icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

PENDEKAR TAPAK DEWA

Bab 5 PART LIMA

Jumlah Kata:1251    |    Dirilis Pada: 23/04/2022

ereka dikejutkan oleh tangis seorang bayi. Seperti dikomando pula,

..oeeeek..

n adalah bayi yang perempuan dari mendiang Galara Tanaru. Bayi malang yang masih merah itu tergeletak di samping kiri mayat ibunya. A

epala desa, Dato!" berkata La Mbere alias Bumi

bawa pulang dia ke Pulau Sangia. Aku akan membesarkan bayi itu, sebagai pengganti bayi

laki-lakinya mendiang galara Tanaru itu dengan ujung jari kak

ya sudah l

um kembali ke Pulau, kalian bumi hanguskan

rangkum pukulan api, seluruh rumah penduduk pun porak-poranda dan dilalap

dengan tanah, punah dengan menyisakan asap dan nyala di sana sini. Sudah tak adalagi kehidupan di situ. Tak ada lagi

enjadi tragedi yang memilukan. Sebuah kebiadaban yang luar bia

an dengannya maupun oleh para jawara persilatan yang beraliran putih. Ditakuti, tentu karena ia memiliki tingkat keilmuan yang amat sulit diukur keting

ng di Kepulauan Tenggara kala itu sudah merinding duluan. Tiada kawan dalam kamus Dewa Api dari Tenggara dan selu

a dikarenakan La Afi Sangia merasa kecewa karena ia tidak diu

l itu justru dirasakan sebagai sebuah penistaan menur

karena La Afi berkali-kali menyembah-nyembah mohon ampunan dan berjanji untuk bertobat. Ternyata semua itu hanyalah sekedar sandiwara untuk meloloskan diri dari maut. Karena setelah sang mantan jenderal perang dari kekaisaran Dinast

i (raja) dengan menggelari diri dengan sebutan Paduka Sandaka Dana. Ia pun mengikrakan darinya menjadi

rintahkan para anak buahnya untuk melakukan perompakan terhadap setiap kapal dagang yang melintasi laut di

ai pajuri (prajurit) angkatan perangnya. Dengan kekayaan yang demikian banyak yang dimilikinya, Negeri Sangiang pun mampu menciptakan sebuah angkatan perang yang

nghancurkan kekuatan Negeri Sangiang, untuk mendekati pulau pun mereka tak mampu. Hal tersebut bukan hanya sekali dua kali dilakukan oleh Kerajaan Mbojo yang merupakan kerajaan pemilik wilayah, tapi sangat sering. Bahkan kerajaan tersebut beberapa kali meminta dukungan pasukan dari kerajaan-kerajaa

yat bergelimpangan di mana-mana. Dan kondisi mayat-mayat itu nyaris serupa, yaitu gosong bersama pem

bermata sipit, tetapi jenggot dan kumis panjang telah memutih laksana sutera, seputih rambutnya yang tergelung dan

memaafkannya dulu! Biadab keparat!" gumam laki-laki yang tak lain adalah Dato Hongli it

tulang rahangnya menonjol di pipi tuannya yang tampak kokoh itu. Kulitnya yang putih berubah merah saga akibat menahan amarah yang sangat. Rupan

tiwa itu, atau mereka merasa ketakutan untuk hadir di tempat itu. Tentu siapa yang tak merindin

harus dikuburkan," guman Dato Hongli

an kanannya. Kakinya terus melangkah pelan dan hati-hati, sembari matanya mengama

gia benar-benar manusia yang sangat biadab! Anak-a

elan demi menyaksikan bekas aksi kebiadaban manusia

utuh, tiba-tiba telingannya menangkap suara 'greek' yang halus. Seperti suara nafas le

suara itu, dan berharap itu adalah suara kehidupan. Di situ ia mendapati begitu banyak mayat yang berg

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
PENDEKAR TAPAK DEWA
PENDEKAR TAPAK DEWA
“Kebiadaban yang dilakukan oleh gerombolan La Kala (Kelompok Merah-Merah) di bawah pimpinan La Afi Sangia makin merajalela. Terakhir mereka membantai penduduk Desa Tanaru beserta galara (kepala desa) dan keluarganya sebelum desa mereka dibumihanguskan. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana yang sebagian besarnya hangus bersama rumah-rumah mereka. Darah Jenderal Hongli alias Dato Hongli mendidih menyaksikan bekas aksi kebiadaban yang di luar batas kemanusiaan itu. Darah kependekarannya menangis dan jiwanya menjerit. Tetapi ada sebuah keajaiban. Di antara mayat-mayat bergelimpangan ada sesosok bayi mungil yang kondisinya masih utuh. Tubuhnya sama sekali tak bergerak. Sang bayi malang seolah-olah tak tersentuh api walau pakaiannya telah menjadi abu. "Oh...ternyata bayi ini masih hidup," desah sang mantan jenderal perang kekaisaran Dinasti Ming. Diangkatnya bayi itu seraya lanjut berucap, "Akan kubesarkan bayi ini. Dia adalah sang titisan para dewa. Akan kugembleng ia agar kelak menjadi seorang pendekar besar. Kelak, biarlah dia sendiri yang akan datang untuk menuntut balas atas kematian keluarganya serta seluruh penduduk desanya. Akan kuberi bayi ini dengan nama La Mudu. Ya, La Mudu, Si Yang Terbakar...!" Lalu sang pendekar besar yang bergelar Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayangan) itu mengangkat tubuh bayi itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya. Ia berseru dengan suaranya yang bergetar membahana: "Dengarlah, wahai Dewata Agung....! Aku bersumpah untuk menggembleng bayi ini agar kelak menjadi seorang pendekar besar yang akan menumpas segala bentuk kejahatan di atas bumi ini..!! Wahai Dewata Agung, kabulkanlah keinginanku ini...!! Kabulkan, kabulkan, kabulkan, wahai Dewata Agung...!" Sang Hyang Dewata Agung mendengar permohonannya. Alam pun seolah mengamininya. Cahaya petir langsung menghiasi angkasa raya yang disusul dengan guruh gemuruh yang bersahut-sahutan. Tak lama kemudian hujan deras bagai tercurah mengguyur bumi yang nestapa. Tangis sang bayi malang tiba-tiba pecah. Jenderal Hongli alias Dato Hongli atau sang pendekar besar bergelar Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayangan) segera meninggalkan tempat itu. Ia membawa sang bayi ke arah barat dengan gerakan melesat bagai kilat.”