icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku

Bab 5 Calon pelakor

Jumlah Kata:1100    |    Dirilis Pada: 23/03/2022

lagi. Sekarang lebih baik Mas antar kamu pulang dulu, baru setelah itu

" Aku menj

r dari dalam rumahnya. Lagi-lagi Devina memandang baby Aydan dengan tatapan yang

rsenyum tipis. Namun, aku tahu sesekali dia sela

nik, Vin." Jawa

na. Namun, itu hanya sekilas karena Devina

senyuman tipis, "siapa

ti sekarang membuat aku sedikit aneh dan curiga. "Oh, gak a

vina menghembus

a ini masih anak SMA kelas 11. Bukan sok tahu, memang ada sebagian anak sesusia Devina ini yang payudaranya sudah tumbuh besar, tapi kebanyakan pasti baru tumbuh

amu mau ke mana? Kayak mau kelua

akitnya juga sudah mendingan. Kalau git

guk saat Devina melewa

apa aku semakin curiga dengan gerak gerik Devina? Ditambah lagi dia pergi menemui seseorang dengan keada

! Nanti mata kamu perih kalau

sambil melihatku. Aku manyun sebal, lalu meningg

ngkat ya,

ngkan badan untuk melihat dengan

anjutkan langkahku yang sempat terhen

rediksi bu Bidan memang benar, baby Aydan mau menyusu setelah waktunya dia la

y Aydan itu ibu kandungnya? Kalau memang benar dugaanku itu, bebarti ib

ang itu masuk lewat sini tadi. Ya Allah, kenapa hatiku malah makin tidak tenang. Hamba takut ibu kandung baby Ayda

menelpon

handphon-ku karena mas Gibran tidak mengangangkat telponku. Sekarang aku h

Gibran pulang. Aku mendengar pintu diketuk. Aku mengernyit heran karena tidak biasa

r. Yang datang bukan mas Gibran, melainkan mamah m

emas berjalan. Bagaimana tidak, dari mulai gelang, anting, k

nita ini. Dengan lembut dan sopan mamah mempersilahkan wanit

t, ya?" Mamah meringis seolah tidak enak karena memperkenalkan

i ambang pintu untuk melihat sampai s

k masalah loh, Tan. Lagian aku punya banyak uang, rum

i, aku mencib

salah Tante jodohkan kamu dengan Gibran anak Tante. Sudah baik, punya

i tidak terpengaruh. Mau bagaimanapun mamah berusaha, karena

nti mamah dapat zonk, dong." Aku ikut mendudukan tubuh di

amah memelototiku. Namun, ak

ara di hadapan mertua. Bagaimana bisa saya menyukai orang seperti dia. J

"Tentu saja beda, Tan. Orang pendidikan saya lebih tinggi dari dia, jelas kelakuannya juga a

n cepat dikasih momongan. Sudah tidak sabar rasanya Tante ini ing

ka. Kalau mas Gibran nolak, mau dik

amuala

ketika aku hendak menghampiri mas Gibran, Fika sidah mendahuluiku. Dengan menampilkan senyum manis yan

dari hadapan Fika dan menghampiri mamah untuk mencium tangannya. Selanjutnya mas Gibran menghampir

untuk mentertawakan kekalahannya. Huh, mamah saja berani aku lawan, apalagi kamu yang b

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku
Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku
“Usia pernikahanku dengan mas Gibran sudah memasuki usia dua tahun. Namun, aku belum juga dikaruniai seorang anak dan itu membuat mamah mertua yang memang dari awal tidak menyukaiku makin membenci karena tidak bisa memberinya seorang cucu. Berbagai cara sudah mamah mertua lakukan agar aku bercerai dengan suamiku atau paling tidak suamiku mau menikah lagi dengan pilihannya sendiri, tapi jelas saja aku tidak ingin itu terjadi, jadi dengan caraku sendiri semua rencana mamah mertuaku itu gagal. Namun, pada suatu pagi aku tidak sengaja mendengar samar suara tangisan bayi, karena penasaran aku mengikuti sumber suara itu. Selagi langkahku mendekati suara tangisan bayi itu, aku mengingat-ngingat tidak ada rumah tetangga yang mempunyai seorang bayi. Lalu suara tangisan bayi siapa itu? Saat membuka pintu, betapa terkejutnya aku karena menemukan seorang bayi dalam kardus lengkap dengan tali pusarnya yang masih menggantung. Bayi siapa ini? ***”