icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pengorbanannya, Kebencian Butanya

Bab 5 

Jumlah Kata:627    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

isa dia lihat hanyalah kemarahan di

enangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar. Dia mem

ngis. "Cora... dia memba

Cora dengan jijik. "Kau bahkan lebih menyedihkan dari yang kuk

tenggorokan Cora. "Tidak," bisiknya, menggel

ur. Baskara menatapnya dengan tatapan yang bisa memb

alihkan seluruh amara

gin dan final. "Kau dipecat. Aku tid

n kekuatan pukulan fisik. Hatinya

mengalir di wajahnya. "Kau harus

hatiannya untuk menghibur tunangannya yang menangis. Dia berj

armawan, yang berani karena kepergian Bas

a kita tadi?" serin

l, dan syok. Dia mundur sampai punggungn

yang primal mengambil alih. Dia menerjan

esakitan dan m

annya ke belakang da

Telinganya berdenging, dan pipinya terasa

putus asa. Tangannya menggenggam lehe

kir, dia me

enai sisi kepala Darmawan. Dia mengerang, matanya berputar

senjata, jatuh dari jari-jarinya yang mati rasa. Dia bergegas

satunya pikirannya adalah melarikan

n di dekatnya, dia

Baskara, dan desahan

ia tidak bisa bergerak.

ar di dadanya, rasa sakit yang begi

rutnya saat dia batuk lebih ban

eraka pribadinya. Yang l

ng menghantui ruang

a. Dia terhuyung-huyung pergi, melewati tatapan

a, polisi ada d

itahan atas penyerang

ati rasa, saat mereka

diri yang mengajukan peng

ancur lagi, hancur berkeping-keping.

ya pergi seperti boneka kayu,

Baskara-bukan untuk membantunya, tetapi untuk mem

n. "Dia hanya ingin ini ada di catatan Anda. Dia juga telah secara resmi menga

erakhir. Semuany

nan. Wanita-wanita lain di

guh. "Mencoba tidur dengan atasan dan kena batunya. Denga

" ludah y

is tidak mendengarnya. Dia tersesat da

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pengorbanannya, Kebencian Butanya
Pengorbanannya, Kebencian Butanya
“Bosku, Baskara Aditama, memaksaku mendonorkan sumsum tulang belakang untuk tunangannya. Wanita itu takut bekas luka. Selama tujuh tahun, aku menjadi asisten bagi anak laki-laki yang tumbuh bersamaku, pria yang kini membenciku setengah mati. Tapi tunangannya, Rania, menginginkan lebih dari sekadar sumsum tulangku; dia ingin aku lenyap. Dia menjebakku karena menghancurkan hadiah senilai lima puluh miliar rupiah, dan Baskara membuatku berlutut di atas pecahan kristal sampai lututku berdarah. Dia menjebakku atas penyerangan di sebuah pesta, dan dia membuatku ditangkap, di mana aku dipukuli sampai babak belur di dalam sel tahanan. Lalu, untuk menghukumku atas video seks yang tidak pernah aku sebarkan, dia menculik orang tuaku. Dia membuatku menonton saat dia menggantung mereka dari sebuah derek di gedung pencakar langit yang belum selesai, ratusan meter di udara. Dia meneleponku, suaranya dingin dan angkuh. "Sudah dapat pelajaranmu, Cora? Siap untuk minta maaf?" Saat dia berbicara, tali itu putus. Orang tuaku jatuh terempas ke dalam kegelapan. Anehnya, ketenangan yang mengerikan menyelimutiku. Rasa darah memenuhi mulutku, gejala penyakit yang tidak pernah dia ketahui kumiliki. Dia tertawa di seberang telepon, suara yang kejam dan buruk rupa. "Lompat saja dari atap itu kalau memang sesakit itu. Itu akan menjadi akhir yang pantas untukmu." "Baiklah," bisikku. Dan kemudian, aku melangkah dari tepi gedung, menuju udara yang hampa.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 18