icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kisah Aku & Dia

Bab 5 Masa Depan Tak Pernah Pasti

Jumlah Kata:578    |    Dirilis Pada: 04/05/2024

ke!" ucapnya dengan mengangkat dua tang

ereng

utnya. "Gue

gobl

itu

ah mikirin masa

ngendikkan bahu. "Mungkin sekarang terlihat kek

mbali melangkah menuju

dianggap jenius untuk bisa duduk

dia seorang yang sangat cerdas, hanya saja,

amar mendapat teguran, atau pemanggilan orang t

njadi dirinya, seorang cowok ganteng dengan tinggi 180 sent

, ay

ma ada ulangan. Jadi, jangan bikin otak gu

ri di depanku dengan

ujarnya. "Tapi lu

seenggaknya, jangan libatin gue! Gimana kalo kemarin kita gak bisa k

atap ke mataku dan tersenyum. "Gue j

kah memasuki kelas. "Lu udah ngelakuin hal sama berka

dengannya, sementara teman-teman sekela

in

nya, hanya tersisa setahun lagi saja bagi kita untuk belajar. Gue nggak mau terus-te

i bangkuku dan menaruh tas serta

ngku yang mana itu adalah bangkunya sela

seraya duduk di sampingk

iam mendelik tak senang. "

um dengan mengedip-ngedipkan matanya pada Meriam. "Se

nuhi permintaan Damar. Dan dia mengambil te

lambaikan tangannya pada

sahut

mendengar it

e," ujarnya denga

gangguin gue selama ulangan ntar,

ih dalam, mengangkat punggungnya, la

ngan merang

?" Aku mend

aik yang perna

bisa menyimpan senyumk

teman sekelas sudah hadir semuanya. Selang semenit

dengan tidak menggangguku pada j

rang tuaku bukanlah dari kalangan ekonomi atas, jadi, jika

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kisah Aku & Dia
Kisah Aku & Dia
“Damar, dia seorang laki-laki yang pernah aku harapkan menjadi seseorang yang akan selalu mendampingiku dalam suka maupun duka. Dan aku, Rina, gadis yang akan selalu ada untuknya dalam sakit ataupun senang. Tapi kehidupan tak akan pernah sejalan dengan pemikiran dan keinginan, membuyarkan khayalanku, menghempaskan mimpi-mimpiku ke jurang terdalam, lalu pecah berderai di kerasnya kenyataan. Damar yang selalu memperlakukanku dengan baik, bahkan lebih dekat daripada keluarganya sendiri, ternyata sama sekali tak menaruh hati padaku. Perasaan yang terhempas ini tak pernah bisa kuungkapkan. Tidak pada orang tuaku, tidak pula pada Damar sendiri. Kusimpan segala sakit di dalam hati, sendiri, dan mendoakan yang terbaik baik bagi Damar sebab dia yang harus pindah, dibawa pergi oleh keluarganya ke luar kota.”