ereaksi seperti apa pada Candy yang masih menatap. "Maaf aku datang malam-mal
rtemuan pertama Candy dengan perempuan itu, tapi Candy pernah melihatnya di dalam sebuah
sakit dan muak melihat drama lihai yang mampu Bianca peragakan. "K
t terdiam, dia memamerkan senyuman tulus. "M
rkepal kesal dibuat sang lawan bicara. "Keluar dari sini," u
kan di sana. "Aku berpacaran dengan Putra, aku harap kau tidak salah paham dan
tidak di depan mata kepala sendiri. Bianca mencoba mengan
ong mundur, beruntun
sepertinya tersinggung karena perlakuan Candy. "Memangnya
ngkuhan." Candy menusuk pundak Bianca mencerca, "Bagaimana bisa kau me
seolah kau lebih baik dariku?" Dia menepis kasar tangan Candy sebelum melanjutkan, "Kau pun meninggalkan Pu
kalimat Bianca. "Aku tidak akan berpisah dari Putra jika tidak kare
p Candy. "Putra yang mendekatiku, bukan aku! Aku sama sekali tid
dadak tahu aku menikahi ayah Putra. Kemudian berkata tidak tahu Putra memiliki pacar? Kau tidak mungkin
dak mengartikan Robert harus mengus
n terusik. "Keluar dari sini!" usirnya. "Jika kau sudah tahu aku menikahi R
ngit. "Putra berhak bersama siapa saja yang dia mau
pun aku tetap saja sudah menikahi Robert." Gadis itu
ata mulai memicing tajam dan tangan pun terkepal erat. "Aku tidak ingin bermusuhan, tolon
gangkat dagu, dengan angkuh menimpali, "Kau tidak akan bermain den
ang beberapa kali ia dengar kisahnya memiliki karakter yang cukup garang. Enggan kalah, Bianca membalas, "Bagaim
g aku cintai mengkhianatiku karenamu! Aku berakhir menjadi ibunya karenamu! Hatiku sakit karena jalang sepertimu dan kami usai karenamu!" Banyak lagi hal yang tidak bisa Candy keluarkan. Salah satunya adalah ia den
mbil pijakan secara benar me
usuk langsung dua bola mata Bianca. "Jika masih ada tersisa sedikit harga diri pada dirimu, kau tidak akan
rah. Dia bergegas bangkit untuk menarik ganggang pintu, tapi tidak bisa melakukannya karena terkunci. Ingin hati memekik, mengh
amarah dan dia meninggalkan Kediaman W
u menuju Putra yang masih tidak sadarkan diri di atas sofa. Perlahan se
mengepalkan dua tangan secara erat. "Ini salahmu," tuduh Candy. Gadis itu menarik kerah kemeja Putra, menguncang tubuhnya kasar den
karena mata mendadak memanas. Candy mengingat pertemuan bersama Bianca tadi, setiap rinci tan
mengharapkan jawaban keluar dari mulut yang tidak bergerak. "Bagaimana bisa kau meninggalkan aku di hari yang sudah kita nantikan sangat lama?" Hati kian hancur m
ilontarkan atau sampai di indera pendengar, tapi semuanya berubah hari ini. Hati tidak lagi merasa nyaman dan tenang, apa yang
/0/2138/coverbig.jpg?v=317c083a301f2420deb34af0c442ae88&imageMogr2/format/webp)