icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pelayan Ranjang Maduku

Pelayan Ranjang Maduku

Penulis: Reno Badini
icon

Bab 1 rasa lelah yang menghimpit

Jumlah Kata:1652    |    Dirilis Pada: 21/12/2025

eras di tulang belikatnya. Matanya perih, efek menatap layar laptop selama hampir dua belas jam hari ini. Namun, di balik rasa lelah yang menghimpit, ada senyum tipi

ng penting, soal pengakuan atas semua lembur dan keringatnya selama ini. Kalila membayangkan wajah Arkan saat mendengar kabar ini. Ia memb

tuskan untuk tidak mengirim pesan lagi. Ia ingin memberikan kejutan. Ia beranjak ke dapur, menuangkan air putih, lalu mulai memikirkan rest

dengan wajah yang tampak kusam, kemejanya sudah keluar dari i

alila, mencoba menjaga nad

epatunya tanpa menoleh. "Iya, macet parah.

lum. Mungkin Arkan sedang banyak masalah di kantor. "Ada tadi aku p

lnya dan mulai asyik membalas pesan. "Kabar apa?

i dan meletakkannya di atas meja kopi

alas. Matanya menyisir baris-baris tulisan di sana. "Sen

ik tiga puluh persen, terus ada tunjangan posisi juga. Besok kit

au pelukan yang Kalila harapkan, Arkan justru menghela napas panjan

iba-tiba berubah, tidak lagi datar, tapi lebih... manis.

nyit. "Pas ba

san tadi siang. Semua temennya pamer tas baru, cuma Ibu yang masih pake tas lama yang udah ngelupas kulitnya. Terus Dimas juga butuh uang buat bayar k

oria-nya. "Mas, aku baru aja ngasih tau soal kenaikan jabatanku. Kamu bahkan belum nanya gimana

is aja, Kal. Sekarang kamu punya uang lebih, apa salahnya kita bantu keluarga? Ibu itu orang tua aku juga, orang tua

kerasku sendiri. Dan soal Dimas, bukannya bulan lalu aku udah kas

n mulai menggunakan nada bicara yang membuat Kalila merasa bersalah. "Terus soal Ibu, tas yang dia mau itu nggak seberapa k

lebih banyak untuk uang muka rumah yang lebih besar, atau mungkin asuransi kesehatan tambahan. Sejak mereka menikah dua tahun lalu, hampir 70% kebutuhan rumah tangga dan cicilan dita

asnya, Mas?" ta

ntung Kalila mencos. Angka itu hampir setara d

get cuma buat sebua

i buat Ibu biar dia seneng. Ibu kan udah tua, kapan lagi kita bisa bahagi

nya saat dompetnya terbuka lebar. Saat ia mulai mempertanyakan pengeluaran, Ibu mertuanya akan mulai meny

am ini," kata Kalila sambil berdiri, meninggalkan Arka

ngkat arisan lagi soalnya. Dia udah terlanjur janji sama

di cermin meja rias. Wajahnya tampak kusam, kantong matanya menghitam. Ia sukses di kantor, ia dipuja oleh atasan dan diseg

uarga Arkan. Berhenti manjain mereka sebelum lu abis nggak bersisa,' kata Maya suatu sore saat mereka minum kopi. Waktu itu Kalil

Arkan sudah duduk manis dengan secangkir kopi yang ia buat sendiri-sebuah pe

soal yang semalem?" tanya Arkan deng

ang kuliah Dimas. Tapi buat tas Ibu, aku cuma bisa kasih setengahnya. Sis

tu sama aja bohong. Ibu mana mau pake barang setengah-setengah gitu. Masa kamu

a butuh nabung buat masa depan kita. Kita masih ngontrak, Mas. K

k jadi perhitungan banget sih semenjak naik jabatan? Apa bener kata orang, kalau pe

ni, siapa yang membayar cicilan motor Arkan? Siapa yang membayar tagihan listrik rumah

as. Aku cuma capek,"

r aku yang malu sama Ibu karena punya istri sukses tapi nggak mau bantu keluarga sendiri," Arkan berdi

menjadi beban yang menyesakkan. Kalila menyadari satu hal yang menyakitkan pagi itu: kenaikan jabatannya buk

ada bayangan tagihan, permintaan uang, dan wajah Arkan yang kecewa. Ia mulai bertanya-tanya, sampai kapan ia harus bertahan dalam po

as meja. Pesan WhatsApp

au kasih hadiah tas buat Ibu ya? Tadi Ibu udah liat di toko, warnanya bagus-bagus. Ibu tunggu ya kirimann

" namanya demi janji palsu itu. Kalila merasa terjebak. Ia merasa dikepung dari segala arah. Ia ingin beront

dituntut menjadi sumber dana yang tak boleh mengeluh. Hari pertama jabatannya sebagai Senior Manager dimulai bukan dengan perayaan, melainkan dengan awal dari rasa le

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pelayan Ranjang Maduku
Pelayan Ranjang Maduku
“Selama dua tahun terakhir, Kalila menganggap bahwa berbagi rezeki dengan keluarga suaminya, Arkan, adalah bentuk bakti yang tulus. Sebagai wanita karier yang sukses, ia tak keberatan menyokong gaya hidup mertuanya hingga cicilan yang tak ada habisnya. Meski sahabat-sahabatnya sudah berkali-kali mengingatkan bahwa ia hanya dijadikan "sapi perah" oleh keluarga Arkan, Kalila tetap bergeming karena percaya pada kekuatan cinta. Namun, perlahan tabir itu terbuka. Kalila mulai merasa lelah saat jerih payahnya hanya dianggap sebagai kewajiban yang tak perlu diapresiasi. Puncaknya, ia memutuskan untuk "mati rasa" dan menutup semua akses finansialnya. Tidak ada lagi uang belanja mewah untuk mertua, dan ia tak peduli lagi saat uang kuliah adik iparnya terancam menunggak. Kalila memilih berhenti menjadi pahlawan bagi mereka yang tak tahu cara berterima kasih. "Saat kesetiaan dibalas dengan eksploitasi yang tak berujung, apakah ego masih pantas disalahkan jika seseorang memilih untuk pergi menyelamatkan dirinya sendiri?"”
1 Bab 1 rasa lelah yang menghimpit2 Bab 2 Suasana kantor yang dingin3 Bab 3 Hari Sabtu seharusnya jadi waktu4 Bab 4 kafe kecil yang agak tersembunyi5 Bab 5 rasa pahit6 Bab 6 Arkan masuk lewat celah emosinya7 Bab 7 melewatinya begitu saja8 Bab 8 bayar cicilannya pake bonus9 Bab 9 Tiga hari di rumah sakit10 Bab 10 keluarga sudah nunggu buat menerkamnya11 Bab 11 menenangkan buat Kalila12 Bab 12 hidup Kalila sudah benar-benar berubah total13 Bab 13 suasana makin melow14 Bab 14 sesak itu tertinggal di belakang15 Bab 15 rasanya aneh banget16 Bab 16 keributan terakhir dengan Dimas17 Bab 17 Pernikahan mewah18 Bab 18 keriuhan pesta yang megah19 Bab 19 Keringat masih menempel tipis20 Bab 20 menyalakan shower21 Bab 21 merasakan tubuhnya pegal luar biasa22 Bab 22 mendinginkan suasana23 Bab 23 menggendongnya kembali24 Bab 24 kemesraan di hotel25 Bab 25 pertama di rumah baru26 Bab 26 pembuktian27 Bab 27 menjadi laki-laki yang memujanya28 Bab 28 pemulihan pasca operasi29 Bab 29 pewaris karena rahimku