icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pengorbanannya, Kebencian Butanya

Bab 2 

Jumlah Kata:949    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

nselnya bergetar deng

am 8 malam. Hot

erintah, buk

an berkilauan di sekelilingnya. Dia menemukan Baskara di sebuah bilik pribadi, tampak

Dia hanya menatap panggung,

alung berlian, lukisan karya seorang maestro yang

elang membuka ba

ar-benar unik! Sepasang angsa krista

ap cahaya dan membiaskannya

u, Baskara duduk lebih tegak.

mulai penawaran. Bas

ya angsa itu. Itu menjadi pertarungan kehendak, pert

rupiah!" teri

agu-ragu. "Lima

i. Penawar lainnya mengg

unya. "Terjual! Kepada Tuan Aditama

a. "Tuan Aditama, jika saya boleh bertanya, ini unt

engambil mikrofon di mejanya, dan suara

tu adalah senyum yang tidak pernah dilihat Cora selama tujuh tahun. "Dia adalah

n bertep

untuk orang banyak, tetapi pesannya adalah untuknya. Itu adalah cara lain untuk men

alah pengingat masa lalunya, batu asah di m

pergi, barang berikutnya

ah kandang besa

terakhir kami yang paling mendebarkan... seekor

pnya d

eperti bara api. Anjing itu menggeram, giginya menyeringai, menegang di

p terdengar di a

satu kait kandang patah. Anjing itu membant

iak dan berebut untuk menjauh saat an

bulu hitam dan gi

ju lurus ke

elum dia bisa berpikir, tu

kan dirinya

, aw

Dia merasakan sakit yang luar biasa saat giginya menancap

ng itu, mencoba menariknya, tetapi anjing itu terlalu ku

or

ertahun-tahun dia mengatakannya dengan sesuatu selain penghinaan. Dalam suara

elindungi tubuhnya, mencoba berada

mun, akhirnya berhasil m

g sobek. Rasa sakitnya luar biasa, dan dunia m

lanya mendarat di

lah wajahnya, pucat dan tegang, mata gelapnya m

rumah sakit. Bau antise

l, dan infus ditempelka

nya. Dia tampak kelelahan, setelan jasnya yang biasan

nya terbuka, sebuah cah

gun," katanya,

ngambil sebuah rekam medis. "Dokter bilang k

lah yang di

i gerakan itu mengirimkan sengatan rasa sakit ke lenga

a perban baru dan bekas t

untung memiliki pasangan yang begitu peduli. Dia tinggal sepanjang malam dan bahkan me

rkejut. Dia telah m

engan cepat memalingkan kepa

rlu mengkonfirmasi beberapa detail untu

jelas dan tegas, memotong keh

ku. Tuan

n itu langsung

ap. Momen kehangatan yang singkat itu hilang, d

ketegangan yang tiba-ti

suaranya sangat rendah.

annya menimpanya. "Kenapa kau melakukanny

itu untuk bonus yang lebih besar? Tinjauan kinerja

gitu kejam, hingga membuatnya terdia

atkan hidupnya. Dan in

g di antara mereka,

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pengorbanannya, Kebencian Butanya
Pengorbanannya, Kebencian Butanya
“Bosku, Baskara Aditama, memaksaku mendonorkan sumsum tulang belakang untuk tunangannya. Wanita itu takut bekas luka. Selama tujuh tahun, aku menjadi asisten bagi anak laki-laki yang tumbuh bersamaku, pria yang kini membenciku setengah mati. Tapi tunangannya, Rania, menginginkan lebih dari sekadar sumsum tulangku; dia ingin aku lenyap. Dia menjebakku karena menghancurkan hadiah senilai lima puluh miliar rupiah, dan Baskara membuatku berlutut di atas pecahan kristal sampai lututku berdarah. Dia menjebakku atas penyerangan di sebuah pesta, dan dia membuatku ditangkap, di mana aku dipukuli sampai babak belur di dalam sel tahanan. Lalu, untuk menghukumku atas video seks yang tidak pernah aku sebarkan, dia menculik orang tuaku. Dia membuatku menonton saat dia menggantung mereka dari sebuah derek di gedung pencakar langit yang belum selesai, ratusan meter di udara. Dia meneleponku, suaranya dingin dan angkuh. "Sudah dapat pelajaranmu, Cora? Siap untuk minta maaf?" Saat dia berbicara, tali itu putus. Orang tuaku jatuh terempas ke dalam kegelapan. Anehnya, ketenangan yang mengerikan menyelimutiku. Rasa darah memenuhi mulutku, gejala penyakit yang tidak pernah dia ketahui kumiliki. Dia tertawa di seberang telepon, suara yang kejam dan buruk rupa. "Lompat saja dari atap itu kalau memang sesakit itu. Itu akan menjadi akhir yang pantas untukmu." "Baiklah," bisikku. Dan kemudian, aku melangkah dari tepi gedung, menuju udara yang hampa.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 18