la, tidak menyisihkan satu sisi gelap pun. Ruangan yang terdapat di lantai sepuluh suatu h
rduduk dengan mata yang hanya tertuju pada pi
kahi seorang pemuda tampan, pe
menggunakan tangan? Keisya mencoba menghindar dari banyaknya pertanyaan yang ingin diketahui para tamu,
ng sibuk menyapa para tamu di meja masing-masing. Mereka kemudian kembali menatap Keis
ong mengerti bahwa Candy masih muda dan pantas menikahi anak sang duda! Candy tidak tahu sudah seheboh
Putra?" tanya wanita yang lain d
mendapatkan ayahnya." Sudahlah mengiring opini seenak jidat, semua yang ada malah te
diri karena Keisya TIDAK PAHAM pada apa yang sedang terjadi. Sebelumnya ia terpaksa bangkit dari kursi dan p
baran." Wanita bersurai pirang itu melanjutkan, "Mungkinkah ... dia lebih menyukai
kses mengejutkan semua orang. Sekali lagi, kecuali Keisya yang masih mencoba bersabar
niduri Robert, itu sebab mau meni
aan itu membuat semua yang ada di atas meja mulai berpiki
"Meski Putra adalah pewaris tunggal Robert, dia hanya menghabiskan wakt
la Keisya sakit mendengar ta
sukses menarik rasa penasaran semua orang yang mendengar Dia menyambung, "Kalian
inaan yang terlontar, menjadikan putrinya sebagai guyonan. Wanita itu bangkit
apa pun adalah pilihan yang baik demi menghindari stress. Sial sekali Keisya se
lah Keisya lenyap dari netra, pembicaraan pun berlanjut. "Dia
ngkan hal yang sama dan
Kebanyakan tamu undangan yang adalah teman Robert bisa menjaga mulut dari bergosi
n dengan pentas kecil. Candy membalas senyuman yang sang suami lontarkan, tidak luput dari dua bola mata
Candy, Keisya baru saja bergabung. Niat ingin menghindari sakit kepala, Keisya
atap kakek dan nenak Putra yang bahkan tidak berani ber
orang gadis saat dia menikahi duda keren yang kebetulan kaya raya? Candy
luput dari menjadi topik pembicaraan, tapi setidaknya masih ada yang mengasihinya. Berbeda dengan Ca
a celaan itu, Keisya ... frustasi. Dia mengambil
aksikan ayahnya menyuapi cemilan berupa kacang langsung ke mulut Candy. Kepal
di depan semua orang. Robert mengelus pucuk kepala sang istr
ju hanya untuk Putra seorang. Dia mungkin menggengam tangan Robert, tapi tangan it
g sudah panas mendengar suara-suara kec
sang suami. Sialnya cincin yang menyemat sangat pas di jari manis entah
miliknya, tapi Robert dan dua orangtuanya lebih sigap men
ek memundurkan kursi, mengalihkan pandangan pada lantai. M
k dan bisik-bisikan para tamu lenyap bagai ditelan bumi. Tidak ada apa pun yang terlihat karena ruangan seolah kosong. Raut wajah Putra
bergetar tidak menyenangkan. Ada amarah, ada rasa sakit dan
/0/2138/coverbig.jpg?v=317c083a301f2420deb34af0c442ae88&imageMogr2/format/webp)