Rencana Balas Dendam yang Terlambat

Rencana Balas Dendam yang Terlambat

Aldi123

5.0
Komentar
1
Penayangan
24
Bab

Marceline "Marcy" Sterling tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah 180 derajat dalam sekejap. Semua itu terjadi setelah ia dipaksa menikah dengan CEO Phoenix Cruise Line, Adrian Hawthorne, pria paling terkenal dan diidamkan di Amerika. Kehidupan nyaman Adrian pun terusik dengan kehadiran Marcy, wanita yang ia nikahi demi memenuhi wasiat orang tuanya. Padahal, hatinya masih tertambat pada Selena Winters, kekasih yang selama ini ia cintai. Tak ingin menyerah begitu saja, Adrian mulai menulis berbagai draft kontrak pernikahan yang ketat, penuh aturan, dan menuntut, semuanya untuk memastikan Marcy tunduk pada peraturan pernikahan mereka. Namun, ironisnya, setiap aturan justru membuat rasa cinta dan gelora asmara Adrian semakin membara. Sementara itu, Marcy-yang selama ini dianggap lemah, tak berdaya, dan kerap dihina-mulai menemukan kekuatan dalam dirinya. Ia berubah menjadi sosok yang menaklukkan pria-pria berpengaruh, bahkan pada suatu malam di puncak gedung mewah Phoenix Tower, Marcy menunjukkan sisi dominannya. Konsekuensinya, Selena Winters marah besar, bertekad mempertahankan cinta sejatinya dengan Adrian, memicu konflik, intrik, dan percikan asmara yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Rencana Balas Dendam yang Terlambat Bab 1 Surat wasiat

Marcy Sterling berdiri di depan cermin besar di kamarnya yang sempit, menatap wajahnya sendiri. Wajah itu tampak pucat, dengan mata yang lelah menahan tangis yang ingin lepas. Hatinya penuh kegelisahan, sementara tangan-tangannya gemetar. Surat wasiat itu masih tergenggam erat di tangannya, kertas tipis yang seolah menyalakan api perubahan dalam hidupnya.

"Kau harus menikah dengan Adrian Hawthorne," baca Marcy pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun, suara hatinya menolak, "Bagaimana mungkin aku, Marcy Sterling, yang selama ini hidup sederhana, tiba-tiba dijebloskan ke dunia orang kaya yang penuh intrik dan ambisi?"

Ayahnya sudah meninggal setahun lalu, meninggalkan warisan yang tampak menggiurkan, tapi juga sarat aturan. Salah satu wasiatnya tegas: Marcy harus menikah dengan Adrian Hawthorne, CEO Phoenix Cruise Line, jika ingin mewarisi sebagian besar hartanya. Tidak ada kompromi. Tidak ada tawar-menawar.

Marcy menutup mata, membayangkan pria itu. Adrian Hawthorne-nama yang selalu muncul di setiap berita bisnis, di sampul majalah-majalah ekonomi, dan tentu saja, di mimpi-mimpi wanita di seluruh Amerika. Ia tampan, kaya, dan tampaknya sempurna. Tapi bagi Marcy, Adrian adalah simbol dunia yang asing, dunia yang menakutkan. Dunia yang memintanya menyerahkan kebebasan demi kemewahan.

"Ini gila," gumam Marcy. "Aku bahkan tidak mengenalnya... dan sekarang aku harus menikah dengannya?"

Pikirannya melayang ke kenangan sederhana, masa-masa ia bekerja di kafe kecil milik ibunya almarhum. Hidupnya sederhana, bahagia dengan kesederhanaan itu. Ia tidak pernah menginginkan kemewahan. Ia hanya ingin bebas dari masalah, hidup tenang, dan mungkin suatu hari menemukan cinta yang tulus. Tapi kini semua itu tampak mustahil.

Pagi itu, Marcy harus bertemu dengan Adrian untuk pertama kalinya. Pikirannya campur aduk antara takut, penasaran, dan... sedikit marah. Marcy menatap cermin sekali lagi. Ia tahu, jika ia terlihat lemah, Adrian akan menganggapnya mudah diatur. Ia harus terlihat tegas, berani, dan-jika bisa-sedikit misterius.

Dengan langkah gemetar, ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya hanya diberi sedikit bedak. Tidak ada perhiasan mewah, tidak ada parfum mahal. Ia ingin menjadi dirinya sendiri, meski dunia yang akan ia hadapi adalah dunia orang-orang kaya dan berkuasa.

Di lobi hotel bintang lima tempat mereka akan bertemu, Marcy menunggu dengan hati berdebar. Ia memperhatikan setiap detail: para pelayan yang sigap, lampu kristal yang berkilauan, dan tamu-tamu yang datang dengan pakaian mahal, membawa aura percaya diri yang membuat Marcy merasa kecil.

Kemudian, pintu terbuka, dan sosok itu masuk. Adrian Hawthorne. Tinggi, berwibawa, dengan mata tajam yang seolah bisa menembus jiwa siapa pun yang ia pandang. Marcy terdiam sejenak. Ada sesuatu yang menakutkan sekaligus memikat dalam tatapannya.

"Marcy Sterling?" suara Adrian dalam, tegas, tapi tidak kasar.

Marcy mengangguk, mencoba menenangkan diri. "Ya... saya Marcy."

Adrian melangkah mendekat, memandangnya dari kepala hingga kaki, seolah menilai siapa yang berdiri di hadapannya. "Jadi, ini kamu," gumamnya pelan, hampir seperti pada diri sendiri. Ada senyum tipis yang muncul, tetapi matanya tetap serius. "Aku mendengar banyak hal tentangmu."

"Semua... baik?" tanya Marcy, berusaha terdengar santai.

Adrian mengangkat alisnya, senyum tipis itu berubah menjadi sedikit menggoda. "Tergantung dari sudut pandang siapa," jawabnya. "Tapi aku rasa, kita berdua ada di posisi yang sama sekarang. Terjebak dalam aturan yang... bukan pilihan kita sendiri."

Marcy menelan ludah. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Adrian Hawthorne, pria yang dikatakan paling diidamkan wanita, sekarang berdiri tepat di hadapannya, membicarakan hal yang sama: pernikahan kontrak yang memaksa mereka bertemu dan hidup bersama.

Percakapan itu berjalan canggung. Mereka membahas persyaratan pernikahan, hak warisan, dan berbagai aturan yang ditetapkan dalam surat wasiat ayah Marcy. Setiap kata yang Adrian ucapkan terasa seperti dingin, profesional, namun ada sesuatu yang tak bisa Marcy abaikan: ada perhatian tersembunyi dalam tatapannya.

Namun, tidak ada yang bisa Marcy lakukan selain mengangguk dan mendengarkan. Ia merasa terperangkap, tapi juga penasaran. Bagaimana mungkin seorang pria sehebat Adrian Hawthorne memiliki sisi lembut yang tersembunyi di balik tatapan tajamnya?

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan pertemuan bisnis, konsultasi hukum, dan perbincangan tentang kehidupan mereka yang akan dijalani bersama. Marcy belajar untuk menyesuaikan diri, meski sering merasa tertekan. Setiap aturan kontrak yang dibuat Adrian terasa mengekangnya, tapi semakin ia mencoba melawan, semakin ia sadar bahwa ia membutuhkan kecerdikan dan keberanian untuk bertahan.

Suatu malam, ketika Marcy duduk di balkon suite hotel, menatap kota yang gemerlap di bawahnya, ia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia bukan lagi gadis sederhana yang takut pada dunia luar. Ia mulai menemukan kekuatan, keberanian, bahkan sedikit rasa penasaran terhadap Adrian Hawthorne.

Dan di sisi lain kota, Adrian juga merasakan hal yang sama. Ia mulai melihat Marcy bukan sekadar wanita yang dipaksanya nikahi, tapi seseorang yang memiliki keberanian, kepintaran, dan keteguhan yang membuatnya penasaran. Pernikahan kontrak itu, yang awalnya hanya formalitas, kini mulai menjadi arena permainan yang lebih menarik daripada yang ia duga.

Konflik, ketegangan, dan percikan asmara mulai muncul di antara mereka-tanpa satu pun dari mereka benar-benar mengakui perasaan yang tumbuh. Dunia mereka berbeda, aturan mereka ketat, tapi hati mereka mulai menari mengikuti irama yang tak terlihat.

Dan malam itu, Marcy menyadari satu hal: ia siap menghadapi Adrian Hawthorne, siap menghadapi dunia mewah yang menakutkan, dan siap menemukan versi dirinya yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

Namun, yang tidak ia tahu, Adrian juga menyiapkan strategi. Strategi yang tidak hanya akan menguji keteguhan Marcy, tapi juga menguji kemampuannya sendiri untuk menahan rasa yang mulai tumbuh-rasa yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan mereka berdua.

Malam itu, di bawah cahaya kota, permainan mereka dimulai. Sebuah permainan cinta, kekuasaan, dan ambisi yang tidak ada yang bisa memprediksi siapa yang akan menang... dan siapa yang akan kalah.

Marcy Sterling menutup pintu apartemen barunya dengan keras, menahan napas panjang. Ia merasakan denyut jantungnya yang tak menentu, seolah seluruh tubuhnya memberontak terhadap kenyataan yang baru saja ia hadapi. Apartemen mewah itu bukan miliknya sendiri, setidaknya belum sepenuhnya. Tapi sebagai bagian dari perjanjian pernikahan kontrak dengan Adrian Hawthorne, semua fasilitas itu kini ada di tangannya-dengan harga yang tak pernah ia bayangkan: kebebasan pribadinya.

Ia berjalan pelan ke jendela, menatap kota yang penuh lampu gemerlap. Semuanya tampak memukau, tapi bagi Marcy, pesona itu terasa menekan. Ia terbiasa hidup sederhana, dengan secangkir kopi hangat di pagi hari dan obrolan ringan dengan tetangga. Sekarang, ia dipaksa menghadapi dunia yang berbeda: dunia di mana uang, status, dan ambisi lebih penting daripada perasaan manusia biasa.

Pikiran Marcy kembali ke Adrian. Pria itu tampak selalu tenang, percaya diri, dan terlalu sempurna hingga hampir menakutkan. Setiap pertemuan mereka selalu penuh ketegangan-bukan hanya karena aturan kontrak, tapi juga karena adanya rasa penasaran yang tumbuh di antara mereka, sebuah energi yang tak bisa ia abaikan.

"Kenapa aku harus terjebak dalam ini?" gumamnya pada dirinya sendiri, matanya menatap kertas kontrak yang terselip di meja. Ia membaca ulang beberapa pasal yang menekankan kewajiban dan batasannya. Setiap kata di sana terasa seperti belenggu, dan semakin ia membacanya, semakin ia ingin memberontak.

Suara dering ponsel mengagetkannya. Ia menoleh dan melihat nama Adrian di layar. Dengan ragu, ia mengangkat telepon.

"Marcy, aku harap kau sudah sampai di apartemen tanpa masalah," suara Adrian terdengar tenang, tapi ada nada perhatian yang tak ia kenali sebelumnya.

"Ya... sampai dengan aman," jawab Marcy, berusaha terdengar biasa saja. "Terima kasih... atas apartemennya."

"Ini baru permulaan," Adrian menambahkan, suaranya berat namun tidak kasar. "Besok, aku ingin kita membahas jadwal harian kita... bagaimana kita akan menjalani hidup bersama sesuai kontrak."

Marcy menelan ludah. "Aku mengerti," jawabnya singkat, menutup telepon setelah Adrian mengakhiri panggilan. Ia jatuh di sofa, menatap langit-langit. Menjadi bagian dari dunia Adrian bukan sekadar tentang kemewahan, tapi juga tentang tunduk pada peraturan yang ia sendiri tak pernah setujui.

Malam itu, Marcy tidak bisa tidur. Ia berpikir tentang bagaimana ia bisa mempertahankan dirinya sendiri di tengah aturan yang ketat. Ia memikirkan strategi, bagaimana ia bisa berdiri tegak tanpa terlihat lemah, bagaimana ia bisa membangun posisi di dunia yang terasa asing ini. Ia bukan Marcy Sterling yang sama dari bulan lalu. Ia mulai berubah, tapi perubahan itu menakutkan sekaligus membangkitkan rasa percaya dirinya.

Keesokan paginya, Marcy bertemu Adrian di ruang makan hotel, tempat mereka akan sarapan bersama. Adrian sudah menunggunya, mengenakan setelan hitam rapi, rambutnya tertata sempurna, dan mata birunya menatap Marcy dengan intens.

"Selamat pagi," katanya singkat, suaranya tegas tapi tidak dingin.

"Selamat pagi," Marcy membalas, duduk di kursi. Ia mencoba menenangkan dirinya saat melihat Adrian membuka tablet, menampilkan jadwal hari itu.

"Pagi ini kita ada pertemuan dengan tim manajemen Phoenix Cruise Line," Adrian memulai, menatapnya serius. "Aku ingin kau hadir, bukan hanya sebagai pendamping, tapi sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan."

Marcy terkejut. "Bagian dari proses pengambilan keputusan? Aku... aku tidak tahu apa-apa tentang perusahaanmu."

"Itulah tujuannya," Adrian menjawab dengan tenang. "Kau akan belajar. Kau harus tahu apa yang kita lakukan, bagaimana kita beroperasi, agar tidak merasa tersinggung atau terasing."

Marcy mengangguk, hatinya campur aduk. Di satu sisi, ia takut tidak mampu mengikuti arus dunia Adrian. Di sisi lain, ia merasakan dorongan untuk membuktikan dirinya. Ia tidak ingin hanya menjadi 'Marcy yang dipaksa menikah'. Ia ingin menjadi Marcy yang dihormati, bahkan oleh Adrian sendiri.

Pertemuan dengan tim manajemen berlangsung panjang dan melelahkan. Marcy harus mendengarkan laporan keuangan, strategi pemasaran, dan bahkan negosiasi kontrak dengan partner internasional. Setiap istilah bisnis terasa asing, dan setiap angka yang disebut membuat kepalanya berputar. Namun, ia tidak menunjukkan kebingungan. Ia mencatat, bertanya saat perlu, dan mencoba memahami setiap detail.

Adrian memperhatikannya dari samping, matanya menilai. "Kau lebih cepat beradaptasi daripada yang kukira," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada Marcy.

Sore itu, setelah pertemuan panjang, Adrian mengajak Marcy ke dek kapal Phoenix yang sedang bersandar di pelabuhan kota. Angin laut yang sejuk menerpa wajah mereka, membuat Marcy merasa sedikit lebih ringan.

"Kau tidak takut?" Adrian menatapnya, matanya menajam. "Banyak wanita takut menghadapi dunia ini... dunia bisnis dan kekuasaan."

Marcy tersenyum tipis. "Aku mungkin takut, tapi aku tidak akan mundur begitu saja."

Ada keheningan sejenak. Angin laut menggerakkan rambut mereka, dan Marcy merasakan sesuatu yang aneh-campuran rasa takut, penasaran, dan ketertarikan yang tak bisa dijelaskan. Adrian menatapnya, dan untuk sesaat, Marcy merasa dunia mereka hanya milik mereka berdua, terlepas dari aturan, kontrak, atau perasaan yang rumit.

Namun kenyataan segera kembali menghantam. Kembali ke apartemen, Marcy menemukan surat lain di meja: surat dari pengacara Adrian, berisi tambahan aturan kontrak pernikahan. Ada batasan-batasan baru yang harus ia patuhi, termasuk jadwal harian, interaksi sosial, dan tanggung jawab keuangan. Marcy menatap kertas itu, rasa frustrasi mulai membakar.

"Sepertinya, Adrian ingin menguji kesabaranku," gumamnya, meninju bantal sebentar sebelum menarik napas panjang. Ia tahu satu hal: jika ia ingin bertahan, ia harus lebih pintar, lebih kuat, dan lebih berani dari yang pernah ia bayangkan.

Malam itu, Marcy berdiri di balkon lagi, menatap bintang. Ia tahu bahwa pertarungan sebenarnya baru saja dimulai. Bukan hanya pertarungan melawan aturan, kontrak, atau dunia Adrian. Ini adalah pertarungan untuk menemukan diri sendiri, untuk membuktikan bahwa meski dipaksa dalam keadaan yang tidak ia pilih, ia tetap bisa menentukan arah hidupnya.

Di sisi lain kota, Adrian duduk di ruang kerjanya, menatap layar komputer. Ia memikirkan Marcy, gadis yang awalnya ia anggap hanya penghalang formalitas pernikahannya, tapi kini membuatnya penasaran. Ia tidak tahu apakah perasaan itu cinta, kekaguman, atau kombinasi dari rasa ingin menguasai dan rasa hormat. Yang jelas, ia tahu satu hal: Marcy Sterling bukan wanita yang bisa ia kendalikan dengan mudah.

Malam itu berakhir dengan keduanya merenung, masing-masing di dunia mereka sendiri. Marcy menatap langit malam, bertekad untuk bertahan dan menemukan kekuatannya. Adrian menatap layar komputer, merencanakan langkah berikutnya, tak hanya untuk bisnis, tapi juga untuk Marcy.

Dan di tengah malam, sebuah permainan baru dimulai-permainan antara kebebasan dan kendali, antara aturan dan perasaan, antara dua orang yang dipaksa untuk hidup bersama, tapi tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang akan menaklukkan siapa.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Aldi123

Selebihnya
Penderitaan yang Dipaksa Tersenyum

Penderitaan yang Dipaksa Tersenyum

Romantis

5.0

Liana Ardelia tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah menjadi mimpi buruk hanya dalam satu malam. Perempuan sederhana itu dijual oleh suaminya sendiri, Revan, demi melunasi utang judi yang menumpuk. Lelaki yang pernah ia percaya sebagai pelindung, justru menjadikannya alat tukar di meja taruhan. Liana dijual kepada seorang pria yang namanya membuat para penjahat pun gemetar: Dominic Valente, pemimpin sindikat bawah tanah terbesar di Eropa. Lelaki berdarah dingin, kejam, dan tanpa belas kasih itu terkenal karena bisa menghabisi satu keluarga hanya karena sebuah pengkhianatan kecil. Namun malam itu berbeda. Saat Liana didorong masuk ke ruangan hotel mewah, Dominic memandangnya lama - bukan dengan hawa predator, melainkan dengan sorot mata yang entah kenapa mengandung sesuatu yang dalam. Ada ketenangan yang aneh saat ia menatap wajah polos Liana. Dominic terbiasa mematahkan siapa pun yang berada di bawah kendalinya. Tapi perempuan ini... justru memecahkan tembok yang selama ini ia bangun. Liana bukan hanya cantik. Ia juga memiliki kepolosan dan ketulusan yang belum pernah Dominic temui dalam hidupnya yang kelam. Malam itu, Liana menjadi miliknya. Tapi bukan sekadar karena perjanjian kotor itu. Dominic menanamkan benih cintanya - dan tanpa sadar, benih darahnya - di dalam rahim Liana. Sebelum ia sempat menepati janjinya untuk membebaskan Liana dari neraka yang bernama rumah Revan, badai datang lebih cepat. Revan dan ibunya menyeret Liana kembali ke rumah mereka. Ia dijadikan pembantu, diinjak harga dirinya, dan disiksa tanpa belas kasihan. Hari-harinya diisi dengan darah dan air mata, sementara benih Dominic tumbuh perlahan dalam rahimnya. Waktu berlalu, dan kabar tentang Liana menghilang. Dominic mencari ke seluruh dunia bawah, membakar siapa pun yang diduga tahu keberadaannya. Namun setiap kali ia hampir menemukannya, jejak itu selalu hilang - seperti kabut yang menelan harapan terakhirnya. Apakah Dominic akan berhasil menemukan Liana dan anak yang dikandungnya? Ataukah Liana yang akan bangkit dari penderitaannya untuk menuntut balas kepada keluarga yang telah menjual dan menyiksanya?

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Ratu Tak Terbelenggu: Jangan Pernah Katakan Tidak

Ratu Tak Terbelenggu: Jangan Pernah Katakan Tidak

Tricia Truss

Hanya butuh satu detik bagi dunia seseorang untuk runtuh. Inilah yang terjadi dalam kasus Hannah. Selama empat tahun, dia memberikan segalanya pada suaminya, tetapi suatu hari, pria itu berkata tanpa emosi ,"Ayo kita bercerai." Hannah menyadari bahwa semua usahanya di tahun-tahun sebelumnya sia-sia. Suaminya tidak pernah benar-benar peduli padanya. Saat dia masih memproses kata-kata mengejutkan itu, suara pria yang acuh tak acuh itu datang. "Berhentilah bersikap terkejut. Aku tidak pernah bilang aku mencintaimu. Hatiku selalu menjadi milik Eliana. Aku hanya menikahimu untuk menyingkirkan orang tuaku. Bodoh bagimu untuk berpikir sebaliknya." Hati Hannah hancur berkeping-keping saat dia menandatangani surat cerai, menandai berakhirnya masanya sebagai istri yang setia. Wanita kuat dalam dirinya segera muncul keluar. Pada saat itu, dia bersumpah untuk tidak pernah bergantung pada belas kasihan seorang pria. Auranya luar biasa saat dia memulai perjalanan untuk menemukan dirinya sendiri dan mengatur takdirnya sendiri. Pada saat dia kembali, dia telah mengalami begitu banyak pertumbuhan dan sekarang benar-benar berbeda dari istri penurut yang pernah dikenal semua orang. "Apa yang kamu lakukan di sini, Hannah? Apakah ini trik terbarumu untuk menarik perhatianku?" Suami Hannah yang selalu sombong bertanya. Sebelum dia bisa membalas, seorang CEO yang mendominasi muncul entah dari mana dan menariknya ke pelukannya. Dia tersenyum padanya dan berkata dengan berani pada mantan suaminya, "Hanya sedikit perhatian, Tuan. Ini istriku tercinta. Menjauhlah!" Mantan suami Hannah tidak bisa memercayai telinganya. Dia pikir tidak ada pria yang akan menikahi mantan istrinya, tetapi wanita itu membuktikan bahwa dia salah. Dia kira wanita itu sama sekali tidak berarti. Sedikit yang dia tahu bahwa wanita itu meremehkan dirinya sendiri dan masih banyak lagi yang akan datang ....

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Rencana Balas Dendam yang Terlambat Rencana Balas Dendam yang Terlambat Aldi123 Romantis
“Marceline "Marcy" Sterling tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah 180 derajat dalam sekejap. Semua itu terjadi setelah ia dipaksa menikah dengan CEO Phoenix Cruise Line, Adrian Hawthorne, pria paling terkenal dan diidamkan di Amerika. Kehidupan nyaman Adrian pun terusik dengan kehadiran Marcy, wanita yang ia nikahi demi memenuhi wasiat orang tuanya. Padahal, hatinya masih tertambat pada Selena Winters, kekasih yang selama ini ia cintai. Tak ingin menyerah begitu saja, Adrian mulai menulis berbagai draft kontrak pernikahan yang ketat, penuh aturan, dan menuntut, semuanya untuk memastikan Marcy tunduk pada peraturan pernikahan mereka. Namun, ironisnya, setiap aturan justru membuat rasa cinta dan gelora asmara Adrian semakin membara. Sementara itu, Marcy-yang selama ini dianggap lemah, tak berdaya, dan kerap dihina-mulai menemukan kekuatan dalam dirinya. Ia berubah menjadi sosok yang menaklukkan pria-pria berpengaruh, bahkan pada suatu malam di puncak gedung mewah Phoenix Tower, Marcy menunjukkan sisi dominannya. Konsekuensinya, Selena Winters marah besar, bertekad mempertahankan cinta sejatinya dengan Adrian, memicu konflik, intrik, dan percikan asmara yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.”
1

Bab 1 Surat wasiat

28/10/2025

2

Bab 2 membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri

28/10/2025

3

Bab 3 kesuksesan

28/10/2025

4

Bab 4 mengejutkan lagi

28/10/2025

5

Bab 5 kau pernah membayangkan hidup seperti ini

28/10/2025

6

Bab 6 Pertemuan berlangsung di gedung

28/10/2025

7

Bab 7 Apakah semua dokumen siap

28/10/2025

8

Bab 8 saling curiga

28/10/2025

9

Bab 9 baru saja kembali

28/10/2025

10

Bab 10 situasinya berbeda

28/10/2025

11

Bab 11 faktanya berbeda

28/10/2025

12

Bab 12 kekhawatiran

28/10/2025

13

Bab 13 dipertaruhkan

28/10/2025

14

Bab 14 kontrak bisa hilang

28/10/2025

15

Bab 15 menyelesaikan tugasnya

28/10/2025

16

Bab 16 Seorang manajer

28/10/2025

17

Bab 17 suasana serius

28/10/2025

18

Bab 18 memengaruhi kepercayaan

28/10/2025

19

Bab 19 pengkhianatan

28/10/2025

20

Bab 20 Kesalahan sedikit saja

28/10/2025

21

Bab 21 ketika ancaman datang bersamaan

28/10/2025

22

Bab 22 menghancurkan perusahaan

28/10/2025

23

Bab 23 ketidakpastian

28/10/2025

24

Bab 24 strategi balasan

28/10/2025