icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pengorbanannya, Kebencian Butanya

Bab 4 

Jumlah Kata:720    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

ian, perintah b

ania ke Starlight Gala. Sa

kukan apa yang diperintahkan. Dia menemukan Rania di s

gaun itu. "Ini

dak ingin apa-apa selain mel

ara dari kursi di sudut. D

ku, hatiny

ki terhuyung-huyung ke arahnya. Itu adalah Da

an berkata dengan cadel, matanya menjelajahi tubuhnya

askara bilang kau akan senang menemaniku m

a memutar-mutar cairan kuning di gelasnya, wajahnya topeng ding

tnya membuatnya sangat sensitif terhadapny

, meraih lengannya dan menariknya ke bar. Dia me

" kata Cora, menc

dengan mereka. Dia mencengkeramnya dari belakang, mena

Dia batuk, terbatuk-batuk, rasa sakit di pe

rtawa, memperlakukannya seperti mainan. Mereka m

putus asa, permohonan ban

dengannya selama sepersekian detik, ekspresinya tidak terbaca

ghancurkan serpihan har

ran, meremas pinggangnya, jari-jarinya menekan pi

peringatan diam-diam yang hampir tak terlihat. Dar

atunya kesempatan

robos kerumunan yang tertawa, satu-sat

t wanita dan pingsan di depa

dan empedu membakar tenggorokan

kontras dengan pors

ik meledak di dadanya. Rasanya

gah. Dia menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat pasi, pakaianny

Dia berhenti, matanya melebar kaget

terlalu gemetar untuk membuka botolnya. Dia akhirnya berhasil meng

Cora ke botol pil di tangannya. Kila

a berjalan mendekat dan meletakkan tangan di punggung Cora. "Kau terlihat m

Rania membawanya ke sebuah ruangan pribadi k

kanmu air," kata Ra

air. Dia mengeluarkan pon

mu di lounge barat. Dia bilan

panas yang aneh menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia telah meminu

erderit

mesum di wajahnya. "Aku dapat p

ruangan, matanya tertuj

ranya tajam, bersembunyi di b

yang mengundangku ke sini," katany

nyaris tak terdengar. Dia mencoba berdiri

kata pun, pintu dibanting terbuka

bang pintu, wajahnya

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pengorbanannya, Kebencian Butanya
Pengorbanannya, Kebencian Butanya
“Bosku, Baskara Aditama, memaksaku mendonorkan sumsum tulang belakang untuk tunangannya. Wanita itu takut bekas luka. Selama tujuh tahun, aku menjadi asisten bagi anak laki-laki yang tumbuh bersamaku, pria yang kini membenciku setengah mati. Tapi tunangannya, Rania, menginginkan lebih dari sekadar sumsum tulangku; dia ingin aku lenyap. Dia menjebakku karena menghancurkan hadiah senilai lima puluh miliar rupiah, dan Baskara membuatku berlutut di atas pecahan kristal sampai lututku berdarah. Dia menjebakku atas penyerangan di sebuah pesta, dan dia membuatku ditangkap, di mana aku dipukuli sampai babak belur di dalam sel tahanan. Lalu, untuk menghukumku atas video seks yang tidak pernah aku sebarkan, dia menculik orang tuaku. Dia membuatku menonton saat dia menggantung mereka dari sebuah derek di gedung pencakar langit yang belum selesai, ratusan meter di udara. Dia meneleponku, suaranya dingin dan angkuh. "Sudah dapat pelajaranmu, Cora? Siap untuk minta maaf?" Saat dia berbicara, tali itu putus. Orang tuaku jatuh terempas ke dalam kegelapan. Anehnya, ketenangan yang mengerikan menyelimutiku. Rasa darah memenuhi mulutku, gejala penyakit yang tidak pernah dia ketahui kumiliki. Dia tertawa di seberang telepon, suara yang kejam dan buruk rupa. "Lompat saja dari atap itu kalau memang sesakit itu. Itu akan menjadi akhir yang pantas untukmu." "Baiklah," bisikku. Dan kemudian, aku melangkah dari tepi gedung, menuju udara yang hampa.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 18