icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

PENDEKAR TAPAK DEWA

Bab 2 PART DUA

Jumlah Kata:1106    |    Dirilis Pada: 23/04/2022

ah mengerahkan tenaga dalam yang cukup tinggi. Pada saat kedua kepalan tangan si bocah diarahluruskan ke depan dengan sebuah sentakan, angin itu langsung menyongsong dan menerbangkan

santai, "Jika engkau tidak mau juga menampakkan wujudmu, maka bagiku engk

hnya hendak meninggalkan tempat itu. Mendadak suara c

esal dan malasnya. Ia menoleh ke

erhenti. Si bocah mengamati setiap detail rimba dengan seksama yang dis

ikikik

mm..

a itu bukan hanya mengeluarkan cekikikan ejekan saja, melainkan suara cekikikan dikirimkan dengan kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi, yang efeknya mampu menisik hingga ke dalam otak si bocah. Andaikata si

manusia pengecut dungu yang pernah kukenal!" berucap si bocah deng

upernah mengenal manusia lain selain gurumu yang berkulit putih, berh

, bus

ai kata-kata yang berisi ejekan itu telah berpindah lagi ke arahnya semula. Namun wujud orang

sembari berkacak kedua belah pinggangnya. "Siapakah eng

ekar besar yang di negeri asalnya punya nama besar dengan julukan Wu Ying Jianke alias Pendekar Tanpa Bayangan? Bahkan

ar biasa. Bukan hanya karena suara manusia misterius telah berpindah lagi dari

us melayani manusia misterius itu. Ia pun memungut kembali kedua ekor kelin

apannya, sekitar dua puluh depa dari tempat ia berdiri. Akan tetapi si bocah alias La Mudu tidak mampu melihat dengan jelas sa

imba Sorowua, tak pernah ia bertemu dengan manusia lain, kecuali dengan Hongli, gurunya. Setiap waktu ia hanya bercengkerama dengan laik-laki tua yang dipanggilnya dengan Ato (kakek) itu. Artinya, hanya

in-main' denganku? Tetapi, jika mendengar suaranya, jelas itu bukan suaranya Ato. Tetapi, hmm, aku bisa me

a tujuanmu mengganggu perjalananku?" teriak La Mudu

annya malah menjawabnya dengan tertawa mirip rin

i dunia ini, selain Ato sipitmu itu. Hmm, tujuanku tentu tak lain adalah menginginkan nyawamu, Mudu...! Aku menginginkan nyaw

ha ha ha ha

erkacak kedua pinggangnya. Sebuah tawa pongah, tapi

g memiliki ilmu lebih tinggi daripada aku, lebih-lebih ilmu guruku, mana mungkin kau menyembunyikan diri dari cahaya silap mata

tmu, bocah k

sterius terpancing amarah

at La Mudu kembali ter

orang tua aneh, pengecut, usil, dan bermulut besar sepertimu, wahai manusia tua misterius...!" sahut

pun tak terbendung lagi demi dise

tak tahu adab! Aku harus segera

semakin lama semakin kencang laksana gasing raksasa. Dan putaran tubuh itu seakan-akan menarik angin dari segala penjuru, yang kemudian berkumpul dan membentuk angin dahsyat laksana puting beliung. Saking kencangnya hem

misterius di depannya itu, agak menganga juga mulutnya karena takjub. Tet

ian yang sangat tinggi! Hmm, aku tidak bo

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
PENDEKAR TAPAK DEWA
PENDEKAR TAPAK DEWA
“Kebiadaban yang dilakukan oleh gerombolan La Kala (Kelompok Merah-Merah) di bawah pimpinan La Afi Sangia makin merajalela. Terakhir mereka membantai penduduk Desa Tanaru beserta galara (kepala desa) dan keluarganya sebelum desa mereka dibumihanguskan. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana yang sebagian besarnya hangus bersama rumah-rumah mereka. Darah Jenderal Hongli alias Dato Hongli mendidih menyaksikan bekas aksi kebiadaban yang di luar batas kemanusiaan itu. Darah kependekarannya menangis dan jiwanya menjerit. Tetapi ada sebuah keajaiban. Di antara mayat-mayat bergelimpangan ada sesosok bayi mungil yang kondisinya masih utuh. Tubuhnya sama sekali tak bergerak. Sang bayi malang seolah-olah tak tersentuh api walau pakaiannya telah menjadi abu. "Oh...ternyata bayi ini masih hidup," desah sang mantan jenderal perang kekaisaran Dinasti Ming. Diangkatnya bayi itu seraya lanjut berucap, "Akan kubesarkan bayi ini. Dia adalah sang titisan para dewa. Akan kugembleng ia agar kelak menjadi seorang pendekar besar. Kelak, biarlah dia sendiri yang akan datang untuk menuntut balas atas kematian keluarganya serta seluruh penduduk desanya. Akan kuberi bayi ini dengan nama La Mudu. Ya, La Mudu, Si Yang Terbakar...!" Lalu sang pendekar besar yang bergelar Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayangan) itu mengangkat tubuh bayi itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya. Ia berseru dengan suaranya yang bergetar membahana: "Dengarlah, wahai Dewata Agung....! Aku bersumpah untuk menggembleng bayi ini agar kelak menjadi seorang pendekar besar yang akan menumpas segala bentuk kejahatan di atas bumi ini..!! Wahai Dewata Agung, kabulkanlah keinginanku ini...!! Kabulkan, kabulkan, kabulkan, wahai Dewata Agung...!" Sang Hyang Dewata Agung mendengar permohonannya. Alam pun seolah mengamininya. Cahaya petir langsung menghiasi angkasa raya yang disusul dengan guruh gemuruh yang bersahut-sahutan. Tak lama kemudian hujan deras bagai tercurah mengguyur bumi yang nestapa. Tangis sang bayi malang tiba-tiba pecah. Jenderal Hongli alias Dato Hongli atau sang pendekar besar bergelar Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayangan) segera meninggalkan tempat itu. Ia membawa sang bayi ke arah barat dengan gerakan melesat bagai kilat.”