icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Mendarat di Hatimu yang Retak

Bab 5 kehujanan di taman

Jumlah Kata:1303    |    Dirilis Pada: 25/12/2025

e dengan rambut yang masih agak basah karena sempat kehujanan di taman tadi. Di telinganya, suara hujan yang menghantam atap m

alan biasa?" tanya sopir ta

iora singkat. Dia menyandarkan kepalanya

iora menghela napas panjang. Itu artinya dia harus bangun jam tiga pagi, bersiap, dan mengenakan seragam biru itu lagi. Seraga

terus muncul. Dia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis; di satu sisi dia ingin menjaga persahabatan mereka, ta

nyusuri koridor dengan langkah yang dipaksakan tegak. Matanya sedikit sembab, tapi makeup profes

" tanya Rian, salah satu pramugara y

Biasalah," jawab Liora

ke Bali buat proyek pemerintah. Katanya sih VIP, jadi kita harus ekstra saba

Namun, saat dia berdiri di depan pintu pesawat untuk menyambut penumpang yang mulai masuk, jantungnya mendad

Dirga

lebih dingin dari AC pesawat. Arlo sedang bicara dengan asistennya saat kakinya melangkah masuk ke dalam kabin. Begitu dia

utar bagi mereka berdua di

m kebaya yang melekat sempurna, dan papan nama perak yang berkilau. Di mata Arlo, ini adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Dia terpaksa menggunakan

a yang sedikit bergetar, namun tetap berusaha profesional. Dia tidak menyebut n

ekaligus kerapuhan. Dia melewati Liora begitu saja tanpa sepatah kata pun, meninggalk

ik Rian yang menyadari

n. Cuma pusing dik

ndari kontak mata dengan Arlo yang duduk di kelas bisnis. Tapi tugas tetaplah tugas. Saat p

Arlo duduk di sana, menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata, tapi Liora tahu pria itu tidak

, apel, atau air mineral?" tanya Liora dengan na

mata Liora. Ada keheningan yang menyakitkan di anta

agar penumpang lain tidak mendengar, tapi cukup tajam untuk m

osedur kami untuk menawarkan pelayanan. Bapak terlih

t mengintimidasi. "Kamu dengar nggak sih? Aku bilang pergi! Aku nggak sudi

hnya panas karena malu. Hinaan Arlo kali ini benar-benar keterlaluan.

nya menjalankan tugas saya secara profesional,"

yak pria yang kamu kasih senyum 'profesional' itu setiap hari, Liora? Apa itu juga

l

mannya ke atas meja lipat Arlo dengan suara yang cukup ker

nah sekali-kali Bapak merendahkan harga diri saya dan rekan-rekan saya di sini," ucap Liora dengan mata yang berkaca-k

dibendung lagi. Dia gemetar hebat. Arlo benar-benar telah berubah menjadi orang asing yang mengerikan. Di

disi Liora. "Ra! Ada apa? Itu penump

asahi pipinya yang dipulas blush-on. "Dia... d

Dia tahu dia keterlaluan. Dia tahu Liora hanya menjalankan tugasnya. Tapi rasa sesak di dadanya setiap kali melihat seragam itu

rluka parah menahannya di kursi itu. Dia memilih untuk tetap diam dalam kegelapan yang dia ciptakan sendiri,

adalah siksaan. Dia harus tetap keluar kabin, tetap tersenyum pada penumpang la

n terima kasih kepada para penumpang. Dia berharap Arlo akan lewat tanpa bicara lagi. Namun, saat

u, kamu dan Sheila adalah satu jenis yang sama. Cuma beda kemasan

ilang di garbarata, menyadari bahwa usahanya untuk menyembuhkan Arlo mungkin adalah sebuah kesalahan besar. Pri

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Mendarat di Hatimu yang Retak
Mendarat di Hatimu yang Retak
“Bagi Liora Anindya, langit adalah rumah. Namun bagi Arlo Dirgantara, langit adalah pengingat akan pengkhianatan yang menghancurkan hidupnya. Sepuluh tahun tidak bertemu, takdir mempertemukan kembali dua teman masa kecil ini dalam situasi yang canggung. Arlo bukan lagi anak laki-laki yang dulu melindungi Liora. Ia kini adalah pria dingin yang membangun "tembok" tinggi di sekeliling hatinya. Luka itu ditinggalkan oleh mantan tunangannya-seorang pramugari yang meninggalkannya demi kemewahan saat Arlo berada di titik terendah. Sejak saat itu, Arlo bersumpah tidak akan pernah memercayai siapapun yang mengenakan seragam kebanggaan tersebut. Ketika Liora hadir kembali membawa kehangatan masa kecil mereka, Arlo terjebak dalam dilema. Di satu sisi, kehadiran Liora adalah satu-satunya pelipur lara yang ia miliki, namun di sisi lain, seragam yang dikenakan Liora adalah pemicu trauma (PTSD) yang terus menghantuinya. Akankah Liora mampu membuktikan bahwa tidak semua "penghuni langit" memiliki hati yang terbang berpindah-pindah? Ataukah luka Arlo terlalu dalam hingga ia memilih untuk meruntuhkan jembatan yang coba dibangun oleh Liora?”
1 Bab 1 Suara bising Bandara2 Bab 2 Ponsel di atas nakas bergetar hebat3 Bab 3 suasana di meja makan4 Bab 4 Setelah drama di kantor5 Bab 5 kehujanan di taman6 Bab 6 Ucapan Arlo di pintu pesawat7 Bab 7 Getaran di bawah kaki8 Bab 8 ruang tunggu kedatangan9 Bab 9 gerbang yang tertutup di belakang10 Bab 10 Kegelapan di kamar Arlo11 Bab 11 lebih hangat dibanding hari-hari biasanya12 Bab 12 terbungkus plastik pelindung13 Bab 13 Alarm berbunyi pukul empat pagi14 Bab 14 Pesawat Boeing15 Bab 15 Cowok itu baru saja mendarat16 Bab 16 Arlo tidak membuang waktu17 Bab 17 Pesawat yang membawa mereka kembali ke Jakarta18 Bab 18 tidak ada apa-apanya19 Bab 19 tidak Liora rasakan20 Bab 20 berjuang buat dia21 Bab 21 berserakan di atas meja nakas22 Bab 22 Hari pertama Liora kembali ke bandara23 Bab 23 Persiapan pernikahan24 Bab 24 Gedung serbaguna25 Bab 25 menaungi hidup mereka