icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati

Bab 4 Aku pastikan kau terbakar lebih dulu

Jumlah Kata:1609    |    Dirilis Pada: 26/07/2025

kau terbakar

amun anehnya, bukan karena takut. Bukan rasa gentar yang merayap naik... melainkan kemarahan. Kemarahan yang selama ini kutahan, kemarahan yang tertimbun di bawah lapisan kesabaran dan kepasrahan, kini mulai membara. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar tahu: aku sedang diburu. Bukan hany

tersengal pelan, namun bukan ketakutan yang merayap naik... melainkan tekad.

tajam namun tenang, memecah keheningan yang mencekam di ruang konferensi itu. Tidak a

t setiap keraguan yang masih bersembunyi di sudut hatiku. Tak ada senyum di bibirnya. Tak ada empati terpancar dari matanya. Tapi... ada kekuatan. Kekuatan yang memancar darinya, sebuah aura otoritas

mengalir begitu saja, seolah bagian dari diriku yang lama telah mati dan digantikan oleh sesuatu yang ba

enerimaan. Lalu dia kembali ke meja, mengambil selembar kertas dari tumpukan dokumen tebal di hadapanny

di asisten pribadi dalam proyek akuisisi kami. Di atas kertas, kau hanya karyawan biasa. Tapi di balik i

Sebuah rencana yang begitu licik, begitu berani. "Kau ingin menggunak

-stabilitas pasar. Perusahaannya, Mahendra Group, punya pengaruh signifikan. Dan perilakunya, apalagi skandal ini, bisa memicu ketidakpercayaan investor, bahkan mempengaruhi pergerakan saham." Dia berhenti sejenak, tatapannya menembus dir

aktik, seolah manusia hanyalah angka dan emosi adalah variabel yang bisa dimanipulasi. Aku merasa seperti bidak

setiap baris kalimat, mencari celah, mencari jebakan. Ada satu bagian yang membu

ini tidak mengikat secara hukum sebagai pernikahan atau hubungan personal, namun seluruh pergerakan sosial Anda akan be

dadaku meluncur begitu saja. "Jadi mulai hari ini... aku milikmu?" Ada sedikit nad

pa ia memegang kendali. "Tidak," katanya, matanya tetap dingin. "Kau milik dirimu se

ya. Tapi aku tahu satu hal yang pasti: jika aku tidak menggunakan kesempatan ini, aku akan habis. Dunia ini tak memihak wanita yang diam, yang hanya bisa me

n di bawah namaku yang lama-nama yang kini terasa begitu asing, begitu penuh luka. Lalu, dengan gerakan tegas, aku mencoret nama itu, seol

a Ve

h perjuangan baru. Aku merasakan sebuah getaran aneh menjalari tubuhk

taran kuat, diikuti oleh nada peringatan yang khas. Jantungku mencelos, tahu per

elar Konferensi Pers Klar

nyalahkan 'wanita tak stabil emo

depan umum? Setelah semua yang dia lakukan? Kemarahan yang sempat mereda kembali membara, lebih ganas dari sebelumnya. Ini adal

yaris tak terlihat, namun sarat makna. Dingin dan penuh strategi.

suaranya tenang, seolah ini adalah b

ada lagi keraguan dalam suarak

alam, sebuah janji tersirat tersembunyi di baliknya. "Kita mulai pertarung

elegan, dirancang untuk memancarkan aura ketenangan dan kekuatan. Wajahku dirias oleh makeup artist profesional, mulus dan kuat, menyembunyikan lingkaran hitam di bawah mata dan garis-garis kelelahan yan

engarkan setiap kata yang keluar dari bibirku. Ini bukan sekadar wawancara; ini adalah pe

a terasa seperti sebuah orkestra kacau yang siap dimainkan. Aku duduk di sebuah kursi tunggal di tengah panggung, mikrofon terpasang di kerah bajuku. Di

uangan, aku melihat Arya Pratama. Dia berdiri tegak, tangannya terlipat di dada, matanya fokus padaku. Tidak a

n segera dimulai. Hitungan mundur dari

Dua.

aku bisa merasakan ketegangan di balik senyum profesionalnya. "Hari ini, kita kedatangan tamu spesial yang namany

bersedia hadir. Ini adalah pertama kalinya Anda berbicara di hadapan publik setelah kasus perceraian Anda dan skandal perselingkuha

omenku. Momen untuk menyingkirkan label 'wanita tak stabil emosional'. Momen untuk menunjukkan

cara langsung pada Dito dan Luna, pada keluargaku, pada semua orang yang meremehkanku. Su

nang, menciptakan riak yang akan menyebar luas, "aku diperlakukan seperti hantu. Tidak terlihat, tida

ng baru saja kutemukan. "Dan ha

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati
Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati
“Pernikahan ini adalah hasil perjodohan dua keluarga besar. Dito, pria yang enam bulan lalu sah menjadi suamiku, ternyata masih menjalin hubungan terlarang dengan mantan kekasihnya, Luna. Di hadapanku, ia dengan terang-terangan menunjukkan kemesraan dengan wanita itu. Teguranku dan bahkan kemarahanku tak pernah digubrisnya. Enam bulan berlalu tanpa aku dianggap sebagai istri, apalagi disentuh. Dito semakin menunjukkan sikap benci dan muak padaku. Aku tak sanggup lagi menyaksikan perselingkuhan suamiku yang sudah tak bisa lagi dipisahkan dari wanita itu. Mencoba bertahan dan bersabar, pada akhirnya benteng pertahananku runtuh juga. Bahkan satu istri saja ia tak mampu berlaku adil. Biarkan aku yang mengalah. Dito lebih memilih Luna. Maka, Aku Mundur! Hingga pada akhirnya takdir mempertemukan aku dengan seorang pria dingin bernama Arya Pratama.”
1 Bab 1 Sudah enam bulan lamanya2 Bab 2 Kupeluk erat koper kecil di tanganku3 Bab 3 Kesepakatan4 Bab 4 Aku pastikan kau terbakar lebih dulu5 Bab 5 Siaran itu meledak seperti bom waktu6 Bab 6 Ancaman Luna membekas7 Bab 7 Bahkan setelah keberanianku melampaui batas8 Bab 8 Rasa yang Tak Bisa Dimengerti9 Bab 9 Jangan Sentuh Istriku10 Bab 10 Apartemen11 Bab 11 Sebuah Gedung Kosong12 Bab 12 Kebenaran yang Tak Bisa Diam13 Bab 13 Dito Kananta Diburu14 Bab 14 Markas Sementara15 Bab 15 Rumah Tua16 Bab 16 Sudah hampir sebulan sejak vila Dito terbakar17 Bab 17 Mencintai Tanpa Syarat18 Bab 18 Jalan Pulang19 Bab 19 Yang Tak Pernah Pergi20 Bab 20 Tiga hari setelah kami membuka surat21 Bab 21 Kebenaran yang selama ini tersembunyi22 Bab 22 Rumah yang Kubiarkan Tumbuh23 Bab 23 sesuatu tengah berubah24 Bab 24 bertumpuk berkas25 Bab 25 menguras segalanya26 Bab 26 Dua bulan setelah pernikahan kami27 Bab 27 mengajak kerja sama28 Bab 28 beberapa bulan yang lalu29 Bab 29 Surat dari Masa Depan30 Bab 30 Rumah ini tak lagi sama31 Bab 31 masa lalu32 Bab 32 menyiram bunga di taman33 Bab 33 setelah hujan sore