Bukan yang Pertama

Bukan yang Pertama

Amih Lilis

5.0
Komentar
6.4K
Penayangan
53
Bab

*Sequel Istri Nomor Dua* Zaina Rahayu terpaksa menjadi yatim piatu karena kesalahan seorang Nyonya sosialita dari kota. Beruntung wanita kota itu mau bertanggung jawab, dan menawarkan sebuah janji manis sebagai menantu di rumahnya, setelah orang tuanya tiada. Sayangnya, masa lalu sang calon suami membuat Ina hilang respect, dan memutuskan perjodohan itu dengan sepihak. Apalagi dengan sikap dingin dan galaknya sang calon suami. Ina yakin tak akan bisa bertahan hidup dengan pria itu. Lalu, bagaimana saat ternyata takdir tetap mengarahkannya pada pria galak itu? Bisakah Ina bertahan dan membuat sang pria mencintainya? Atau malah kalah dan menyerah dengan cinta yang terlanjur tumbuh tanpa ia sadari. Inilah kisah Zaina Rahayu, gadis lugu yang terjebak dengan pria galak, yang gagal move on dari masa lalunya.

Bab 1 Zaina Rahayu

Gadis itu masih terduduk lesu melihat nanar ke arah jasad orang tuanya yang sudah kaku.

Tidak ada air mata, tidak pula isak tangis yang masih terdengar. Hanya mata sembab dan hidung merah yang menandakan bahwa gadis itu sempat menangis hebat beberapa menit lalu.

Kini semua air mata itu seakan habis tak bersisa, hingga sudah tak ada lagi yang bisa ia keluarkan selain tatapan sendu penuh kepiluan.

Dia adalah Ina. Zaina Rahayu lengkapnya. Anak semata wayang dari Bapak Husein dan Ibu Wanda, yang kini harus menjadi yatim piatu, karena kesalahan seorang wanita kota yang tak pandai dalam mengemudi di jalan berliku.

Itu yang Ina dengar. Detailnya Ina tidak tahu. Karena pada saat kejadian, Ina masih ada di Warteg Bu Eni, tempatnya mencari rezeki demi membantu meringankan beban orang tuanya.

Ina memang bukan berasal dari keluarga berada. Bahkan kalau boleh jujur, Keluarga Ina adalah keluarga miskin yang untuk makan saja susah.

Orang tua Ina adalah buruh harian di pabrik, sementara Ina sendiri hanya bisa bekerja di sebuah warteg yang ada di pasar, dengan upah yang tidak seberapa.

Tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada menganggur, iya, kan? Karena untuk mencari pekerjaan lebih baik pun, Ina tak punya syarat yang memadai.

Dia hanya lulusan SMP. Itupun hanya sampai kelas dua saja. Tidak bisa sampai lulus karena perkara biaya.

Alasan klise memang. Tapi Ina juga tak bisa egois, memaksa orang tuanya yang memang selalu payah dalam hal itu.

Perkara uang memang selalu jadi momok untuk keluarganya. Hingga yang bisa Ina lakukan adalah pasrah pada takdir dan mengikuti alur yang sudah ada.

Tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang Zaina Rahayu. Selain wajahnya yang ayu, yang juga kadang menjadi incaran para hidung belang untuk dijadikan selingkuhan, atau istri kesekian.

Beruntung ayah dan ibunya masih punya hati, hingga tak pernah termakan rayuan menggiurkan para hidung belang itu.

"Na? Orangnya mau tanggung jawab, kan?" bisik salah satu tetangganya, sambil menepuk bahu Ina yang kini terlihat seperti orang linglung di tempatnya.

Tanggung jawab? Tanggung jawab seperti apa yang di maksud? Uang, kah? Atau apa?

"Iya, Na. Jangan diem aja. Pokoknya kamu harus minta tanggung jawab sama orang itu. Minta uang konpensasi yang besar. Kalau gak, laporin aja ke polisi. Biar tahu rasa!" sahut tetangga lainnya dengan menggebu-gebu.

Benar dugaan Ina. Ternyata tanggung jawab yang mereka sebutkan adalah sejumlah uang. Tapi, memang uang bisa mengembalikan nyawa orang tuanya?

"Nah itu, saya setuju. Apalagi katanya, yang nabrak wong sugih. Jadi kamu bisa ngajuin konpensasi besar, Na. Kapan lagi kan, Na? Siapa tahu kamu bisa mendadak sugih dari uang konpensasi itu," sahut yang lainnya mulai terpancing.

Miris, ya? Alih-alih rasa prihatin yang mereka rasakan melihat kondisi Ina yang kini sudah yatim piatu sekarang. Mereka malah memikirkan hal lain yang ... benar-benar membuat Ina terluka.

Menukar kematian orang tuanya dengan sejumlah uang. Sungguh! Ina merasa sangat berdosa hanya dengan memikirkannya saja.

"Pokoknya ya, Na. Kamu jangan diem aja. Jangan manut aja kalau di kasih sedikit. Rugi di kamu. Minta yang banyak. Kalau mereka gak mau, masukan saja dia ke penjara." Tetangga Ina pun makin mengompori.

"Memang suara orang kecil seperti kita akan di dengar, Bu," lirih Ina kemudian. Membuat tetangganya itu mengerjap pelan.

"Maksud kamu?" tanyanya tak mengerti.

"Ibu bilang, yang nabrak wong sugih, kan? Uangnya banyak, kan? Kalau begitu, mereka juga bisa melakukan apa saja dong buat lepas dari jerat hukum. Secara, jaman sekarang uang lebih sering di utamakan daripada kejujuran. Makanya Ina tanya sama Ibu, memang kalau Ina melapor, kira-kira ada yang mau denger, gak?"

Lalu si Ibu yang kompor itu, pun para tetangganya yang lainnya, yang tadi menggebu-gebu akhirnya bungkam tak bisa menjawab.

Karena mereka pun sadar, ucapan Ina memang 100% benar. Apalagi, mereka juga tahu kondisi si Miskin Ina. Dia tidak punya apapun yang bisa di gunakan untuk mencari keadilan.

Ah, mungkin tepatnya membeli keadilan. Karena jaman sekarang, semua hal punya harga sendiri. Dan seorang Ina tak punya uang seperser pun untuk membelinya.

Karenanya, selain diam dan pasrah, bisa apalagi Ina saat ini.

"Makanya kamu nikah sama saya saja, Na. Saya janji akan bantu kamu buat cari keadilan." Sebuah suara pria tua tiba-tiba menginterupsi, membuat para tetangga yang tadi sudah diam, kini memutar mata dan mencibir sang tua bangka itu.

"Jangan mau sama dia, Na. Udah bau tanah. Mending sama saya saja, Na. Masih muda. Masih bisa bikin kamu hamil berkali-kali." Seorang pria lebih muda menyahuti.

Ina hanya bisa memejamkan mata erat mendengar pertikaian para hidung belang itu.

Demi tuhan, jasad orang tuanya saja belum di kebumikan, bukannya datang untuk memberi bela sungkawa atau rasa duka cita. Mereka malah memperebutkan Ina untuk jadi istri mudanya.

Di mana hati nurani mereka?

"Enak aja, Ina tuh cocoknya sama saya. Karena meski saya tua, saya sudah terbukti bisa mensejahterakan istri-istri saya. Tanya saja pada salah satu istri saya."

"Ya, tapi kan--"

"Ina itu akan menjadi istri saya?!" suara menggelegar lain terdengar, membuat semua orang langsung menoleh ke sumber suara. Pun Ina yang yang sangat mengenal suara itu.

"Kamu ingat kan, Ina. Orang tua kamu masih punya hutang banyak pada saya. Dan karena mereka kini sudah meninggal, saya ingin kamu membayar hutang mereka dengan diri kamu sendiri."

Seringai setan itu membuat Ina langsung menelan salivanya kelat. Karena Ina merasa tidak mungkin melawan lagi.

Suara riuh bisik para tetangga pun mulai terdengar. Antara mengasihani dan mencibir jadi satu menggambarkan kondisi Ina saat ini.

Semua orang tahu, tidak ada jalan lagi untuk Ina kabur dari jerat lintah darat, paling sadis di kampung ini.

Namanya Joko. Dia adalah lintah darat paling sadis, yang memberi bunga 100% untuk semua hutang yang dia berikan.

Makanya, jarang ada yang berani menghutang pada pria itu. Termasuk ayah Ina. Tapi, karena saat itu kondisi mendesaknya, ayah Ina pun terpaksa berhutang, demi menyelamatkan nyawa putrinya yang terkena penyakit usus buntu.

Itulah awal mula derita keluarga Ina.

Kalau dulu ada orang tua Ina yang membelanya mati-matian agar Ina tak jatuh ke tangan pria itu, yang meminta Ina jadi istri muda sebagai pelunasan hutang.

Namun Kini, siapa yang akan membela Ina?

Tuhan, tolong bantu Ina ... Ina tidak mau jadi istri ke tujuh lintah darat itu.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Amih Lilis

Selebihnya

Buku serupa

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku