icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Istri Yang Tersiksa

Bab 3 melawan cinta yang selalu membuatnya terluka

Jumlah Kata:1235    |    Dirilis Pada: 14/12/2024

tertunduk. Tangannya yang besar menggenggam kertas hasil diagnosa itu erat, seperti ingin meremasnya hingga

izky. Aku sudah memutuskan," katanya dingin,

. sesuatu yang Rania tak bisa mengartikan. Apakah itu rasa bersalah? Penyesal

izky bertanya, suaranya terdeng

ong. "Aku ingin pergi dari sini. Da

malam sunyi. Rizky terdiam sejenak, lalu bangkit berdiri. Sosoknya yang tinggi

yang semakin rumit antara Rania dan Rizky, dengan tekanan ba

Ambang P

nya. Sore itu begitu sunyi, hanya suara jarum jam yang berdetik di dinding. Ia meras

da Rizky. Meski pria itu terlihat terkejut, Rania tahu ia tidak akan berubah. Rizky selalu seperti

Rania menoleh dengan sedikit bingung. Ia tidak mengharapkan tamu

tam panjang yang tertata rapi, wajah yang cantik dengan riasan tipis, dan s

lembut yang terdengar terlalu

muncul. Ia tahu bahwa Inez tidak datang hanya untuk sekad

suara datar, meskipun hati

ah rumah itu masih miliknya. Ia duduk di sofa denga

" kata Inez akhirnya, memecah kehen

k terpancing oleh kepalsuan Inez. "Terima

Inez, matanya menatap Rania dengan tajam. "Kau tahu, dia sangat bergantung pada

sud oleh Inez. Wanita itu selalu menyelipkan sindiran-

a," kata Rania dengan tegas,

aku hanya berpikir, apakah kau sudah mempertimbangkan untuk membe

a menggoyahkan kepercayaannya. Dan lebih dari itu, Inez ingin mengatakan ba

uaranya penuh dengan ketegasan yang jarang ia tunjukk

ia. Kau begitu manis. Tapi kau harus tahu bahwa Rizky dan aku memiliki sejara

unjukkan kelemahannya. Ia tahu Inez ingin melihatny

a Rania akhirnya. "Dan Rizky memilih

n tantangan. "Kita lihat saja, Rania. Kita liha

eluar dengan angkuh, meninggalkan Rania yang masih berdiri d

*

u dalam ekspresinya yang membuat Rania merasa gugup. Rizky meletakkan tas kerjanya d

ra," kata Rizky

hatinya berdegup kencang. Ia tahu

hari ini," kata Rizky

Ia tidak ingin bertanya lebih jauh, mes

izky melanjutkan, matanya menatap

i bayangan dalam pernikahannya dengan Rizky, tapi mendengar kata-ka

ya?" Rania bertanya akhirny

Rizky dengan tegas. "Aku sudah memilih

itu, tapi ada sesuatu dalam nada suara Rizky ya

n, suaranya lebih pelan kali ini. "Raka membutuhkan

taf. "Apa maksudmu, Rizky? Apa kau berpikir aku t

"Bukan itu maksudku, Rania. Aku hanya... a

lakukan segalanya untuk anakmu, Rizky. Aku mencoba menjadi ibu baginya, meskipun aku tahu dia tid

bisa ditahan. Dan untuk pertama kaliny

tidak mencintaimu?" tanyanya, su

ky? Kau tidak pernah menunjukkan bahwa aku berarti bagimu. Kau lebih peduli pada pekerjaanmu, pad

tahu harus berkata apa. Dan untuk pertama kal

ky," kata Rania akhirnya, sua

asa sakit dan penyesalan. "Tidak," katanya denga

idak bisa hidup dalam pernikahan yang hanya membuatku semakin hancur. Aku in

n kesedihan. "Aku tidak peduli apa yang kau ingi

kan ruangan, meninggalkan Rania yang ter

ngan mereka baru saja dimulai, dan entah bagaimana, ia harus menemukan kekuatan untuk

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Istri Yang Tersiksa
Istri Yang Tersiksa
“"Seperti janji yang terukir di batu, aku tak akan pernah mengizinkanmu pergi, Rania. Bahkan jika kau berteriak, menangis, dan memohon seolah dunia akan berakhir, aku tetap tak akan melepaskanmu." Selama tiga tahun pernikahan, Rania Alvi selalu merasa seperti bayangan di dalam rumahnya sendiri, terjebak dalam kesendirian yang semakin pekat. Suaminya, Rizky Wira, seorang pengusaha muda yang sukses dan dikenal dengan ketegasan serta sikapnya yang dingin, selalu membuat Rania merasa terasing. Terlebih lagi, Rizky adalah duda dengan seorang putra berusia tujuh tahun, dan pernikahan mereka menjadi lebih rumit dengan hadirnya Inez, mantan istri Rizky yang tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Hari-hari Rania dipenuhi dengan kesunyian yang seolah menekan napasnya. Setiap kali Inez datang mengunjungi putra mereka, Rania merasakan hatinya terhimpit. Pemandangan Rizky yang tampak lebih hangat kepada Inez daripada dirinya membuatnya hampir menyerah. Keadaan semakin memburuk ketika Rania mulai jatuh sakit; rasa sakit di tubuhnya tak bisa disangkal, tapi ia tetap mengabaikannya. Sampai pada akhirnya, dokter mengatakan bahwa Rania mengidap kanker stadium dua. Tertekan oleh beban fisik dan emosional yang semakin berat, Rania akhirnya memberanikan diri untuk menyerahkan dokumen perceraian kepada Rizky. Ia menatap suaminya yang terdiam di depan meja, tatapan kosongnya mencerminkan kekuatan yang berusaha ia pertahankan. "Rizky... aku tak bisa lagi. Aku... aku ingin kita berakhir," ucap Rania dengan suara yang bergetar, matanya basah, mencoba menunjukkan keteguhan di tengah kehancuran. Rizky menatap dokumen itu sejenak, lalu menatap Rania. Wajahnya yang tajam seketika melunak, mata gelapnya menyimpan seribu pertanyaan. Tapi tidak ada kekhawatiran. Tidak ada rasa takut. Hanya ada kekesalan yang membara di balik setiap kata yang keluar dari bibirnya. "Rania, dengarkan aku. Tidak ada perceraian di antara kita, bahkan jika itu berarti aku harus memaksa dirimu untuk tetap bersamaku," Rizky berkata, suaranya tegas dengan aura yang sulit ditangkal. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Tidak sekarang, tidak pernah." Rania terdiam, napasnya serasa terhenti. Setiap kata Rizky seperti menyayat hati, mengingatkan pada kenyataan pahit yang selama ini ia coba lupakan. Di mata Rizky, ia bukan hanya sekadar istri, tetapi sebuah kewajiban yang harus dipenuhi, bahkan jika itu berarti ia harus mengikat Rania dalam kesakitan yang lebih dalam. "Rizky, aku... aku sudah tidak sanggup. Aku tidak bisa terus seperti ini, dengan hatiku yang hancur dan tubuh yang semakin rapuh. Beri aku kebebasan, izinkan aku untuk... untuk pergi," ujar Rania, suara di ujung tangis. Namun Rizky hanya memandangnya dengan tatapan yang menyakitkan, di antara keheningan yang seakan berbicara lebih keras daripada kata-kata apa pun. Ia mungkin tak akan pernah mengerti, tapi dalam keheningan itu, Rania tahu satu hal: perjuangan mereka belum selesai. Dan mungkin, hanya waktu yang akan mengungkap siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pertempuran hati yang memilukan ini.”