icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pengorbanannya, Kebencian Butanya

Bab 7 

Jumlah Kata:688    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

lektif terdengar

ak dan bertemu dengan tatapan Baskara. Itu adalah tatapan kemara

h kursi dan melemparkannya ke layar proyektor.

yang keras dan teatrikal, memb

mnya, suaranya diwarnai racun saat dia menat

nya ancaman rendah. Saat dia melewati Cora, matanya

pe

h tasnya dan jari-jarinya menggengg

flashdi

i keluar ruangan, menuju kantor keamanan h

ing. Itu adalah

ra yang terdistorsi. "Ka

da porosnya. "A

up, bawa file video aslinya ke puncak lo

an it

erdering lagi. Kal

anya sangat tenang. "Orang tuamu unt

anya pecah karena histeris. "Mereka tida

pada dirimu sendiri saat kau memutuskan untuk mempe

nutup

memegang semua kartu. K

ung pencakar langit yang belum selesai menemb

dari derek konstruksi yang berkarat, menjuntai d

ke arah mereka, tetapi dua penga

, membuat tali berderit dan ber

anpa ekspresi. "Tolong, Bas, biarkan mereka pergi! Aku akan melak

katanya, mengu

nya punya yang ditanam Rania pada

angannya gemetar. "Tolong, B

a di bawah tumitnya. "Jangan berani-beraninya kau menyebut mereka

ama anak buahnya, meninggalkannya se

ri-jarinya meraba-raba tuas, menco

g. Tali tua yang usa

ngnya berdebar ke

yang akan menghantuinya selam

patah yang ke

itu p

tuh terempas ke

rannya menjadi benar-benar kosong.

ia melihat

merah menyebar di

ya, suara penderitaan hewan

eka. Pikiran itu adalah pukul

erdering la

ati rasa. Rasa sakit yang

skara terdengar di telepon, dingin

cara. Rasa darah mem

idahmu kelu

elimutinya. Rasa sakit di tubuh dan jiwa

sikan mati dan hampa. "Aku tida

utkan kening. Angin ken

alam-dalam, udara m

langnya, sedikit lebih kera

iku? Bagus. Lompat saja dari atap itu kalau memang ses

ah," b

skan diri. Dia melangkah dari tep

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pengorbanannya, Kebencian Butanya
Pengorbanannya, Kebencian Butanya
“Bosku, Baskara Aditama, memaksaku mendonorkan sumsum tulang belakang untuk tunangannya. Wanita itu takut bekas luka. Selama tujuh tahun, aku menjadi asisten bagi anak laki-laki yang tumbuh bersamaku, pria yang kini membenciku setengah mati. Tapi tunangannya, Rania, menginginkan lebih dari sekadar sumsum tulangku; dia ingin aku lenyap. Dia menjebakku karena menghancurkan hadiah senilai lima puluh miliar rupiah, dan Baskara membuatku berlutut di atas pecahan kristal sampai lututku berdarah. Dia menjebakku atas penyerangan di sebuah pesta, dan dia membuatku ditangkap, di mana aku dipukuli sampai babak belur di dalam sel tahanan. Lalu, untuk menghukumku atas video seks yang tidak pernah aku sebarkan, dia menculik orang tuaku. Dia membuatku menonton saat dia menggantung mereka dari sebuah derek di gedung pencakar langit yang belum selesai, ratusan meter di udara. Dia meneleponku, suaranya dingin dan angkuh. "Sudah dapat pelajaranmu, Cora? Siap untuk minta maaf?" Saat dia berbicara, tali itu putus. Orang tuaku jatuh terempas ke dalam kegelapan. Anehnya, ketenangan yang mengerikan menyelimutiku. Rasa darah memenuhi mulutku, gejala penyakit yang tidak pernah dia ketahui kumiliki. Dia tertawa di seberang telepon, suara yang kejam dan buruk rupa. "Lompat saja dari atap itu kalau memang sesakit itu. Itu akan menjadi akhir yang pantas untukmu." "Baiklah," bisikku. Dan kemudian, aku melangkah dari tepi gedung, menuju udara yang hampa.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 18