Ketua Geng Itu Suamiku

Ketua Geng Itu Suamiku

Vya Kim

3.5
Komentar
6.8K
Penayangan
68
Bab

Ayu, siswi berprestasi dan penerima beasiswa di SMA Garuda, terpaksa menikah muda dengan Arbinata, di panggil Bin, ketua geng motor Garuda Steel yang terkenal nakal dan sering bikin onar. AaKetika Ayu tanpa sengaja menyaksikan Bin terlibat dalam konfrontasi berbahaya dengan geng lain, ia terjebak dalam situasi yang tidak terduga. Terpaksa berlayar di antara ketidakpastian dan ketegangan, Ayu harus beradaptasi dengan kehidupan barunya sambil berjuang untuk meraih impian dan kelulusannya. Namun, saat Iky, teman baik sekaligus teman satu geng Bin, mulai menunjukkan perhatian lebih, Ayu terjebak dalam dilema cinta segitiga yang rumit. Di tengah konflik, mereka berjuang melawan musuh bersama dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Bisakah mereka menemukan kebahagiaan di antara kekacauan?

Ketua Geng Itu Suamiku Bab 1 Terlambat pulang

"Eh, Yu! Elo gantiin gue piket, ya! Gue lagi banyak urusan!" ujar Jeni ke gue yang nggak sempat menolak.

Jeni segera memakai tas-nya terburu-buru entah memang ada urusan atau memang ingin menghindari tugas piketnya hari ini. Terpaksa gue pun melempar tas yang sempat gue kenakan dengan kesal ke bangku gue lagi, dan mulai menjalankan piket kelas.

Waktu berlalu, gue menghela napas panjang, lelah setelah piket yang seakan nggak ada habisnya. Sapu di tangan kanan gue, gue genggam erat, sementara mata gue ngelirik jam dinding yang tergantung di kelas.

Sudah lewat pukul lima sore, dan sekolah mulai sepi. Hampir semua murid sudah pulang, kecuali beberapa teman gue yang masih sibuk membereskan ruang kelas.

"Kenapa juga sih gue harus nurutin si Jeni cewek manja kayak dia? Seenaknya aja nyuruh-nyuruh gue!" gumam gue sambil menyapu sisa-sisa sobekan kertas yang berserakan di lantai, sambil mendengus kesal.

"Nih, kerjaan bocah laki-laki lempar-lempar kertas! Perang kertas apaan coba. Nyusahin yang piket!" Gue terus menggerutu nggak ikhlas ngerjain piket hari ini. Iya lah nggak ikhlas! Harusnya ini si Jeni Tuan Putri itu yang ngerjain!

Setelah selesai, gue simpan sapu di pojok kelas. "Udah, beres. Gue butuh istirahat, nih," ujar gue ke teman-teman lain sambil melangkah keluar kelas.

Udara sore yang mulai dingin menyapu wajah gue, buat gue sedikit rileks setelah seharian terjebak di ruangan.

Daripada langsung pulang, gue memutuskan untuk istirahat sebentar di belakang sekolah. Tempat ini selalu jadi spot favorit gue kalau mau menjauh dari keramaian. Apalagi sekarang, dengan sekolah yang hampir kosong, suasananya tenang banget.

Gue berjalan melewati lorong-lorong sekolah yang semakin sepi. Sesekali masih terdengar suara obrolan dari beberapa anak yang juga kebagian piket, tapi gue memilih nggak ikut campur. "Gue capek. Nggak mood buat ngobrol."

Begitu sampai di belakang sekolah, gue menyandarkan punggung gue ke dinding, memejamkan mata. "Cuma sebentar aja, sebelum pulang," pikir gue. Rasanya damai di sini, jauh dari hiruk pikuk sekolah, seolah dunia sedang berhenti sejenak.

Gue baru aja mau merem sebentar, nikmatin angin sore yang sejuk, ketika tiba-tiba suara ribut dari arah belakang bikin gue waspada. Awalnya gue nggak terlalu peduli, tapi semakin lama suara itu makin jelas, kayak ada yang berantem.

"Gila, apaan tuh?" gumam gue, penasaran. Rasa capek gue langsung hilang entah ke mana. Gue berdiri dan pelan-pelan ngintip dari balik tembok, nggak jauh dari tempat gue tadi bersandar.

Pandangan gue langsung ketancap ke arah lapangan kecil yang jarang dipake, dan lo tahu siapa yang ada di sana? Bin. Si anak berandal sekolah yang sering banget bikin onar. Dia lagi ribut sama beberapa anak yang gue nggak kenal.

Gue ngelihat mereka saling dorong, dan Bin, ya Tuhan ... dia lagi ngerebut sesuatu dari tangan salah satu cowok di situ. Gue nggak jelas lihatnya dari jauh, tapi yang pasti, itu kayak bungkusan kecil warna putih. Serbuk putih. Apa ... narkoba?

"Gila, beneran nih? Dia jualan narkoba juga apa beli narkoba?" jantung gue tiba-tiba berdetak kencang. Gue panik. Gue harus cabut dari sini, sebelum gue kepergok lihat mereka.

Gue langsung muter balik dan lari secepat mungkin. Gue nggak peduli baju gue kena tanah, nggak peduli seragam gue ketarik ranting-ranting tajam yang bikin robek. Yang ada di pikiran gue cuma satu, gue harus jauhin mereka!

Tapi sialnya, kaki gue keseleo pas gue nginjek akar pohon. Rasanya nyeri, tapi gue nggak berhenti. Gue paksain buat lari, tapi langkah gue makin pelan. Gue ngerasa ada yang ngejar di belakang, dan lo tahu siapa?

"Lo mau ke mana?" suara berat itu terdengar jelas banget di telinga gue.

Gue menoleh, dan gue lihat Bin! Dan ya ..., gue ketangkep!

"Shit!" gue mengumpat dalam hati. Keringet dingin mulai ngalir di pelipis gue.

Gue nggak sempet ngelawan waktu Bin narik tangan gue dan ngebawa gue pergi. Nafas gue masih ngos-ngosan, kaki gue sakit, tapi gue dipaksa buat jalan. "Lo apaan sih! Lepasin gue!" teriak gue sambil ngebet narik tangan, tapi cengkeraman Bin kuat banget.

"Diam," jawabnya dingin, tanpa lihat ke arah gue.

Pikiran gue makin kacau. Gue nggak tahu dia mau ngapain gue, dan makin jauh kita jalan, makin gue sadar kalo arah kita menuju... gudang sekolah? Tempat yang paling sering dipake buat hal-hal yang nggak bener. "Bin, lo mau bawa gue ke mana?!"

Tapi dia nggak jawab apa-apa. Dia terus narik gue masuk ke dalam gudang itu. Pintu besinya berderit pas dibuka, dan gue langsung diseret masuk. Lampu remang-remang bikin suasananya makin nyeremin. Gudang ini kayak tempat yang ditinggalin, banyak barang berdebu, dan bau apek langsung nyerang hidung gue.

"Lo denger ya!" Bin akhirnya ngomong sambil dorong gue ke tembok. "Jangan pernah ikut campur urusan gue!"

Gue mau bales, tapi lidah gue kelu. Jantung gue berdegup kencang, dan otak gue nggak bisa mikir jernih. Gue cuma bisa mundur pelan-pelan, sambil nahan rasa takut yang mulai merambat ke seluruh tubuh gue.

Tapi sebelum gue bisa buka mulut, pintu gudang kebuka keras.

"Eh! Kalian ngapain di sini?"

Suara itu bikin gue dan Bin langsung noleh bersamaan. Security sekolah berdiri di depan pintu dengan mata melotot, lihat gue dan Bin di pojokan gudang, dengan posisi gue yang kelihatan... nggak bener. Baju gue yang robek, nafas gue yang masih tersengal-sengal. Gue langsung panik.

"Pak, ini nggak kaya yang bapak pikirin!" Gue nyoba ngomong, tapi security itu udah keburu narik kesimpulan.

"Ya ampun, kalian mesum di sekolah?! Gila, ini udah keterlaluan!" dia langsung ngeluarin walkie-talkie.

Gue cuma bisa melotot ke arah Bin. Mati gue!

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Ketua Geng Itu Suamiku Ketua Geng Itu Suamiku Vya Kim Anak muda
“Ayu, siswi berprestasi dan penerima beasiswa di SMA Garuda, terpaksa menikah muda dengan Arbinata, di panggil Bin, ketua geng motor Garuda Steel yang terkenal nakal dan sering bikin onar. AaKetika Ayu tanpa sengaja menyaksikan Bin terlibat dalam konfrontasi berbahaya dengan geng lain, ia terjebak dalam situasi yang tidak terduga. Terpaksa berlayar di antara ketidakpastian dan ketegangan, Ayu harus beradaptasi dengan kehidupan barunya sambil berjuang untuk meraih impian dan kelulusannya. Namun, saat Iky, teman baik sekaligus teman satu geng Bin, mulai menunjukkan perhatian lebih, Ayu terjebak dalam dilema cinta segitiga yang rumit. Di tengah konflik, mereka berjuang melawan musuh bersama dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Bisakah mereka menemukan kebahagiaan di antara kekacauan?”
1

Bab 1 Terlambat pulang

04/10/2024

2

Bab 2 Skandal yang kacau

05/10/2024

3

Bab 3 Awal Pernikahan

05/10/2024

4

Bab 4 Tinggal Bareng

09/10/2024

5

Bab 5 Kenyataan Baru

09/10/2024

6

Bab 6 Geng Garuda Steel

12/10/2024

7

Bab 7 Nggak Tahu Lagi

05/11/2024

8

Bab 8 Basecamp

13/11/2024

9

Bab 9 Sandera

14/11/2024

10

Bab 10 Akhirnya Pulang

14/11/2024

11

Bab 11 Malu

18/11/2024

12

Bab 12 Khawatir

30/12/2024

13

Bab 13 Sekelas

03/01/2025

14

Bab 14 Ke Warung Seblak

03/01/2025

15

Bab 15 Ditolongin Dia

03/01/2025

16

Bab 16 Care

03/01/2025

17

Bab 17 Khawatir

03/01/2025

18

Bab 18 Genting

04/01/2025

19

Bab 19 Kemana Dia

04/01/2025

20

Bab 20 Luka

04/01/2025

21

Bab 21 Perasaan samar

04/01/2025

22

Bab 22 Lebih Dekat

04/01/2025

23

Bab 23 Ancaman

05/01/2025

24

Bab 24 Bohong

06/01/2025

25

Bab 25 Sekamar

07/01/2025

26

Bab 26 Terbuka

08/01/2025

27

Bab 27 Pengakuan

09/01/2025

28

Bab 28 Janji

10/01/2025

29

Bab 29 Pagi Buta

11/01/2025

30

Bab 30 Nano-nano

12/01/2025

31

Bab 31 Naik Motor

13/01/2025

32

Bab 32 Pertanyaan

14/01/2025

33

Bab 33 Main PS

15/01/2025

34

Bab 34 Belum Saatnya

16/01/2025

35

Bab 35 Masuk Sekolah

17/01/2025

36

Bab 36 Gawat!

18/01/2025

37

Bab 37 Diculik

19/01/2025

38

Bab 38 Penyelamat

20/01/2025

39

Bab 39 Terkuak

21/01/2025

40

Bab 40 Gue Tunggu Bin

22/01/2025