Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Rahim Bayaran Presdir Dingin

Rahim Bayaran Presdir Dingin

Syavinka

5.0
Komentar
67.2K
Penayangan
100
Bab

Angeline adalah seorang pekerja keras, ia baru saja dipecat dari tempat kerjanya karena fitnah rekan kerjanya. Angeline yang harus menjadi tulang punggung keluarganya berusaha mencari pekerjaan apa pun yang bisa menghasilkan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Bryan yang menawarkan sebuah pekerjaan dengan bayaran yang sangat tinggi. Bryan adalah seorang presdir perusahaan ternama. Dirinya yang sebagai keturunan terakhir dituntut untuk segera menikah agar bisa meneruskan keturunan. Dijodohkan dengan kenalan ibu tirinya, membuat Bryan enggan melakukannya karena tau niat dibalik sikap sang ibu tiri. Bryan pun bertemu dengan Angeline dan menawarkan pekerjaan untuk menyewakan rahimnya dan melahirkan keturunannya. Apakah Angeline bersedia untuk menyewakan rahimnya dan melahirkan anak dari Bryan? Akan kah benih-benih cinta tumbuh di antara keduanya dan menjadikan pernikahan mereka sebagai pernikahan yang sah?

Bab 1 Pertemuan

Langkah kaki seorang pria memasuki sebuah restoran bintang tujuh. Restoran mewah dengan pelayanan bak istana. Pria tampan yang hendak memasuki usia empat puluh tahun itu mencuri perhatian para pelanggan yang berada di sana.

Tubuhnya yang tegap dengan porposi yang sempurna. Hidung mancung, bibir tipis dengan sedikit bulu halus memenuhi dagu dan sekitar lehernya. Menambah maskulin yang ia tampilkan. Rambut hitam yang tertata rapih, Bryan duduk di salah satu meja yang sudah direservasi sebelumnya.

“Kau datang terlambat.”

Terdengar suara seorang wanita yang tak jauh berbeda usianya dengannya. Ibu tiri yang terpaut hanya lima tahun darinya. Wanita bernama Jennifer Rose itu baru saja menerima status janda karena kematian suaminya, alias ayah Bryan seminggu yang lalu. Tepat di sampingnya seorang wanita muda yang terus menatap Bryan tanpa kedip sejak kedatangannya.

“Aku sibuk, kau tau? Mengurus perusahaan yang ditinggal oleh Papa sangat membuatku lelah,” ucap Bryan terdengar sinis. Terlihat ia sama sekali tidak menyukai ibu tirinya itu yang sudah menikahi ayahnya selama lima tahun.

Nyonya Rose mendelik kesal, ia pun sama tak sukanya dengan Bryan. Namun, status di antara keduanya membuat Nyonya Rose memendam amarahnya itu.

“Kau tau, usiamu sudah tak lagi muda. Dan aku pun sangat tidak mungkin melahirkan adik untukmu.

Terlebih semenjak kepergian ayahmu, aku sangat kesepian,” ucap Nyonya Rose dengan nada dibuat sangat manis.

Bryan menyunggingkan bibirnya, ia tahu ucapan ibu tirinya itu hanyalah sebuah kebohongan yang sengaja ia buat.

“Dan aku sama sekali tidak mengharapkan seorang adik darimu.”

“Kau selalu bersikap tidak sopan padaku.”

“Haruskah?”

Nyonya Rose kembali menahan napas, ia tau belum saatnya untuk marah pada anak tirinya itu. Ia pun melebarkan senyumnya dan menatap ke arah gadis di sampingnya.

“Kenalkan, dia Lucy Mariel. Lulusan S2 di London jurusan hukum. Dan saat ini sedang membangun perusahaan firmanya sendiri.”

“Hai, salam kenal. Aku Lucy, aku ... sangat menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu,” ucap Lucy tanpa sungkan.

“Apa ... kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Bryan heran.

“Ya, saat peringatan ulang tahun perusahaanmu yang ke lima puluh tahun. Kita bahkan sempat berbincang sebentar,” ucap Lucy tersenyum malu-malu.

“Ahh, begitu rupanya. Lalu?”

“Aku berencana untuk membuat kalian tunangan –ah bukan tapi membuat pesta tunangan kalian berdua lalu pesta pernikahan yang meriah pastinya.”

“Apa?”

“Kau tau Bryan, kita tidak pernah tau akan hidup sampai kapan bukan? Karena itu, kau harus meneruskan garis keturunan papamu. Aku tidak bisa memberikan adik untukmu, jadi kenapa tidak kau yang memberikan aku seorang cucu? Meski pun aku terlalu muda untuk menjadi seorang nenek. Tapi, akan aku pastikan untuk menjadi nenek yang penyayang untuk anakmu,” tutur Nyonya Rose dengan senyuman penuh kemenangan.

Nyonya Rose tau jika Bryan sama sekali tidak bisa menolak pertunangan yang akan ia lakukan. Bryan tak punya alasan, karena ia pun tak memiliki pacar. Terlebih banyak gosip yang beredar bahwa Bryan sama sekali tidak tertarik dengan seorang wanita.

Karena itu, ini menjadi peluang yang sangat besar untuk menguasai ahli waris yang akan Bryan lahirkan. Dari gadis yang sebenarnya masih satu kerabat dengan Nyonya Rose. Akan ia pastikan semua harta kekayaan suaminya itu jatuh kepada tangannya. Bryan hanya terdiam dengan meminum wine yang sudah tersaji di atas meja. Tanpa kata, malam itu pun berlangsung dengan damai dan kemenangan Nyonya Rose.

Seorang wanita berambut panjang berlarian dengan penuh kekuatan. Sepatu kets yang sudah kusam dan tak layak pakai membungkus kaki mungilnya. Dalam pelariannya, Angeline terus melihat jam di tangannya dan terus berlari memasuki pusat pembelanjaan yang sedang ramai.

Satu tangannya membawa sekantong paper bag yang berisi sebuah gaun mahal yang ia dapatkan dari salah satu butik ternama. Angeline tak perduli dengan pandangan orang-orang yang terganggu akan kehadirannya yang terlihat rusuh dan tak mau mengalah.

Wajahnya sudah penuh dengan bulir keringat, tapi Angeline tak kunjung berhenti. Hingga di salah satu tempat pertunjukkan terlihat beberapa orang yang sedang menunggu dengan gelisah. Angeline menambah kekuatannya dan menghampiri orang tersebut.

“Kenapa lama sekali? Apa kau tau acaranya akan mulai sebentar lagi!” omel wanita itu yang memakai jasa Angeline untuk mengambilkan gaunnya tepat sepuluh menit sebelum acaranya dimulai.

“Aku ... sudah belari secepat mungkin. Kalau kau, memintaku mengambil gaunmu lima menit lebih awal mungkin aku bisa datang lebih cepat,” ucap Angeline dengan napas yang tersenggal.

“Aku gak perduli! Aku sudah bayar pakai ewallet yaa,” ucapnya dan masuk tanpa mengucapkan terimakasih.

Angeline pun mengecek ponselnya dan tersenyum karena pembayarannya sudah masuk. Ia pun berjalan lunglai menuju kursi taman tak jauh dari tempatnya berada. Ia mengeluarkan sebotol air meneral dan meminumnya langsung habis dalam sekali teguk.

Angeline menatap orang-orang yang datang ke tempatnya berada. Memakai gaun yang cantik dan riasan yang cukup menor. Di beberapa sisi terdapat banner pemberitahuan tentang pertunjukan fanmeeting salah satu boyband Korea yang datang ke sana.

“Kenapa ... wajah mereka sama semua?” tanya Angeline yang sama sekali tidak tau dunia hiburan karena sibuk bekerja sejak ia sekolah.

Sudah tiga bulan Angeline bekerja serabutan semenjak dirinya dipecat dari tempatnya bekerja dulu. Salah satu rekan kerjanya memfitnah Angeline hingga dirinya dipecat tanpa pesangon oleh bosnya.

Hal ini membuat Angeline yang menjadi seorang tulang punggung harus bekerja siang malam demi memenuhi kebutuhan keluarganya dan membayar biaya rumah sakit sang ibu yang menderita gagal ginjal dan mengharuskan cuci darah seminggu sekali.

Ditambah seorang adik yang masih sekolah di bangku kelas tiga SMA. Angeline bersedia bekerja apa saja asalkan mendapatkan penghasilan yang sepadan. Bahkan ia pernah menjadi badut di carnaval seharian.

Ponsel Angeline berdering, ia pun melihatnya dan sebuah pesanan masuk.

“Supir pengganti?” gumam Angeline sembari bangkit dari tempatnya duduk. Tak berapa lama, Angeline tiba di parkiran restoran mewah. Seorang supir menghampiri Angeline yang terlihat tampak pucat.

“Aku harus pergi dan tidak bisa mengantar tuanku, apa kau bisa mengantarnya sampai rumah?” ucap supir tersebut.

“Tentu saja, aku punya sim A.”

“Baiklah, aku sudah membayarmu diawal. Jadi, pastikan untuk mengantarnya dengan selamat.”

Satu jam menunggu di dalam mobil, seorang pria datang mendekat dan mengetuk jendela mobil. Angeline langsung keluar dan dengan sigap membukakan pintu belakang.

“Siapa kau?” tanya Bryan yang rupanya bos dari supir yang digantikan oleh Angeline.

“Halo, aku supir pengganti yang akan mengantarkan Anda sampai rumah. Silahkan masuk,” ucap Angeline dengan suara yang lemah.

Bryan memandangnya dengan tatapan tidak suka, terlebih wajah Angeline yang tampak pucat membuat Bryan ragu.

“Pulanglah, biar aku yang membawa mobilnya,” usir Bryan dan menutup pintu yang dibukakan oleh Angeline.

Angeline terkejut dan terdiam tanpa bergerak sedikit pun.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Syavinka

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku