Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan

Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan

Eka Chandra

5.0
Komentar
609
Penayangan
30
Bab

"Aku selalu berpikir, jika aku harus menjalani hidup ini dengan perjodohan, maka aku harus cukup kuat untuk menghadapi semuanya. Tapi kenyataannya, aku bukan hanya pengganti. Aku adalah pilihan kedua, yang kini terjebak dalam relung sepi yang penuh kepedihan." Mira Aditya tidak pernah membayangkan bahwa perjodohan yang dipaksakan oleh orang tuanya akan membawanya ke dalam kegelapan yang tak terduga. Terikat dalam pernikahan dengan Rafiq Jaya, seorang pria tampan yang selalu penuh pesona, Mira merasakan kepedihan setiap hari ketika melihat kenyataan pahit: Rafiq ternyata memiliki kekasih lama, Elena Faris, yang ia nikahi diam-diam. Hubungan yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan berubah menjadi neraka, di mana Mira hanya menjadi bayangan yang selalu terpinggirkan. Meski sering diperlakukan seperti orang asing, Mira mencoba mempertahankan semangatnya. Namun, hati seorang wanita tidak bisa menipu. Seiring berjalannya waktu, luka-luka di hatinya semakin dalam, dan rasa cinta yang sempat ada mulai menguap, berganti dengan rasa kecewa yang menggerogoti. Di tengah perjalanan hidup yang kelam ini, Mira harus memilih: bertahan dalam kesendirian yang menguras jiwa, atau melepaskan semua dan menutup babak suram ini untuk mencari jalan menuju kebebasan.

Bab 1 Awal dari Sebuah Pilihan yang Salah

Mira Aditya duduk di sudut ruang keluarga yang sunyi, memeluk lututnya dengan pandangan kosong. Sebuah lampu temaram di pojok ruangan menjadi satu-satunya sumber cahaya, menerangi wajahnya yang pucat dan sembap karena tangis. Di pangkuannya, sebuah undangan pernikahan bertuliskan nama suaminya, Rafiq Jaya, dan wanita lain, Elena Faris, tergeletak seperti duri yang menancap di hati. Surat itu tak lagi mampu mengguncangnya-ia sudah menangis terlalu banyak untuk hari ini, bahkan mungkin untuk seumur hidupnya.

"Kenapa aku harus menikah dengan pria yang sudah punya cinta lain?" Mira bertanya pada dirinya sendiri, suara hatinya pecah, bergema di ruang sunyi. Namun, seperti biasa, tidak ada yang menjawab.

Dua bulan lalu, hidup Mira berubah dalam sekejap. Ayahnya, seorang pengusaha besar, menyampaikan berita yang pada awalnya terasa seperti mimpi indah: ia akan menikah dengan Rafiq Jaya, anak dari mitra bisnis keluarga mereka. Rafiq adalah pria yang selama ini hanya ia lihat di layar media sosial-tampan, berkarisma, dan selalu terlihat elegan dalam balutan jas hitam. Mira, seorang wanita sederhana yang jarang terpapar kehidupan glamor, merasa seperti tokoh utama dalam dongeng. Namun, siapa sangka, dongeng itu berubah menjadi mimpi buruk yang ia tidak pernah bayangkan.

Mira masih ingat malam pertama mereka setelah akad nikah. Ia menunggu di kamar dengan hati berdebar, mengenakan gaun malam yang ia pilih dengan penuh harapan. Namun, yang muncul di ambang pintu bukanlah seorang suami yang siap merangkulnya dengan penuh cinta, melainkan seorang pria dingin dengan sorot mata kosong.

"Aku menikah denganmu hanya untuk memenuhi permintaan orang tua kita," kata Rafiq tanpa basa-basi, nada suaranya datar, tajam seperti pisau. "Jangan harap aku akan mencintaimu."

Saat itu, Mira hanya bisa menunduk, menyembunyikan air matanya. Ia mencoba memahami, mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin waktu akan mengubah segalanya. Tapi ia salah.

Pagi yang Menyesakkan

Mira terbangun dari tidurnya dengan mata yang bengkak. Ia meraba tempat tidur di sebelahnya yang kosong. Sudah sebulan berlalu sejak pernikahan mereka, namun Rafiq lebih sering tidur di luar rumah, mengabaikannya sepenuhnya. Hari ini berbeda. Suara pintu kamar yang terbuka mengejutkannya. Rafiq berdiri di sana dengan wajah serius, mengenakan setelan jas rapi.

"Kita harus bicara," katanya singkat.

Mira duduk perlahan, mencoba menyembunyikan rasa takut yang menyelimuti hatinya. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya, suaranya serak.

"Aku ingin kau tahu bahwa aku menikahi Elena tadi malam," ucap Rafiq tanpa jeda, seolah-olah berita itu adalah hal biasa.

Mira terdiam. Dunia seolah runtuh di hadapannya. "Apa maksudmu?"

"Aku mencintainya, Mira," Rafiq melanjutkan tanpa ekspresi. "Dia adalah wanita yang selalu ada untukku, dan aku tidak akan pernah bisa meninggalkannya. Pernikahan kita ini hanya formalitas."

Mira ingin berteriak, ingin menangis, tapi yang keluar dari bibirnya hanyalah sebuah bisikan lirih, "Kenapa kau tidak menolak pernikahan ini sejak awal?"

Rafiq menatapnya dengan pandangan tajam. "Karena aku tidak punya pilihan. Sama seperti kau."

Kata-katanya menusuk hati Mira lebih dalam dari yang ia bayangkan. Ia ingin berteriak, "Aku tidak pernah meminta ini!" tapi apa gunanya?

Kesendirian yang Membunuh

Hari-hari berlalu dengan lambat. Rafiq jarang pulang, lebih sering menghabiskan waktunya dengan Elena. Sementara itu, Mira berusaha mempertahankan martabatnya di depan keluarga besar mereka, berpura-pura bahwa pernikahannya baik-baik saja.

Namun, malam itu, semua topeng yang ia kenakan runtuh.

Mira duduk di meja makan, menunggu Rafiq pulang seperti biasanya. Ketika akhirnya ia masuk ke rumah, aroma parfum yang asing tercium dari tubuhnya. Elena pasti baru saja bersamanya.

"Kenapa kau pulang malam lagi?" Mira bertanya dengan suara pelan, mencoba menahan emosi.

Rafiq melemparkan jasnya ke sofa tanpa melihatnya. "Apa urusannya denganmu?"

Mira berdiri, hatinya membuncah. "Aku istrimu, Rafiq! Aku punya hak untuk tahu di mana kau berada."

Rafiq tertawa sinis. "Istriku? Jangan membuatku tertawa, Mira. Kau hanyalah seseorang yang terpaksa aku nikahi. Tidak lebih."

Air mata Mira tumpah. Ia menggenggam sisi meja, mencoba menjaga keseimbangannya. "Apa aku benar-benar tidak berarti untukmu? Sedikit saja, Rafiq?"

Pria itu mendekatinya, menatap tajam ke dalam matanya. "Kau tidak pernah berarti, Mira. Dan kau tidak akan pernah."

Tekad yang Tumbuh di Tengah Kehancuran

Malam itu, Mira menangis lebih lama dari biasanya. Namun, di tengah air mata dan rasa sakit, ia merasakan sesuatu yang berbeda-kemarahan yang perlahan-lahan menggantikan kesedihannya.

Ia berdiri di depan cermin, menatap wajahnya yang penuh luka emosional. "Aku tidak bisa terus seperti ini," pikirnya. "Aku harus bangkit, harus melawan."

Keesokan harinya, Mira memulai langkah kecil untuk mengubah hidupnya. Ia mulai mengabaikan keberadaan Rafiq, memfokuskan energinya pada hal-hal yang membuatnya bahagia-menulis, melukis, bahkan bekerja di bisnis kecil yang ia mulai sendiri.

Namun, langkah itu tidak mudah. Setiap kali ia merasa kuat, Rafiq akan muncul dengan sikap dinginnya, mengingatkannya bahwa ia hanyalah bayangan di rumah itu.

Pertemuan dengan Elena

Semuanya berubah pada suatu siang ketika Mira tanpa sengaja bertemu dengan Elena di sebuah kafe. Wanita itu mengenakan gaun mahal, dengan senyum angkuh yang membuat darah Mira mendidih.

"Oh, Mira," sapa Elena dengan nada manis yang dibuat-buat. "Aku tidak tahu kau suka tempat seperti ini. Biasanya wanita sepertimu lebih suka bersembunyi di rumah, bukan?"

Mira mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak membalas. "Aku tidak punya urusan denganmu, Elena."

"Tapi aku punya urusan denganmu," Elena membalas, mendekatkan wajahnya. "Kau tahu, Rafiq hanya merasa kasihan padamu. Dia tidak akan pernah mencintaimu seperti dia mencintaiku."

Mira tersenyum tipis, meskipun hatinya hancur. "Kasihan atau tidak, aku adalah istrinya. Dan aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan harga diriku lebih dari ini."

Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa rencana. Tapi anehnya, itu membuatnya merasa lebih kuat, lebih berani.

Mira tahu, ini baru permulaan. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia bisa bertahan-atau bahkan menang.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Eka Chandra

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
1

Bab 1 Awal dari Sebuah Pilihan yang Salah

13/12/2024

2

Bab 2 Luka yang Semakin Dalam

13/12/2024

3

Bab 3 Pertemuan Rahasia

13/12/2024

4

Bab 4 Langkah Awal Menuju Kebebasan

13/12/2024

5

Bab 5 Ia tahu bahwa hidupnya mulai membaik

13/12/2024

6

Bab 6 Cinta yang Tumbuh Kembali

13/12/2024

7

Bab 7 Cinta yang Membebaskan

13/12/2024

8

Bab 8 Langkahnya tergesa-gesa

13/12/2024

9

Bab 9 Refleksi di Cermin Hidup

13/12/2024

10

Bab 10 Pameran seni yang dia rancang dengan tangan

13/12/2024

11

Bab 11 Kehidupan Mira berubah seiring berjalannya waktu

13/12/2024

12

Bab 12 di mana setiap sudutnya menyimpan cerita

13/12/2024

13

Bab 13 Cinta itu cukup untuk membuat mereka bertahan

13/12/2024

14

Bab 14 mengungkapkan rahasia yang selama ini disimpan rapat

13/12/2024

15

Bab 15 Berbulan-bulan berlalu sejak Arfan pergi

13/12/2024

16

Bab 16 Cahaya itu adalah cinta yang terus bertahan

13/12/2024

17

Bab 17 seolah alam sedang menangisi sesuatu yang tak bisa diungkapkan

13/12/2024

18

Bab 18 apakah cinta yang mereka miliki masih layak diperjuangkan atau tidak

13/12/2024

19

Bab 19 tak peduli seberapa menyakitkan itu

13/12/2024

20

Bab 20 Menguak Rahasia yang Terpendam

13/12/2024

21

Bab 21 Apakah cinta mereka cukup kuat untuk bertahan

13/12/2024

22

Bab 22 sebuah permulaan yang penuh dengan ketidakpastian

13/12/2024

23

Bab 23 masih banyak ketakutan yang menghantui

13/12/2024

24

Bab 24 memulihkan diri dari luka-luka yang mendalam

13/12/2024

25

Bab 25 tidak sempurna

13/12/2024

26

Bab 26 memilih satu sama lain

13/12/2024

27

Bab 27 ada cinta yang berjuang untuk bertahan

13/12/2024

28

Bab 28 Mereka tahu bahwa jalan ini penuh dengan rintangan

13/12/2024

29

Bab 29 selama mereka tetap bersama

13/12/2024

30

Bab 30 ada rasa damai di dalam hati Mira

13/12/2024