Balik Kanan Duda

Balik Kanan Duda

Salwamaulidya

5.0
Komentar
231
Penayangan
35
Bab

"Tidak pernah kusangka, kamu memang senikmat ini." Lama tidak bertemu dengan Indira Pramesti, Damian Kusuma-pria tampan berusia dua puluh tujuh tahun dengan semangat menggerayangi tubuh indah milik Indira Pramesti-perempuan cantik yang selalu ia kagumi sejak dulu. Indi-sapaan perempuan itu lantas marah besar pada Damian karena dengan seenaknya menyetubuhi dirinya dalam keadaan mabuk. Indi bersumpah tidak akan mau bertemu dengan Damian lagi apa pun yang terjadi. Namun, takdir seolah sedang tidak berpihak pada Indi. Perempuan itu harus menikah dengan Damian atas perjodohan kedua orang tua mereka karena tahu Indi sudah berpisah dengan kekasihnya-Rangga. Akankah Indi menerima perjodohan tersebut?

Balik Kanan Duda Bab 1 Bertemu Kembali

"Tidak pernah kusangka. Rupanya kamu memang senikmat ini." Suara berat yang tengah mendorong lebih dalam tubuh Indi menggeram karena nikmat yang tiada kentara.

Damian Kusuma-pria tampan, pengusaha muda yang usianya baru menginjak dua puluh delapan tahun tengah menggerayangi tubuh Indira Pramesti-perempuan cantik berusia dua puluh enam tahun yang sudah lama ia kagumi sejak masih duduk di bangku kuliah.

Sudah lama menjadi duda membuatnya bersemangat menyetubuhi tubuh wanita yang dia kagumi itu. Tidak peduli bila nanti Ind-sapaan perempuan itu mencaci makinya setelah sadar dari mabuknya kelak.

"Arrgghh!" pekik Indi kala pria itu kembali mendorong dirinya di bawah sana. Desahan dan erangan terdengar dengan jelas di kamar tersebut.

Dalam keadaan teler, tidak tahu siapa yang sedang menyetubuhinya, Indi hanya menikmati sentuhan nikmat itu. Damian yang sudah tergila-gila sejak lama kepada perempuan itu lantas menghantamnya tanpa ampun. Peluh keringat pun sudah bercucuran membasahi kain sprei yang menjadi alas senggama kedua insan itu.

Damian yang sudah merindukan bercinta itu lantas sangat menikmati seruan akan desahan yang dikeluarkan oleh Indi.

"Kapan selesainya ini, huh?! Aku sudah tidak tahan lagi," pekik Indi dengan suara beratnya. "Tubuh ini .. eemmpt ...!" Indi tak kuasa menahan permainan panas yang dibuat oleh Damian kepadanya.

"Kamu sudah sampai, heum?" tanya Damian dengan suara lembutnya.

Indi hanya mengangguk. Sementara Damian kembali mendorong tubuhnya hingga suara percikan percintaan itu terdengar begitu jelas. Tubuhnya mengejang seketika bersamaan dengan keluarnya peluh nikmat itu di bawah sana.

"Capek!" keluh Indi seraya mengatur napasnya. Kemudian tak sadarkan diri sebab mabuk yang masih terasa dalam dirinya.

"So beautiful. Akhirnya, kita bertemu kembali, Indi. Sudah sejak lama kita tidak pernah bertemu, akhirnya kembali bertemu sekaligus mendapat tubuh indahmu ini," ucapnya seraya menyentuh kulit putih yang masih polos tersebut.

"Jangan takut, Indi. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Aku akan menunggumu sampai sadar, dan mengatakan kalau kita baru saja tidur bersama. Membelah malam dengan suara teriakan dan desahan yang kamu keluarkan."

Damian memilih untuk istirahat di samping Indi yang sudah terlelap dalam tidurnya.

**

Waktu sudah menunjuk angka sembilan pagi. Pengar itu masih sangat terasa di kepalanya sebab mabuk semalam.

"Arrgh! Tubuh gue kenapa pegal-pegal. Mimpi apa gue, semalam," gumamnya seraya menyibakkan rambutnya dengan pelan. "Heeuuh!"

Indi baru sadar. Ini bukan kamar tidurnya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu dengan cepat.

"Di mana ini?" tanyanya panik. Lalu, tersadar juga bila dirinya tidak mengenakan apa pun. "Kenapa gue nggak pake baju. Pusaka gue juga sakit banget." Indi benar-benar tak sadar apa yang telah dia lakukan semalam.

"Morning!" Damian menyapa perempuan itu dengan tubuh yang hanya dililit handuk sepinggang.

Indi mengerutkan keningnya. "Da ... mian?" gumamnya seraya mengucek matanya. Lalu membolakan matanya karena terkejut. "Damian ... ngapain lo di sini?" teriaknya kemudian.

Damian mengendikan bahunya. "It's my room. Masih belum ingat, kejadian semalam?" tanyanya seraya menatap mata itu dengan lekat.

"Jangan mendekat!" seru Indi seraya menatap tajam wajah tampan milik lelaki itu. "Kenapa gue ada di kamar elo? Apa yang terjadi kemarin malam? Kita ...." Indi tak mampu meneruskan ucapannya itu.

Damian mengangguk santai. "Semalam kamu mabuk. Ngoceh nggak jelas, karena nggak ada temen yang nungguin kamu, akhirnya aku bawa aja ke apartemenku," tuturnya menjelaskan.

"Apartemen? Di sini?" tanya Indi sembari menjambak rambutnya kemudian segera mengambil pakaiannya dan bergegas mengenakannya kembali.

Pria itu mengangguk. "Iyalah. Di mana lagi kalau bukan di sini. And thank, untuk semuanya. Kamu memang sangat luar biasa."

"Sshhhiitt!" pekik Indi seraya menatap nyalang wajah Damian. "Gilak lo, Damian! Gilaaak! Menyetubuhi gue tanpa izin dan sekarang bilang terima kasih?! Sialan, lo!" pekiknya kesal. Kebenciannya semakin besar terhadap lelaki itu sebab telah memperkosanya. Ya. Dia anggap Damian telah memperkosanya karena ia tidak tahu dan tidak mengiayakan ajakan Damian untuk bercinta dengannya.

"Mandi dulu, Indi. Aku nggak akan macem-macem lagi. Cukup semalam saja," ucapnya kemudian menyunggingkan senyumnya.

Indi melirik malas kepada pria itu. "Gak perlu. Mandi di rumah aja. Gue ada urusan!" ucapnya kemudian mengambil pakaian tersebut dan segera memakainya.

"Mobil gue di mana? Jangan bilang ...." Indi membolakan matanya.

"Di bar. Aku nggak tahu, mobil kamu yang mana. By the way, apa kabar?"

"Gak usah basa-basi, lo. Pertemuan kita cukup sampai di sini aja. Gue nggak mau ketemu sama elo lagi dan lupakan semuanya! Kalau ketemu di jalan, jangan nyapa gue atau apa pun itu!" ucapnya dengan mata menatap nanar wajah Damian penuh amarah.

Damian kembali menyunggingkan senyumnya. "Sampai jumpa lagi, Indi. Aku pastikan, kita akan bertemu lagi, tidak akan lama setelah kamu pulang," ucapnya kemudian tersenyum menyeringai.

Setibanya di rumah. Dengan langkah yang mengendap-endap, takut ketahuan oleh sang papa karena baru pulang. Ia kemudian segera masuk ke dalam kamarnya dan membuka seluruh pakaiannya. Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Namun, langkahnya terhenti kala melihat tanda merah di dadanya. Cukup banyak hingga membuatnya memekik hebat.

"Damian sialan! Gila bener ini orang! Arrgghh!" Indi menjambak rambutnya kemudian menghentakkan kakinya hingga masuk ke dalam kamar mandi. Memutar kran shower dan mengguyur tubuhnya.

"Kenapa gue harus ketemu sama dia? Tidur dengan cowok gila macam Damian merupakan mimpi paling buruk yang pernah gue alami," ucapnya lirih. Sungguh, ia sangat menyesali semuanya lantaran harus melayani pria aneh seperti Damian. Lebih tepatnya diperkosa karena Indi tidak tahu menahu bila dirinya tidur dengan lelaki itu.

"Jangan sampai gue ketemu sama elo lagi, anak sialan!" pekiknya seraya membersihkan tubuhnya dengan sabun agar sisa-sisa sentuhan Damian hilang di tubuhnya.

"Bisa-bisanya dia ninggalin jejak banyak banget di sini." Indi terus menerus menggerutu kesal kepada Damian.

"Nyesel banget gue mabuk nggak ditemenin, hanya sendirian. Jadinya gini, kan." Indi mengeluh lesu. Damian merupakan pria yang tidak masuk dalam kategorinya. Jelas sangat membenci dan menyesali kejadian semalam.

Meskipun dia sudah merelakan dan masa bodoh, tetap saja bila meninggalkan jejaknya di tubuhnya membuatnya kesal bukan main.

"Indi?" Panggilan dari Wijaya-sang papa membuat Indi harus menyelesaikan acara mandinya.

Ia kemudian segera menggunakan bathrobe dan menghampiri papanya yang ternyata sudah berada di dalam kamarnya.

"Iya, Pa?" tanyanya seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Hari ini, yaa. Kita bertemu dengan keluarga teman Papa."

"Heuh? Hari ini? Harus hari ini banget ya, Pa?" tanya Indi panik.

Nasib sial benar-benar sedang menghampirinya. Tidur dengan musuh bebuyutannya, dan sekarang harus bertemu dengan calon yang sudah dipilihkan oleh Wijaya untuknya.

"Iya. Sudah saatnya kamu dan dia bertemu kemudian merencanakan pernikahan ini. Sudahi main sana main sininya, Indi. Kamu sudah dewasa, ingat umur." Wijaya berucap dengan pelan.

Indi menghela napas kasar. "Tapi, Pa ... terlalu dini dan aku belum siap ketemu sama dia. Belum tentu juga dia pria baik-baik. Emangnya Papa yakin, kalau dia jodoh terbaik buat aku?" Indi masih mencoba menolak permintaan papanya itu.

"Ini yang terbaik. Papa yakin dan kamu pasti akan bahagia bersamanya!" ucapnya penuh percaya diri.

Indi menghela napas pelan. 'Kalau emang dia pria baik-baik, dia yang akan menyesal karena gue baru aja tidur sama Damian, si cowok aneh yang main perkosa gue aja. Duh! Gini amat nasib gue,' ucapnya dalam hati kemudian menggaruk dengan pelan rambutnya.

"Papa. Kalau nanti dia nggak terima dengan kondisi aku yang tukang mabuk dan segala macamnya, yang malu Papa. Mending aku cari jodoh sendiri deh, Pa. Ya, Pa, yaaa?" Indi memohon agar perjodohan itu dibatalkan saja.

"Dia sudah tahu dunia kamu seperti apa. Makanya Papa sangat senang karena ada pria yang mau menerima kamu apa adanya."

"Haaah?" Indi terkejut bukan main. 'Ada yaa, cowok modelan dia?' ucapnya dalam hati.

Indi kembali menghela napas pelan. "Ya udah, Papa tunggu di luar aja. Aku pakai baju dulu," ucapnya lemas. Mau tak mau, dia harus menerima perjodohan itu.

"Iya, Nak." Wijaya menerbitkan senyumnya.

Lima belas menit kemudian, Indi keluar dari kamarnya dan menghampiri sang papa yang sudah menunggunya di ruang tengah. Keduanya langsung keluar dari rumah tersebut dan Wijaya melajukan mobilnya menuju rumah temannya.

"Orangnya kayak gimana sih, Pa?" tanya Indi kemudian.

"Nanti juga kamu tahu." Hanya itu yang diucapkan oleh sang papa kepadanya.

Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja, mereka akhirnya tiba di rumah tersebut. Indi kembali menghela napasnya dengan pelan. Lalu keluar dari mobil bersama sang papa.

"Bung!" Wijaya memeluk Pradipta-sahabatnya.

"Apa kabar, Wijaya? Hari ini, yaa? Dia sudah tahu?"

Wijaya mengendikan bahunya. "Nggak perlu dikasih tahu, dia sudah paham sendiri."

"Wow! Good! Baiklah kalau begitu. Aku panggilkan anakku dulu." Pradipta memanggil sang anak yang baru kembali ke rumah.

Sementara Indi dan Wijaya duduk di sofa ruang tengah. Perempuan itu kembali menghela napasnya seraya melihat-lihat rumah megah tersebut.

"Orang kaya, rupanya," gumamnya kemudian.

"Hei!"

Suara lembut itu sangat tidak asing di telinga Indi. Dengan cepat ia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.

Mulutnya menganga, matanya melotot menatap orang yang akan menjadi suami dan katanya sangat menerima dia apa adanya.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Salwamaulidya

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Ratu Tak Terbelenggu: Jangan Pernah Katakan Tidak

Ratu Tak Terbelenggu: Jangan Pernah Katakan Tidak

Tricia Truss

Hanya butuh satu detik bagi dunia seseorang untuk runtuh. Inilah yang terjadi dalam kasus Hannah. Selama empat tahun, dia memberikan segalanya pada suaminya, tetapi suatu hari, pria itu berkata tanpa emosi ,"Ayo kita bercerai." Hannah menyadari bahwa semua usahanya di tahun-tahun sebelumnya sia-sia. Suaminya tidak pernah benar-benar peduli padanya. Saat dia masih memproses kata-kata mengejutkan itu, suara pria yang acuh tak acuh itu datang. "Berhentilah bersikap terkejut. Aku tidak pernah bilang aku mencintaimu. Hatiku selalu menjadi milik Eliana. Aku hanya menikahimu untuk menyingkirkan orang tuaku. Bodoh bagimu untuk berpikir sebaliknya." Hati Hannah hancur berkeping-keping saat dia menandatangani surat cerai, menandai berakhirnya masanya sebagai istri yang setia. Wanita kuat dalam dirinya segera muncul keluar. Pada saat itu, dia bersumpah untuk tidak pernah bergantung pada belas kasihan seorang pria. Auranya luar biasa saat dia memulai perjalanan untuk menemukan dirinya sendiri dan mengatur takdirnya sendiri. Pada saat dia kembali, dia telah mengalami begitu banyak pertumbuhan dan sekarang benar-benar berbeda dari istri penurut yang pernah dikenal semua orang. "Apa yang kamu lakukan di sini, Hannah? Apakah ini trik terbarumu untuk menarik perhatianku?" Suami Hannah yang selalu sombong bertanya. Sebelum dia bisa membalas, seorang CEO yang mendominasi muncul entah dari mana dan menariknya ke pelukannya. Dia tersenyum padanya dan berkata dengan berani pada mantan suaminya, "Hanya sedikit perhatian, Tuan. Ini istriku tercinta. Menjauhlah!" Mantan suami Hannah tidak bisa memercayai telinganya. Dia pikir tidak ada pria yang akan menikahi mantan istrinya, tetapi wanita itu membuktikan bahwa dia salah. Dia kira wanita itu sama sekali tidak berarti. Sedikit yang dia tahu bahwa wanita itu meremehkan dirinya sendiri dan masih banyak lagi yang akan datang ....

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Balik Kanan Duda Balik Kanan Duda Salwamaulidya Romantis
“"Tidak pernah kusangka, kamu memang senikmat ini." Lama tidak bertemu dengan Indira Pramesti, Damian Kusuma-pria tampan berusia dua puluh tujuh tahun dengan semangat menggerayangi tubuh indah milik Indira Pramesti-perempuan cantik yang selalu ia kagumi sejak dulu. Indi-sapaan perempuan itu lantas marah besar pada Damian karena dengan seenaknya menyetubuhi dirinya dalam keadaan mabuk. Indi bersumpah tidak akan mau bertemu dengan Damian lagi apa pun yang terjadi. Namun, takdir seolah sedang tidak berpihak pada Indi. Perempuan itu harus menikah dengan Damian atas perjodohan kedua orang tua mereka karena tahu Indi sudah berpisah dengan kekasihnya-Rangga. Akankah Indi menerima perjodohan tersebut?”
1

Bab 1 Bertemu Kembali

05/02/2024

2

Bab 2 Menagih Malam Pertama

05/02/2024

3

Bab 3 Masih Mencintai Rangga

05/02/2024

4

Bab 4 Oleh-Oleh Terindah

05/02/2024

5

Bab 5 Diam, Atau Aku Hajar Sekarang juga!

05/02/2024

6

Bab 6 Bakal Minta Jatah Lagi

05/02/2024

7

Bab 7 Setengah Jam Saja

05/02/2024

8

Bab 8 Make Love in Morning Day

05/02/2024

9

Bab 9 Janji Damian

05/02/2024

10

Bab 10 Ingin Membuat Kesepakatan

05/02/2024

11

Bab 11 Lebih Baik Menunda Kehamilan

05/02/2024

12

Bab 12 Mantan Sekretaris Aku

05/02/2024

13

Bab 13 Ancaman Indi

05/02/2024

14

Bab 14 Ajakan Damian

05/02/2024

15

Bab 15 Terhalang oleh Pesanan Indi

05/02/2024

16

Bab 16 Memakan Waktu Hingga Tiga Jam Lamanya

05/02/2024

17

Bab 17 Perasaan yang Tidak Bisa Dirasakan

05/02/2024

18

Bab 18 Meredam Emosi Indira

05/02/2024

19

Bab 19 Pesan Masuk dari Rangga

05/02/2024

20

Bab 20 Alasan Damian Mencintai Indi

05/02/2024

21

Bab 21 Mengeluarkan Posessive-nya

09/02/2024

22

Bab 22 Ada Kamar Pribadi

11/02/2024

23

Bab 23 Menuntaskan Hasrat

11/02/2024

24

Bab 24 Pertanyaan Indi

13/02/2024

25

Bab 25 Membandingkan Indi

13/02/2024

26

Bab 26 Kedatangan Adik Rachel

13/02/2024

27

Bab 27 Ada yang Indi Bicarakan

15/02/2024

28

Bab 28 Mana Mungkin Sakit Hati

15/02/2024

29

Bab 29 Cek CCTV Rumah

15/02/2024

30

Bab 30 Maafkan Aku

16/02/2024

31

Bab 31 Masih Mencintai Rachel, kan

16/02/2024

32

Bab 32 Bertemu dengan Arion

16/02/2024

33

Bab 33 Sabotase Mobil

18/02/2024

34

Bab 34 Dimulai dari Hal Kecil

18/02/2024

35

Bab 35 Makan Malam Romantis

19/02/2024