icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

PENDEKAR TAPAK DEWA

Bab 4 PART EMPAT

Jumlah Kata:1175    |    Dirilis Pada: 23/04/2022

orang tua misterius melesat ke atas sec

k, ple

ghhk

hampir bersamaan dengan satu tendangan keras pada punggungnya. Tak ayal tubuh

s. Sementara di punggungnya ia merasakan seakan-akan menemp

h siput telinganya. La Mudu demikian geram mendengar tawa ejekan itu. Pelan-pelan ia mengerahkan dan mengumpulkan kembali tenaga dalamnya lalu dipusatkan pad

g sudah dianggapnya sebagai cucunya itu. Maka ketika La Mudu membalikkan tubuhnya sembari mengirimkan

uarr

raannya itu, tak ayal membuat tubuhnya kembali membentur pohon yang barusan dipeluknya dengan keras. Ia merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Andaikata dampak ledakan itu mengenai tubuh orang awam,

akit yang luar biasa. Naga-naganya ia benar-benar sudah payah. Karena untuk mengumpulkan kembali kekuatan tubuhnya dalam waktu yang a

hik hik

mm..

h barat, sembari megeluarkan tertawa kecil yang bernada mengejek. Di kedua belah tangannya terlihat menjinji

h!" teriak La Mudu, geram bercampur heran. Orang tua misteri

juga mau mandi, sudah tidak tahan lagi dengan bau

embuat La Mudu ka

...?? A

sahutan dari si kakek-kakek, yang membesarkannya sejak bayi itu, terdengar demikian dekat, bahkan seolah-olah mem

mengujiku..!" guman La Madu. Ia pun t

ang iy

Hmm

garuk kepalanya yang

erangan Dato

kah pula ad

mbali ke masa silam dari riway

lu ke enam belas

arganya adalah melaut, nelayan. Namun mereka juga bercocok tanam dan beternak kerbau, kuda, dan kambing. Lahan sabana dan persawahan yang luas dan subur yang berada di bela

hasil laut yang telah diolah menjadi dendeng atau teri-teri kecil. Tanaru juga dikenal sebagai penghasil mutiara yang bermutu tinggi, karena para pelautnya terkenal sangat mahir dalam hela menyelam dalam kedalaman laut untuk mencari kerang-kerang mutiara. Keadaa

lah mereka membangun biduk rumah tangganya sudah hampir sepuluh tahun. Dengan demikian, kelahiran anak kembar dampitnya ini merupakan suatu karunia yang amat besar dan membahagiakan bagi mereka. Juga,

sendiri mengirimkan utusan khususnya untuk memenuhi undangan sang galara yang terdiri dari beberapa petingginya yang terdiri dari para Dato dan Ncuhi. Karena demikian, ada berpuluh-puluh kerbau dan kambing yang dipotong, serta beragam atraksi pesta yang digelar. Berbagai atraksi atau hiburan diundang. Dan atr

g amat mengenaskan. Tanpa gelagat dan hawa sedikit pun, tiba-tiba La Afi Sangia, sang pemimpin gerombolan La Kala (Kelompo

eh La Afi Sangia dan ribuan anak buahnya. Jerit-jerit kematian menyayat hati menembus langit malam. Nyawa-nyawa

erdosa. Dan perintah itu dipatuhi oleh seluruh anak buahnya dengan baik dan tanpa perikemanusiaan. Mereka benar-benar tak ubahnya laksana para iblis yang amat ganas. Para manusia berseragam kebesaran merah-merah itu laksana segero

uh anak buahnya bergelak tawa dengan sangat pongahnya. Suara mereka sangat riu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
PENDEKAR TAPAK DEWA
PENDEKAR TAPAK DEWA
“Kebiadaban yang dilakukan oleh gerombolan La Kala (Kelompok Merah-Merah) di bawah pimpinan La Afi Sangia makin merajalela. Terakhir mereka membantai penduduk Desa Tanaru beserta galara (kepala desa) dan keluarganya sebelum desa mereka dibumihanguskan. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana yang sebagian besarnya hangus bersama rumah-rumah mereka. Darah Jenderal Hongli alias Dato Hongli mendidih menyaksikan bekas aksi kebiadaban yang di luar batas kemanusiaan itu. Darah kependekarannya menangis dan jiwanya menjerit. Tetapi ada sebuah keajaiban. Di antara mayat-mayat bergelimpangan ada sesosok bayi mungil yang kondisinya masih utuh. Tubuhnya sama sekali tak bergerak. Sang bayi malang seolah-olah tak tersentuh api walau pakaiannya telah menjadi abu. "Oh...ternyata bayi ini masih hidup," desah sang mantan jenderal perang kekaisaran Dinasti Ming. Diangkatnya bayi itu seraya lanjut berucap, "Akan kubesarkan bayi ini. Dia adalah sang titisan para dewa. Akan kugembleng ia agar kelak menjadi seorang pendekar besar. Kelak, biarlah dia sendiri yang akan datang untuk menuntut balas atas kematian keluarganya serta seluruh penduduk desanya. Akan kuberi bayi ini dengan nama La Mudu. Ya, La Mudu, Si Yang Terbakar...!" Lalu sang pendekar besar yang bergelar Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayangan) itu mengangkat tubuh bayi itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya. Ia berseru dengan suaranya yang bergetar membahana: "Dengarlah, wahai Dewata Agung....! Aku bersumpah untuk menggembleng bayi ini agar kelak menjadi seorang pendekar besar yang akan menumpas segala bentuk kejahatan di atas bumi ini..!! Wahai Dewata Agung, kabulkanlah keinginanku ini...!! Kabulkan, kabulkan, kabulkan, wahai Dewata Agung...!" Sang Hyang Dewata Agung mendengar permohonannya. Alam pun seolah mengamininya. Cahaya petir langsung menghiasi angkasa raya yang disusul dengan guruh gemuruh yang bersahut-sahutan. Tak lama kemudian hujan deras bagai tercurah mengguyur bumi yang nestapa. Tangis sang bayi malang tiba-tiba pecah. Jenderal Hongli alias Dato Hongli atau sang pendekar besar bergelar Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayangan) segera meninggalkan tempat itu. Ia membawa sang bayi ke arah barat dengan gerakan melesat bagai kilat.”