icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Patah

Bab 4 Soulmate

Jumlah Kata:1680    |    Dirilis Pada: 17/10/2021

ar membuatnya kesiangan. Mungkin jika tidak ingat tekat berhemat sampai titik sen penghabisan dia akan melanjutkan tidurnya di hotel mewah itu. Tekat yang tadi me

penjuru kamar. Kamarnya di rumah papa Jaya lebih bagus dari ini. Tapi k

mana te

ncierges agak berkeryit ketika dia menolak dicarikan tumpangan. Dengan bawaan sebanyak itu, ke mana gadis ini akan pergi? Mung

ri semakin menyebalkan. Apalagi bagi Nayara yang terbiasa men

rus ke

Baru kali ini dia memperhatikan nominal di kertas sebelum dia menandatangani kertas itu. Dia sudah memberikan kartu kredit u

i tidak ada batasnya. Dia tidak tahu, isi kartu debit itu akan bertahan berapa lama, termasuk uang tunai yang dia sambar dari laci kamar di rumah papa Jaya. Tapi dia berj

g cukup lumayan untuk modal awal hidup mandiri. Dan dia baru saja membuangnya begit

uh

a yang berharga untuknya. Saat ini yang penting adalah ke mana

kendaraan membuat kepala Nayara mulai berdenyut. Semakin berdenyut saat dia tidak tahu harus ke mana. Apa teman-temannya mau menampungnya? Dia

mun itulah seseo

i duduknya, bergeser sedikit agar ada space untuk satu bokong la

ini." Suaranya ceria sambil melihat ke koper, disamp

m

y

ana

yara masih

jarnya setelah berpikir supe

nya menelisik pe

memperhatikan saksama penampilan Nayara. Meski outfit yang Nayara kenakan terlihat

dia nyaris berhadapan dengan gadis itu

ini. Jauh. Terus

ari sini makin bagus." Tempat ini

Di kampung pula." Gadis i

n." Ingat tekat berhematnya, dia harus mulai

ih. Jalan kaki j

uh nggak masalah. Ma

ha

serius

aja deh, Mbak li

g koper besar itu menaiki mobil-taksi online yang dipe

lah mereka membanting tubuhnya di baris tengah. Nayara menganggu

ar ini naik kereta, Mbak?" Naya

ak ramai-ramai amat boleh kok. Ini kan Minggu. Ke a

a ter

kamar biar irit bayar kos. Kos

S

yang semura

mat, tapi membawa barang sebanyak ini dengan moda transportasi umum

kalimatnya. "Kayaknya ng

nap

orang k

bahak sema

ue mah miskin, kere. Sebentar lag

gsung terlintas adalah seorang anak yang kabur dari istana ayah tirinya. Hhmm... Donge

embuat gadis itu menghentikan kehaluannya. Tangan kanan Nayara ter

Jengga

bok mbak-mbok lah ya. Gue lu aja. Tapi lu ngga

tertawa

tan tercium men

*

uh sederhana. Ini lebih sederhana-baca: lebih buruk-dari kamar asisten rumahnya. Tapi Nay m

g diterima dengan senyum lebar. Dia langsung mengambil uang dari lemarinya lalu mengajak Nayara berkenalan deng

anpa kaki. Gia melempar bantal ke ar

pat tinggal aman terkendali, ujarnya dal

eh mau tar

payah, Nayara langsung merebahkan dirinya ta

angin tidur di

ah Nayara. "Eh, gue pakai sprei l

tiga. Kalau kita nyuci

yang sampai menghentikan gerakannya memasang sarung

nding buat jajan cilok. Nyuci kan tinggal kucek-kucek dikit. Sel

ya. Jangankan mencuci, tutorial memasak air saja ada. Selama ini mana pernah dia mengurus cucian. Tid

ar lu yang l

i, sudah jarang ke kampus, jadi mending

epan baru gue skripsi. Sekarang

tiga semester lagi. G

nap

la." Gia terkekeh santa

nta

yang Nayara sebut adalah kampus favorit

lu mik

antara mana cocok di sini.

man gue bany

pain lu k

bur dar

rapa lama di sini. Tapi uang yang tadi lu kasih i

senilai semalam di kamar hotel yang tadi dia

in gue juga harus cari kerja. Gue ng

ke

ya

ma

luang aja. Gue nggak peduli berapa yang mereka transfer. Kayan

i Papyrus? Nam

Na

gue sering nongkrong di Papyrus. A

rgelak sa

wers gue nggak banyak. Makanya gue harus seriusin nulis deh. A

a ternganga

au nyari duit ya nulis aja." Dulu dia tidak peduli angka-angka itu. Angka

. "Lah gue kalau chat a

nap

yang paling ngeselin mereka tuh karena g

rus lu ketik deh hasil ngayalnya. Selama lu bisa ngerti tadi l

gue coba ngayal deh. Toh sekarang gue sekamar s

reka terbah

*

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Patah
Patah
“PRISHA Nayara, gadis pemberontak yang sulit diatur. Bekerja sebagai editor di Papyrus, platform kepenulisan milik Manggala Abipraya Sastradinata. Nayara yang keras kepala bertemu dengan Manggala yang dingin dan tak acuh. Itu awal pertemuan mereka. Lalu selanjutnya jalan nasib membimbing mereka ke takdir di masa depan yang ternyata memang tidak bisa lepas dari masa lalu. Kedua mereka membawa luka masing-masing. Luka yang membentuk mereka menjadi seperti sekarang. Keras dan dingin. Lalu kebersamaan membuat mereka saling mengobati luka itu. Tapi dunia tidak semudah itu untuk ditaklukkan. Kondisi berbalik. Dan mereka kembali harus saling menyembuhkan. Ini memang novel cinta. Tapi tanpa pernyataan cinta. Hanya ada rasa untuk mencintai diri masing-masing demi bisa mencintai pasangannya. ***”