icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kalung Pengkhianatan, Selma Pemenangnya

Bab 5 

Jumlah Kata:717    |    Dirilis Pada: 12/12/2025

i P

as di sofa ruang tamuku, setelah aku menyuapinya bubur dan memberinya obat tidur ringa

kan segera menemuinya, melamarnya lagi, dan kali ini,

san itu. Lalu,

tasmu. Bahkan, bawa dia pulang bersamamu. Kal

inya. Dan ini yang terakhir. Kita selesai. Janga

ih tidak akan pernah mengatakan hal seperti ini. Kinasih, wanitaku yang sabar, ya

mengetik dengan cepat. Kinasih, apa maksudmu? K

ncoba lagi. Gagal. Aku mencoba m

on, mengirim pesan. Tapi tidak ada yang berhasil. Kinasih

a terdengar serak. Dia terbangun,

erus menatap ponselku yang

alu membaca pesan terakhir dari Kinasih. Matanya me

Zaki," katanya, nadanya terdengar senang. "Dia akhirnya me

h. Api kemarahan membakar dadaku. Api

amarah. "Apa yang kamu tahu tentang Ki

tidak pernah melihatku semarah ini.

. aku h

"Kamu selalu merusak semuanya! Kamu

nya. "Kak Zaki, kenapa kamu bicara seperti itu

. "Bahagia tanpanya? Kau piki

r di pinggangku. "Aku akan membuatmu bahag

arfumnya yang manis terasa seperti racun.

taknya, suaraku dingin. "Jangan

lalak. Dia tidak percaya denga

matanya, aku melihat bayanganku sendiri. Bayangan seorang

api hanya nada sambung kosong yang kudengar. Nada sa

asih, wanitaku, telah per

kan untukku. Dia menolak proyek impiannya di Bali, dia sabar menghadapi semua dramak

bodohnya aku, tidak pernah melihat itu. Aku menganggapnya sebagai

sekarang, aku tahu. Dia sudah mencapai batas

Aku terduduk di lantai, merasakan sakit yang menusuk di dadaku. Rasanya seper

ipis, berat. Duniaku terasa hampa, dingin, dan gelap. Ki

ti dengan kebingungan. Dia mungkin mendapatkan aku, tapi dia telah kalah. Dia tidak pernah

Hanya rasa sakit yang dalam. Rasa saki

k akan pernah bisa mendapatkan Kinasih kembali.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kalung Pengkhianatan, Selma Pemenangnya
Kalung Pengkhianatan, Selma Pemenangnya
“Dua belas kali aku mencoba menikah dengan Zaki, dan dua belas kali pula pernikahan itu batal. Setiap kali, dia selalu memilih adik angkatnya, Selma, yang tiba-tiba sakit atau panik tepat di saat-saat penting. Kali ini, di depan penghulu dan para tamu, Selma kembali berulah. Zaki, tunanganku selama delapan tahun, lagi-lagi meninggalkanku di altar demi menenangkan Selma. Aku sudah lelah. Lelah dengan janji-janji kosongnya, lelah dengan drama Selma yang tak berkesudahan. Rasa sakit dan penghinaan ini sudah terlalu banyak. Namun, kehancuran total datang saat Selma, dengan senyum kemenangan, memamerkan kalung pemberian Zaki-kalung yang sama persis dengan liontin kunci hati, simbol cinta kami. Saat itu aku sadar, delapan tahun pengorbananku hanyalah lelucon. Aku membatalkan pernikahan untuk terakhir kalinya, meninggalkan semua kenangan, dan terbang ke Bali untuk mengejar mimpiku yang telah lama terkubur. Setahun kemudian, aku telah menjadi arsitek sukses yang memimpin proyek resor mewah. Dan Zaki, pria yang telah menghancurkan hidupku, kini muncul kembali. Bukan sebagai tunangan yang memohon, tapi sebagai karyawan rendahan yang melamar pekerjaan di bawah pengawasanku.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 8