernah menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Tapi kenapa dia pergi tanpa kabar? Kenapa Mas Roby pamit untuk pergi kerja seperti biasa, sementara temannya bilang, dia sudah tidak bekerja disana? Kenapa dia harus bohong?

Saat dia pergi terakhir kali, tidak ada yang aneh dengan sikapnya. Dia masih seperti biasa.

[Mas kangen, Dek!]

[Jaga diri baik-baik, jangan lupa makan, jaga kesehatan, jaga anak kita!]

[Tunggu mas pulang ya, Dek!]

[Mas belum bisa pulang, Dek!]

Ku buka lagi pesan-pesan terakhir Mas Roby, yang dikirimnya lewat aplikasi bergambar telepon berwarna hijau. Tidak ada yang aneh, masih seperti biasa. Tapi kenapa tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar? Ada rasa khawatir yang teramat sangat dalam di dada. Ada rasa nyeri saat terbayang sesuatu terjadi pada suamiku.

Ya Tuhan, lindungi suamiku. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpa dia. Hanya dia yang ku punya, Tuhan.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu depan membuatku terlonjak, membuatku tersadar dari lamunanku. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba menjalar di dadaku. Akhirnya dia pulang. Pikirku. Segera aku beranjak membukakan pintu. Ingin segera aku memeluknya. Dan ketika ku buka pintu, seseorang berdiri disana. Dia tersenyum sangat manis. Tapi ...

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku