StepLover
ir, diri ini pasti sedang dalam keadaan tidak sehat atau sejenisnya, itu sebab sembarang menangkap
ut tangannya mengulang, "Menikah denganku dan kita tidak harus memula
seharusnya menjadi ayah mertuanya? Membayangkan hal itu dengan mudah sudah menyantak jantung
dak mampu mencerna lamaran mendadak itu, sama seka
i begitu tidak melakukan pergerakan apa pun. "Kau mungkin tidak tahu, tapi aku sering memperhatikanmu." Lelaki itu menambahkan, "Aku tida
mpercayai bahwa lamaran itu nyata, tapi ... ibu tiri? Candy
hianati dan pembalasan apa yang paling sesuai untuk pemuda itu? Jika tidak ada pernikahan, Candy tidak akan punya
dalah apa yang melintasi benak dan apa yang ingin Candy lakukan. 'Aku ingin menjadi ibu tiri yang kejam,' batinnya. Candy mau melakuka
ikahiku?" tanya Candy,
epertimu tidak seharusnya dibiarkan pergi begitu saja. Itu mengapa ... jika Putra tidak menginginkanmu, aku menginginkanm
bahwa diri ini kejam karena berpikir untuk menjadikan Robert sebagai alasan diri ini bisa memasuki rumah mereka dan memp
rt kompak menoleh, seorang lelaki yang adalah salah satu pengurus acara pada pagi hari ini sud
a menutup pintu kembali. Robert kembali menatap Candy.
las dendam, agar putra bisa merasakan rasa sakit yang sama, kepala Candy b
percaya diri itu. Dia mengambil tangan
tempat di mana acara akan berlangsung. Gadis itu sudah berpisah dari R
belumnya dia pilih bersama Putra. Candy bahkan masih mengingat betapa lebar seny
encian dalam hati. Lagu pernikahan mengalun sangat lembut, semua tamu yang sebelumnya t
atas altar. Belum ada yang menyadari keanehan pernikahan ini karena semua tamu memberi perhat
apa balon berwarna merah jambu. Dua bridesmaid membantu memegangi gaun panjang Candy dengan hati-hati agar sang
ang kompak membisu. Sang pendeta termaksud salah satu yang sebelumnya tidak memperhatikan. Lelaki tua itu meng
ih mengalun, tapi mendadak tidak ada yang bisa mendengar suara apa pun. Semua mata tertuju
lah heboh. Mereka berpikir, apakah Putra yang akan menikah mendadak semakin mirip waja
mengangkat tangan dan bertanya. Bahkan jika ingat pun, tid
akhirnya bisa mengerjapkan mata, menelan ludah, menutup mulut yang
s altar sungguh tidak berubah dan dia adalah Robert Wi
n adalah Putra, bukan Robert, tapi melihatnya berdiri di sana membu
sama sekali. Rasanya tidak begitu buruk, jika harus ia katakan. Robert baru sa