icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

PENDEKAR TAPAK DEWA

Bab 3 PART TIGA

Jumlah Kata:1123    |    Dirilis Pada: 23/04/2022

u dengan dahsyat ke arahnya, La Mudu yang telah siaga dengan serangan yang sangat mematikan itu, segera menyentakkan kaki kanannya ke bumi da

umm

ngin dari ledakan itu, menjadikan pepohonan di sekitar itu seketika

ndung dari balik cahaya putih ciptaannya, terlihat celingukan. Dan dengan p

luar biasa...! Tak percuma aku membesarkan dan mengangkatnya sebagai murid. Kau akan menjadi seorang pendekar besar, Mudu. Kau akan menggan

ssshh

Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayanga), tiba-tiba merasakan kepala dan punggungnya basah ol

abang pohon, tampak La Muda baru saja memasukkan kem

ato Hongli. Dan tanpa membuang-buang waktu, satu larik cahaya

akkk

ya barusan mencapai sasaran, La Mudu telah lebih dulu bergerak menghindar, dan tiba-tiba telah bertengg

pukulan berupa gumpalan cahaya panas sebesar kepala manusia itu dikiblatkan ke atas,

arrr

ang tua yang masih terus menyelimuti dirinya dengan cahay putih kemilau itu pun terpen

mbali nafasnya dengan menyalurkan tenaga murni ke seluruh jaringan tubuhnya. Namun belum lagi ia melakukannya, tiba-tiba telinganya menangkap suara decakan seperti

mbil serta-merta bergerak bangkit, bersamaan dengan

embari dengan cepat ia melesatkan tub

a biru kemilau, tubuh si bocah meluncur ke bawah sembari mengi

bergerak menghindar sembari mengirimkan satu puk

uarr

cukup kera

Hmm

ng. Tubuh murid kecilnya telah raib di tempatnya. "Dia benar

angan keras ke arah lengannya. Dengan cepat Dato Hongli menggeser tubuhnya ke depan sembari menarik salah satu kakinya. Saa

ggkh

gan kanan La Mudu, dan membuat tubuhn

agar tidah sampai jatuh terduduk. Namun, sakit

i mengusap lengannya satu kali, menyembunyikan rasa sakit yang cukup

u, tapi sekaligus tengil! " ucap Dato Hongli. "Kalau begitu, aku

ya untuk menguji ilmu muridnya itu. Dengan didahului sebuah pekikan tinggi yang disertai pengerahan ten

anusia murid berguru yang sangat sakti itu. Karena dalam pertarungan fisik jarak dekat ini, keduanya memperagakan berbagai jurus tingkat tinggi. Rangkaian pukulan dengan kombinasi gerakan pukulan yang cepat dan mematikan berus

Kesaktian dan kedigdayaannya hanya mampu dikur oleh sang gurunya saja, yaitu Dato Hongli. Sehingga s

dengan efek yang sangat mengerikan bagi alam di sekelilingnya. Ini adalah sebuah pertarungan uji coba yang paling

eaat

eaah

eet.

eett

rmurid petarung itu belum mampu menyarangkan pukulan ma

oleh La Mudu saat itu, adalah bahwa lawannya sudah mul

awas diri! Tenaga tinggal sisa, m

dua belah tangannya. Ia sedang memperagakan sebuah jurus yang bernama Kitir Dewa

g dahsyat. Bukan hanya dedaunan yang berguguran, tetapi batang-batangepoho

karena manusia misterius yang terbungkus cahay

usia itu pasti sudah lari tunggang-langgan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
PENDEKAR TAPAK DEWA
PENDEKAR TAPAK DEWA
“Kebiadaban yang dilakukan oleh gerombolan La Kala (Kelompok Merah-Merah) di bawah pimpinan La Afi Sangia makin merajalela. Terakhir mereka membantai penduduk Desa Tanaru beserta galara (kepala desa) dan keluarganya sebelum desa mereka dibumihanguskan. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana yang sebagian besarnya hangus bersama rumah-rumah mereka. Darah Jenderal Hongli alias Dato Hongli mendidih menyaksikan bekas aksi kebiadaban yang di luar batas kemanusiaan itu. Darah kependekarannya menangis dan jiwanya menjerit. Tetapi ada sebuah keajaiban. Di antara mayat-mayat bergelimpangan ada sesosok bayi mungil yang kondisinya masih utuh. Tubuhnya sama sekali tak bergerak. Sang bayi malang seolah-olah tak tersentuh api walau pakaiannya telah menjadi abu. "Oh...ternyata bayi ini masih hidup," desah sang mantan jenderal perang kekaisaran Dinasti Ming. Diangkatnya bayi itu seraya lanjut berucap, "Akan kubesarkan bayi ini. Dia adalah sang titisan para dewa. Akan kugembleng ia agar kelak menjadi seorang pendekar besar. Kelak, biarlah dia sendiri yang akan datang untuk menuntut balas atas kematian keluarganya serta seluruh penduduk desanya. Akan kuberi bayi ini dengan nama La Mudu. Ya, La Mudu, Si Yang Terbakar...!" Lalu sang pendekar besar yang bergelar Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayangan) itu mengangkat tubuh bayi itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya. Ia berseru dengan suaranya yang bergetar membahana: "Dengarlah, wahai Dewata Agung....! Aku bersumpah untuk menggembleng bayi ini agar kelak menjadi seorang pendekar besar yang akan menumpas segala bentuk kejahatan di atas bumi ini..!! Wahai Dewata Agung, kabulkanlah keinginanku ini...!! Kabulkan, kabulkan, kabulkan, wahai Dewata Agung...!" Sang Hyang Dewata Agung mendengar permohonannya. Alam pun seolah mengamininya. Cahaya petir langsung menghiasi angkasa raya yang disusul dengan guruh gemuruh yang bersahut-sahutan. Tak lama kemudian hujan deras bagai tercurah mengguyur bumi yang nestapa. Tangis sang bayi malang tiba-tiba pecah. Jenderal Hongli alias Dato Hongli atau sang pendekar besar bergelar Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayangan) segera meninggalkan tempat itu. Ia membawa sang bayi ke arah barat dengan gerakan melesat bagai kilat.”