icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Suami Yang Menolak, Hati Yang Hancur

Bab 2 Dia sudah terbiasa menunggu

Jumlah Kata:988    |    Dirilis Pada: 16/08/2025

r jatuh membentuk tirai tipis di luar jendela, dan suara gemeri

apannya, dua piring makan sudah tersaji-satu untuknya, satu un

ja, ada rasa getir setiap kali waktu berla

a. Bukan Adrian. Keira muncul dengan piyama

" tanya Keira sambi

au makan bareng Papa kamu. Tapi

nya. "Papa selalu pulang malam. Dulu Mama jug

ak ingin menggali luka anak itu lebih dalam. "Ka

buka. Adrian masuk, basah kuyup. Jaket hitamnya men

jar Almira refleks. "

ti meja makan tanpa menoleh

ring yang ia siapka

ngkat itu menyisakan rasa ditolak

gkat pagi-pagi sekali, jarang sarapan di rumah, dan pulang larut malam. Bahkan di

kan, interaksi mereka tak pernah lebih dari sal

an punya alasan. Ada masa lalu yang me

kan camilan untuk Keira di dapur, ia men

," suara itu terdengar tegas. "Kau tak bisa

" balas Adrian, suaranya rendah namun sara

daknya hargai posis

akapan ini tanpa izin salah, tapi setiap kata yang keluar dari mu

udah cukup terluka sekali. Tidak akan ada pere

pkan dengan nada fi

tawaran pertukaran pelajar dari universitas luar negeri masih terbuk

danya, meski perlahan. Ia ingat senyum malu-malu Keira saat Almira mengaja

pa yang akan mengi

ama mereka di teras belakang. Entah karena lelah membantah atau karena tak

Tante Almira," pinta Keira

mengambilnya tanpa komentar. Ia menggi

anya Keir

ab Adrian

ar. Tapi bagi Almira, jawaban itu hanya menguat

han ajar baru. Saat ia berjalan menuju gerbang rumah, ia melihat Adrian di h

rab. Almira tak sengaja memperlambat langkahnya. Ada sesuatu d

a itu menatap Almira dari ujung kepala hingga kaki,

anis, tapi matanya mengan

da singkat sebelum ia berkata, "Ya." Satu ka

lalu pamit dengan tatapan yan

n berjalan melewati Almira tan

tadi. Ada sesuatu di sana-semacam kepastian bahwa hubunga

tanya, apakah keputusan untuk tetap tin

uk sendirian di taman belakang, menatap

nya Almira sambil d

ante kemarin?" tan

yum hambar. "

dak akan menikah lagi." Keira menunduk. "Mungk

menyakitkan, karena berasal dari mulut anak kecil

h awal, sesuatu yang jarang terjadi. Almira membe

an duduk di belakang meja, menatap

?" suara

u tidak ingin membuat hidupmu semak

enusuk. "Jangan mengasihani dirimu send

as Almira lirih. "Kita b

h, dan sesuatu yang lebih dalam-sebelum ia mengalihkan pandangan

an ludah, la

ang wanita lain-mantan istrinya-muncul di pikirannya. Suara tawa, janji manis, da

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Suami Yang Menolak, Hati Yang Hancur
Suami Yang Menolak, Hati Yang Hancur
“Almira terpaksa menikahi ayah dari murid les privatnya, Adrian Elvano, setelah sebuah insiden tak terduga membuat mereka kedapatan tidur bersama dalam satu kamar hotel. Kejadian itu murni salah paham, namun Mami dan nenek Adrian bersikeras bahwa satu-satunya cara untuk menjaga nama baik keluarga adalah dengan menikahkan mereka. Adrian awalnya menolak mentah-mentah. Ia menegaskan bahwa peristiwa itu hanyalah kesalahpahaman belaka. Namun, di bawah tekanan keluarga, pernikahan tetap dilangsungkan, dan Adrian terpaksa mengucap janji yang tidak pernah ia inginkan. Sejak awal, penolakan Adrian tak pernah berhenti. Setiap sikap dingin dan tatapan acuhnya membuat Almira harus menahan pedih yang perlahan menggerogoti hati. Ia sendiri tak pernah menginginkan pernikahan ini, namun keadaan memaksanya. Tinggal di rumah besar milik Adrian terasa seperti menapaki lorong sunyi-penghuninya bahkan tak pernah menganggapnya ada. Bagi Adrian, Almira hanyalah guru les anaknya yang secara kebetulan tinggal di rumah tersebut, bukan seorang istri. Trauma masa lalu bersama istri pertamanya membuat Adrian menutup rapat pintu hatinya. Ia sama sekali tak berniat menikah lagi, apalagi mencintai seseorang. Kehadiran Almira dianggapnya sebagai beban yang harus segera ia lepaskan. Di tengah rasa terasing dan tidak diakui, muncul tawaran pertukaran pelajar ke luar negeri. Almira mulai mempertanyakan: apakah ia harus menerima kesempatan itu demi keluar dari rumah yang tak pernah menerimanya, atau bertahan meski hatinya terus terluka?”