icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Direndahkan Oleh Keluarga Suami

Bab 2 Pilihan yang Terpaksa

Jumlah Kata:698    |    Dirilis Pada: 14/12/2024

, hatinya justru semakin terang oleh rasa sakit yang sulit dijelaskan. Ardan duduk di kursi kayu tua di sudut ruangan, tangannya yang kokoh memijat pelipis, ber

dengar detak jantungnya yang berdetak cepat, menyuarakan perasaan yang sulit dikendalikan. Ardan akhirnya mendongak, menatap Jasmine dengan mata yang penuh ketegangan dan kebingungan. S

ia mengangkat tangan, lalu menurunkannya lagi, seperti sedang

hangatan di dalam hatinya yang meradang. Setiap kata Ardan adalah kebohongan, setiap keheningan adalah pengkhianatan. Di luar, bu

asmine. Namun, Jasmine mengangkat tangannya, meminta dia untuk berhenti. Itu cuk

ti pisau. "Selama ini, aku selalu berharap. Aku selalu berpikir bahwa suatu hari, aku akan merasa dicint

ang terperangkap antara keinginan untuk meminta maaf dan rasa marah pada dirinya sendiri. "Jasmine, aku minta maaf," katanya akhir

gerakanmu, setiap ekspresi di wajahmu. Aku tahu bagaimana caramu berbicara, caramu tersenyum, dan cara

lama ini dia tahan. Jasmine melangkah ke arah Ardan, mendekat hingga jarak di antara mereka hanya sehelai rambut. Dia ingin melihat ke

rdan dengan suara penuh kebingungan. "Aku tahu

lakukan selama ini? Mempermainkanku? Mencoba membuatku percaya bahwa aku cukup layak untukmu? Aku tahu, Ardan. Aku

kelegaan yang datang dengan kenyataan. Ardan hanya bisa menatapnya dengan mata

dengan penyesalan. "Aku mencintaimu dengan cara yang... aku tidak

ukup untuk menebus segala pengkhianatan. Namun, dia tahu jawaban itu. Hati yang

n membuatnya lebih sulit. Kita tidak bisa kembali, Ardan

ertahun-tahun. Dia tahu satu hal: hari-hari ke depan tidak akan pernah sama lagi. Dia sudah lelah menunggu, lel

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Direndahkan Oleh Keluarga Suami
Direndahkan Oleh Keluarga Suami
“Jasmine Bintang terlahir dengan keterbatasan fisik yang membuatnya sulit untuk menerima dunia di sekitarnya. Tumbuh dalam keluarga yang penuh tekanan dan kerap disisihkan, Jasmine sering merasa sepi. Ibu kandungnya, Lestari, yang selalu memandangnya dengan mata penuh kecewa, menyulut rasa tidak berharga dalam dirinya. Meskipun demikian, Jasmine mencoba membangun hidup di luar bayangan kegelapan itu dengan menikahi Ardan Mahendra, seorang pria tampan dan sukses, yang memiliki karisma memikat dan senyum yang bisa menenangkan jiwa siapa pun. Namun, tak ada yang tahu bahwa Ardan, di balik senyum dan kepura-puraannya, menyimpan cinta yang jauh dari tulus. Keluarga Ardan, yang berasal dari golongan elit, memperlakukan Jasmine seperti perhiasan yang rusak, menghina dan mengabaikannya setiap kali kesempatan muncul. Meskipun Jasmine berusaha keras untuk membuktikan diri, rasa sakit itu tetap menusuk dan membuatnya ingin menyerah. Suatu hari, Anindya, wanita yang pernah menjadi cinta pertama Ardan, muncul kembali, seakan angin yang membawa badai. Dengan sikap angkuh, Anindya berdiri di depan Jasmine, mengumumkan dengan suara yang penuh keyakinan dan tawa sarkastik, "Kamu tidak pernah merasakan cinta yang sejati, bukan? Apa Ardan pernah berkata bahwa dia mencintaimu? Haha, ketika aku bersamanya dulu, setiap hari dia berkata bahwa dia tak bisa hidup tanpaku." Kata-kata itu bagaikan pisau yang menghujam jantung Jasmine. Selama ini, dia hidup dalam kebohongan, memaksa dirinya untuk percaya bahwa cinta itu nyata, meskipun semua tanda menunjukkan sebaliknya. Dalam diam, Jasmine menyadari bahwa dia telah mengorbankan kebahagiaan sejatinya demi seseorang yang tak pernah memandangnya dengan cinta tulus. Jasmine memutuskan untuk melepaskan Ardan, memberi kebebasan padanya untuk mengejar kebahagiaan yang sebenarnya. Namun, Ardan menolak untuk melepaskan Jasmine begitu saja. Dia menatap Jasmine dengan mata yang penuh amarah dan sesal, lantas mengucapkan dengan suara berat, "Mau bercerai? Tidak ada satu pun langkah yang bisa kau ambil tanpa melewati mayatku, Jasmine." Namun, dengan air mata yang menetes di pipi, Jasmine menyuarakan keinginannya dengan nada yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. "Kita harus berpisah, Ardan. Maaf telah membuang waktu kita berdua selama ini."”
1 Bab 1 Citra yang Retak2 Bab 2 Pilihan yang Terpaksa3 Bab 3 konflik batin Jasmine dan Ardan4 Bab 4 pertemuan pertama dengan Aiden5 Bab 5 belajar untuk menerima kenyataan6 Bab 6 Keberanian yang Terlahir Kembali7 Bab 7 Angin sore yang berhembus8 Bab 8 emosional antara Jasmine dan Ardan9 Bab 9 keberanian untuk mencintai lagi10 Bab 10 membangun kembali kepercayaan dan cinta11 Bab 11 Ardan untuk melawan ketakutan mereka12 Bab 12 tidak datang dari kepastian13 Bab 13 Gemintang terlihat samar di balik kabut tipis14 Bab 14 cinta tidak selalu tentang memiliki15 Bab 15 Jasmine menghapus air matanya16 Bab 16 berjanji untuk saling menguatkan17 Bab 17 badai itu hanya semakin keras18 Bab 18 meninggalkan langit yang perlahan-lahan cerah19 Bab 19 Seperti hujan yang telah mereda20 Bab 20 sudah cukup untuk memulai21 Bab 21 suara burung yang bernyanyi di kejauhan22 Bab 22 menyimpan sisa-sisa awan kelabu23 Bab 23 Cinta yang menjadi pelita24 Bab 24 air mata kebahagiaan25 Bab 25 Jasmine tahu bahwa apa pun yang terjadi26 Bab 26 memiliki kekuatan untuk terus melangkah27 Bab 27 tidak ada yang bisa merusak kebahagiaan28 Bab 28 Jasmine merasa satu lapisan berat dalam dirinya mulai terlepas29 Bab 29 setiap langkah akan membawa mereka lebih dekat30 Bab 30 Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menjelaskan31 Bab 31 bekerja keras untuk mencapainya