icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku

Bab 3 Memberikan hadiah bagi para CCTV tetangga

Jumlah Kata:1010    |    Dirilis Pada: 23/03/2022

ra tetangga yang kebetulan rumahnya berdampingan dengan rumahku t

depan pintu ruamhnya. Walaupun itu bayi sudah bisa dipastikan bayi h

uanku mendengar jelas suara bu Yulis tetanggaku, ibunya Vi

a itu ana

perhiasan ikut nimbrung akan

gaja dibuang oleh orang tuanya kalau itu bukan anak haram. Su

hnya. Namun, aku tetap berusaha tidak terpancing oleh ucapan-ucapan m

yi. Tak sudi saya merawatnya! Ibunya saja sudah memb

tidak enak juga di katain terang-terangan begini. Mana buakan hanya

ku tak puas, terkesan memusuhi. Mungkin mamah memang benar-benar tidak setuju aku dan mas Gibran merawat ba

us anak gak jelas gitu? Kalau memang tidak bisa hamil, kan

mamah juga. Aku hanya bisa terdiam tanpa mau berurusan dengan

ng dulu. Tadi lupa belum izin pap

selesai arisan itu. Sekepergiannya mamah, ibu-ibu yang semula tidak enak ha

mar aku mendengar suara bu Yulis yang menyebutku 'menyedihkan'. Hati ini rasanya teriris. Na

uah kesukaan mas Gibran. Lalu ku hias dengan baik sampai bentuknya indah. Setelah itu aku

puding buah di tanganku. "Inilah hadiah bagi kalian karena telah mengguncingku, karena

engan aku. Karena bu Gina tak kunjung menerima pudingnya, langsung

teramat manis. Setelah itu kutinggalkan merek

nghadapi CCTV tetangga memang perlu kesabaran extra. Kal

o

o

o

ngembalikan puding buah yang kuberikan? Namun, saat aku membuka pintu, saat itu pula sebuah tamparan mengenai pipiku. Tanga

kenapa kamu tidak sadar juga? Saya tidak menyukaimu dari awal, k

saya cucu ini malah mungut anak tidak tahu asal usulnya. Malu, malu saya di bicarain sama teman-teman arisan saya

as makian mamah. Untuk menguatkan hati, aku terus mengingat ucapa

an saya kalau kamu hanya be

hat mamah berjalan ke arah kamarku dan mas Gibran. Tidak, jangan-jangan mam

" tanyaku panik saat melihat mamah sudah

nis," minggir! Jan

ti apa kata mamah. "Letak balik baby Aydan ke atas kasur,

repek. "Memangnya kamu bisa apa? Selama ini saya maki-maki dan hina, kamu ha

kan menyesalinya," uc

jak mamah datang dan kejutan

ng, L

. Tak lama mas Gibran sampai di depan kamar. Matanya melot

gibr

an untuk memberitahukan kalau mamah datang dan nampar aku. Walau terkesan aku ini jahat karena mengadu domba antara anak dan ibu, tap

ran dan mengeluarkan air mata. Lihat saja, akan kuadukan kelaku

tkan matanya, "mamah mau

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku
Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku
“Usia pernikahanku dengan mas Gibran sudah memasuki usia dua tahun. Namun, aku belum juga dikaruniai seorang anak dan itu membuat mamah mertua yang memang dari awal tidak menyukaiku makin membenci karena tidak bisa memberinya seorang cucu. Berbagai cara sudah mamah mertua lakukan agar aku bercerai dengan suamiku atau paling tidak suamiku mau menikah lagi dengan pilihannya sendiri, tapi jelas saja aku tidak ingin itu terjadi, jadi dengan caraku sendiri semua rencana mamah mertuaku itu gagal. Namun, pada suatu pagi aku tidak sengaja mendengar samar suara tangisan bayi, karena penasaran aku mengikuti sumber suara itu. Selagi langkahku mendekati suara tangisan bayi itu, aku mengingat-ngingat tidak ada rumah tetangga yang mempunyai seorang bayi. Lalu suara tangisan bayi siapa itu? Saat membuka pintu, betapa terkejutnya aku karena menemukan seorang bayi dalam kardus lengkap dengan tali pusarnya yang masih menggantung. Bayi siapa ini? ***”
1 Bab 1 Tangisan bayi di depan pintu rumahku2 Bab 2 Devina yang mendadak kurus3 Bab 3 Memberikan hadiah bagi para CCTV tetangga4 Bab 4 Bayi5 Bab 5 Calon pelakor6 Bab 6 Rencana untuk memergoki ibu kandung baby Aydan7 Bab 7 Ayah kandung baby Aydan8 Bab 8 Calon suami Fika9 Bab 9 Kejutan untuk mamah mertua10 Bab 10 Niat meminta pertandung jawaban11 Bab 11 Pertengkaran antara Bu Yulis dan Devina12 Bab 12 Melabrak Aryo13 Bab 13 Pernikahan 14 Bab 14 Cemburunya mas Gibran bikin dongkol15 Bab 15 Mas Gibran yang mencurigakan16 Bab 16 Perasaan tidak nyaman17 Bab 17 Perempuan yang mengaku hamil anak Mas Gibran 18 Bab 18 Antara tega dan tak tega19 Bab 19 Tidak perlu obat, hanya butuh pelukan20 Bab 20 Rencana Lastri21 Bab 21 Hilangnya rekaman CCTV22 Bab 22 Saatnya beraksi23 Bab 23 Melawan balik wanita ular24 Bab 24 Pengakuan Novi25 Bab 25 Kemarahan mas Gibran26 Bab 26 Laki-laki dari masa lalu27 Bab 27 Janji di masa lalu28 Bab 28 Melupakan29 Bab 29 Kisah cinta30 Bab 30 Positif hamil31 Bab 31 Ketegasan Gibran pada mamah32 Bab 32 Akhir kisah