icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
PENDEKAR TAPAK DEWA

PENDEKAR TAPAK DEWA

icon

Bab 1 PART SATU

Jumlah Kata:1026    |    Dirilis Pada: 23/04/2022

karena rimbunnya pepohonan yang demikian rapat dan berlumut, menjadikan keadaan di rimba ini seperti senja saja. Sinar matahari tak mampu menembus langsung k

ebihan, jika warga desa-desa di sekitar kaki gunung rimba ini menilainya sebagai rimba yang sangat besar uraga (sangat angker dan wingit), sehingga

dari mana desas-desus ini bermula. Namun yang jelas, desas-desus itu telah terlanjur dipercayai oleh masyarakat yang bermukim di sekita

tersebut, mendadak sesosok bocah laki-laki berlari dengan d

bah putih, berjenggot putih, berkulit putih, serta bermata sipit s

ya baru berusia belasan tahun dan berperawakan kekar itu. Ia berlari seperti layaknya di tanah yang lapang dan terbuka. Rupanya si bocah sudah sangat hafal dengan medan rimba. Di kedua

njang sempit namun sangat curam yang menghadang di depa

upp.

Kedua kakinya menapak indah di pinggir jurang yang di seberang. Sesaat

tu yang lucu, ia pun cekikikan,

mulut jurang sempit, mendadak satu kilatan ca

sss.

ittt

o yang sangat cepat, melampaui ujung c

umm

ng sebuah bebatuan raksasa yang tak jauh dari samping si bocah. Dinding b

h si bocah, mungkin tubuh si bocah akan berubah menjadi se

bukannya menggubris serangan berbahaya itu, apalagi sekedar mengelus dada,

lari, tiba-tiba sebuah bola api raksasa

a meter lagi menghantamnya, tiba-tiba tubuh si bocah seolah-olah menyemplung ke dalam bum

umm

a menggeleng-geleng pelan ketika melihat nasib pohon yang terkena bola api

rah sampingnnya satu bola api k

. Namun ia tidak sempat berpikir tentang siapakah gerangan orang yang hendak mencelakakannya itu, karena bola api demikian cepat melesat ke arahnya. Dan ke

mm..

hitam tebal lenyap, maka tampaklah sebuah lubang besar menganga yang menyerupai kawah kecil. Kenyataan itu memberi gambaran, bahwa bola api itu merup

tampak siapa-siapa, kecuali senyap kembali setelah gema suaranya lenyap. "Aku bisa pastikan bahkan engkau bukanlah jin atau henca! Jadi tak perlu

n, kecuali gema

berani menampakkan diri? Ataukah tubuhmu sang

iri. Beberapa lama menunggu, masih juga tak ada tanda-ta

k aku melanjutkan perjalananku! Tak ada untungnya bagi

untuk mendengar tanggapan dari si mahluk

nganya mendengar suara "krekk...!" dari arah belakangnya. Seperti

.wuss...

orang dewasa meluncur deras mengancam tubuh si boc

dia benar-benar ingin

silangkan di depan dada sembari menyedot kekuatan alam dengan satu tarikan nafas. Pada saat puluhan batang kayu itu hanya beberapa depa menghujam tubuhnya,

aaahh

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
PENDEKAR TAPAK DEWA
PENDEKAR TAPAK DEWA
“Kebiadaban yang dilakukan oleh gerombolan La Kala (Kelompok Merah-Merah) di bawah pimpinan La Afi Sangia makin merajalela. Terakhir mereka membantai penduduk Desa Tanaru beserta galara (kepala desa) dan keluarganya sebelum desa mereka dibumihanguskan. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana yang sebagian besarnya hangus bersama rumah-rumah mereka. Darah Jenderal Hongli alias Dato Hongli mendidih menyaksikan bekas aksi kebiadaban yang di luar batas kemanusiaan itu. Darah kependekarannya menangis dan jiwanya menjerit. Tetapi ada sebuah keajaiban. Di antara mayat-mayat bergelimpangan ada sesosok bayi mungil yang kondisinya masih utuh. Tubuhnya sama sekali tak bergerak. Sang bayi malang seolah-olah tak tersentuh api walau pakaiannya telah menjadi abu. "Oh...ternyata bayi ini masih hidup," desah sang mantan jenderal perang kekaisaran Dinasti Ming. Diangkatnya bayi itu seraya lanjut berucap, "Akan kubesarkan bayi ini. Dia adalah sang titisan para dewa. Akan kugembleng ia agar kelak menjadi seorang pendekar besar. Kelak, biarlah dia sendiri yang akan datang untuk menuntut balas atas kematian keluarganya serta seluruh penduduk desanya. Akan kuberi bayi ini dengan nama La Mudu. Ya, La Mudu, Si Yang Terbakar...!" Lalu sang pendekar besar yang bergelar Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayangan) itu mengangkat tubuh bayi itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya. Ia berseru dengan suaranya yang bergetar membahana: "Dengarlah, wahai Dewata Agung....! Aku bersumpah untuk menggembleng bayi ini agar kelak menjadi seorang pendekar besar yang akan menumpas segala bentuk kejahatan di atas bumi ini..!! Wahai Dewata Agung, kabulkanlah keinginanku ini...!! Kabulkan, kabulkan, kabulkan, wahai Dewata Agung...!" Sang Hyang Dewata Agung mendengar permohonannya. Alam pun seolah mengamininya. Cahaya petir langsung menghiasi angkasa raya yang disusul dengan guruh gemuruh yang bersahut-sahutan. Tak lama kemudian hujan deras bagai tercurah mengguyur bumi yang nestapa. Tangis sang bayi malang tiba-tiba pecah. Jenderal Hongli alias Dato Hongli atau sang pendekar besar bergelar Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayangan) segera meninggalkan tempat itu. Ia membawa sang bayi ke arah barat dengan gerakan melesat bagai kilat.”