Di Ceraikan Karena di Tuduh Mandul

Di Ceraikan Karena di Tuduh Mandul

Caca Aca

5.0
Komentar
4.2K
Penayangan
20
Bab

Namaku Kinara. Di usiaku yang menginjak ketigapuluh, aku tak kunjung menikah. Karena khawatir anaknya menjadi perawan tua, orangtuaku menjodohkanku dengan lelaki pilihannya. Dua tahun menikah aku tak kunjung punya anak. Hingga mertuaku menuduhku mandul dan suamiku menikah lagi dengan perempuan lain. Sakit hati dengan perbuatan mereka, itu pasti. Aku berjanji dalam hatiku, suatu saat akan ku buktikan pada mereka, kalau aku ini tidak mandul,seperti apa yang mereka tuduhkan.

Di Ceraikan Karena di Tuduh Mandul Bab 1 Di Jodohkan

"masih jauh Ga?" Tanya Farisa. Hatinya mulai tak tenang, jangan jangan Ega mau menculiknya. "Ya ampun bodoh banget sih aku, kenapa mau saja di ajak orang yang baru kenal." Ucapnya dalam hati.

"Egaa...!" teriak Risa.

"Iya kenapa Sa?" jawab Ega sedikit panik.

"Berhenti di depan bang!" perintahnya, pada pak supir.

Setelah membayar taxi, Ega mengajak Farisa masuk kesebuah rumah, namun Farisa masih berdiri terpaku di depan rumah Ega, rumah mewah berlantai dua.

Farisa mengurungkan niatnya masuk kerumah Ega, Farisa merasa tak pantas menginjakan kakinya di rumah semewah itu.

"Sa ayo masuk! Malah bengong sih, masih tak percaya kalau aku orang baik?" tanya Ega.

"Ga, maaf ya, aku nggak jadi nginep, aku mau cari kontrakan saja," ucap Farisa.

Bukan takut di culik, tapi Farisa takut, tak diterima keluarga Ega.

Namun bukannya menjawab, Ega malah menggenggam lembut jemari Farisa.

"Sa, dirumah cuma ada mama sama mbok Sum, dan aku, tadi sudah bilang sama mama, kalau aku pulang bersamamu," ucap Ega meyakinkan Farisa.

Tok!

Tok!

Tok! Ega mengetuk pintu.

Seorang perempuan tua, membukakan pintu "Eeh Mas Ega sudah pulang, ini siapa mas? pacarnya ya?" tanyanya ceplas ceplos.

"Apaan si Mbok, mama mana mbok?" yang di tanya bukannya menjawab malah senyum senyum nggak jelas.

"Ada di dalam Mas," jawab mbok Sum.

"Ayo Neng silahkan masuk!" ajak mbok Sum.

Farisa hanya mengangguk, lalu mengikuti Ega dari belakang.

"Mamaa," sapa Ega sambil tersenyum.

Perempuan yang sedang duduk di sofa pun tersenyum melihat kearah Ega, dan Farisa.

"Ini pasti Farisa ya," ucapnya.

"I..iya Tante," jawab Farisa gugup.

"Aku Yasinta, mamanya Ega."

"Ya sudah, kalian pasti capek, istirahatlah dulu!" kata Yasinta ramah.

"Ga, antar Farisa kekamarnya ya,?" ucap Yasinta.

"Siap bos!" jawab Ega patuh.

Mendengar jawaban Ega yang sangat bersemangat, Yasinta hanya geleng geleng kepala melihat tingkah anaknya. Dirinya heran, tumben saja Ega bisa begini ceria saat bersama seorang gadis.

Selama ini Ega tak sesemangat ini, apa lagi kalau dirinya membahas soal perempuan, Ega terlihat malas menanggapinya. Pernah suatu saat Yasinta meminta Ega untuk melamar Gina, karena hanya gadis itu yang dekat sama Ega. Namun Ega menolak dengan alasan Gina cuma teman biasa saja, dan Ega tak punya perasaan lebih. Kalau sudah begitu, Yasinta tak mau memaksakan keinginannya, pada anak semata wayangnya. Baginya kebahagiaan anaknya lebih penting dari apapun. Walau sejujurnya dirinya ingin sekali, Ega menikah dan segera, memberinya seorang cucu.

Selesai membersihkan diri Farisa bingung mau ngapain, ingin keluar menemui Ega, tapi ini kan sudah malam, takut di sangka perempuan nggak bener. mungkin lebih baik tidur saja, pikirnya.

Baru saja Farisa merebahkan tubuhnya, terdengar suara Ega memanggilnya.

"Sa, makan dulu yuk!" katanya.

Farisa keluar menghampiri Ega. Dilihatnya Ega semakin mempesona.

"Aduh mikir apa sih?" makinya dalam hati.

"Sa, makan yuk! aku udah lapar nih," ajakan Ega pun di iyakan Farisa dengan anggukan.

Ada bermacam lauk, yang tersedia di meja makan, sampai Farisa bingung memilihnya. Matanya tertuju pada ayam goreng, seketika

ia, teringat ibunya. "Menu kesukaan ibu, aah ibu aku kangen ibu, aku kangen makan bersama ibu." Tak terasa bulir bening menetes di matanya.

"Sa, ayo dong makan! kok malah nangis sih, jelek tau." Ucap Ega sambil mengusap pipi Farisa.

"Maaf Ga, aku hanya teringat ibu, ibu suka sekali dengan ayam goreng," ujar Farisa.

"Sa, aku tau apa yang kamu rasakan, tapi kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Kamu harus semangat Sa, semangat demi ibumu. Ibumu ingin kamu bahagia, jadi kamu harus membuktikannya," ucap Ega menyemangati Farisa.

"Sekarang makan dulu Sa, aku suapin ya bujuk Ega.

"Aku bisa sendiri Ga," sahutnya, sembari mengambil sesendok nasi lalu memakannya.

Tanpa mereka berdua sadari, ternyata Yasinta melihat dan mendengar percakapan mereka. Ada rasa sedih melihat gadis itu menangis, tak dapat di bayangkan bagaimana rasanya kehilangan seorang ibu, karena dirinya pernah merasakannya, dan Yasinta berjanji dalam hatinya akan menjaga, dan menyayangi Farisa layaknya anak sendiri.

Keesokan paginya Farisa telah bersiap hendak berangkat mencari alamat ayahnya, setelah sarapan pagi, Farisa pun berpamitan pada Yasinta.

"Tante Risa pamit dulu ya," ucap Farisa.

"Ga, aku..

"Sa, tunggu dulu! Aku kan udah janji mau antar kamu," sela Ega memotong ucapan Farisa.

"Sa, Jakarta ini luas loh sayang, kamu jangan pergi sendiri, banyak orang jahat di sekitar kita, biar Ega nanti yang antar kamu, Tante nggak mau kenapa-kenapa sama kamu," imbuh Yasinta.

"Tapi Tante, insyaallah Risa bisa sendiri, Risa nggak mau ngerepotin Ega terus. Risa pamit ya Tante" ucap Farisa sambil mencium tangan Yasinta.

"Tunggu dulu Sa! Aku mohon kamu jangan pergi sendiri ya, aku akan temani kamu, tapi kamu sabar ya, aku ada urusan sebentar, aku janji setelah selesai, aku segera pulang." bujuk Ega setengah memaksa.

Entah mengapa Ega tidak rela Farisa pergi sendiri, Ega takut kalau nanti Farisa bertemu ayahnya dan berakhir kecewa, siapa yang akan menenangkannya dan menghiburnya.

"Baiklah Ga, kalau itu maumu, aku akan tunggu kamu pulang." balas Farisa.

"Sa, Tante tau apa yang kamu rasakan, kalau Tante jadi kamu belum tentu Tante sekuat kamu Nak," ucap Yasinta.

"Sa, boleh Tante peluk kamu sayang" ucapnya lagi sambil memeluk Farisa.

Farisa pun menangis sesenggukan di pelukan Tante Yasinta, ada rasa damai dalam hatinya, Farisa seperti menemukan kembali kehangatan pelukan seorang ibu.

"Mulai sekarang kamu jangan sungkan ya sama Tante, anggap Tante sebagai ibumu, Tante sudah menganggap kamu, seperti anak Tante sendiri." ucapnya sambil membelai sayang, rambut Farisa.

Mendengar perkataan Yasinta, tangis Farisa pun makin menjadi. Begitu terharunya Farisa, hingga air matanya mengalir begitu deras, membasahi baju Yasinta.

"Menangis lah Nak! jika itu membuatmu merasa lega." Kembali Yasinta membelai Farisa dengan lembut.

Ega yang melihat mamanya begitu tulus menyayangi Farisa, perasaanya campur aduk, ada sedih juga senang, Ega tak menyangka kehadiran Farisa akan di terima baik oleh mamanya.

"Mama, aku berangkat dulu ya."

Pamit Ega menyadarkan mereka berdua yang sedang larut dalam pikiran masing-masing.

"Iya sayang, hati-hati ya, ingat kalau udah selesai urusannya segera pulang, Farisa pasti menunggumu," ucap Yasinta.

"Iya Ma, pasti." jawab Ega.

"Sa, aku pergi dulu ya, ingat jangan kemana-mana dulu, tunggu sampai aku pulang!" pesan Ega.

Farisa hanya mengangguk tanpa menjawab perkataan Ega.

"Sa lebih baik kamu istirahat aja ya, tunggu sampai Ega pulang, Tante mau berangkat ke butik dulu." ucap Yasinta.

"Iya tante" jawab Farisa.

Di kamarnya Farisa malah jadi bingung, Farisa tak biasa bersantai-santai seperti gadis lain. Dirinya sudah biasa beraktifitas sepanjang hari.

Kalau seperti ini, tentu, membuatnya bosan, akhirnya Farisa memutuskan untuk membantu mbok Sum di dapur.

"Mbok, mbok Sum," sapanya ketika melihat mbok Sum sedang mencuci piring.

"Iya Neng, ada apa?" balas mbok Sum.

"Ada yang bisa di bantu nggak? Aku bosan Mbok nggak ngapa-ngapain." Ujar Farisa.

"Beneran, Neng mau bantu?" ucap mbok Sum senang.

Baru kali ini ada gadis teman majikannya, ramah padanya. Biasanya mereka sombong, seperti Gina contohnya. Boro-boro menyapa menoleh pun enggan. Mbok Sum merasa seperti tak kasat mata, tak terlihat oleh mereka, padahal mereka sama dengan mbok Sum, sama-sama manusia hanya statusnya saja yang berbeda.

"Mbok, kok malah melamun?"

Ucapan Farisa menyadarkan mbok Sum dari lamunannya.

"Kalau Neng mau bantu, mau nggak Neng nyiramin bunga-bunga di halaman depan, itu selang airnya ada disamping!" ucap mbok Sum.

"Baiklah mbok dengan senang hati," Farisa pun bergegas menuju halaman depan.

Baru saja Farisa menyalakan keran, terdengar ponselnya berdering.

Farisa segera mengambil ponsel di sakunya, ada panggilan nomor baru.

"Hallo," ucap Farisa.

"Sa, ini Tante, kamu baik baik saja kan?" tanyanya dari seberang sana.

"Tante aku baik-baik saja kok, ini lagi bantu mbok Sum nyiram bunga," jawab Farisa.

"Syukurlah kalau gitu, Tante cuma khawatir sama kamu, Tante tutup dulu ya,"

"Iya Tante," balas Farisa.

Tante Yasinta baik banget sama aku, segitu khawatirnya sampai telepon segala. Ya Allah engkau telah mengambil ibuku, namun engkau menggantikan dengan Tante Yasinta. Walaupun seorang ibu takan terganti, aku merasa ibu hadir kembali melalui Tante Yasinta, aku merasa dia seperti ibuku. gumam Farisa, dengan senyum bahagia.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Caca Aca

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku