icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kisah Aku & Dia

Bab 4 Seperti Keluarga Sendiri

Jumlah Kata:538    |    Dirilis Pada: 04/05/2024

olahku yang justru cemburu buta terh

baik saja. Aku tidak punya perasaan apa-ap

an selalu mengalihkan pembicaraan jika ak

n seperti yang sering muncul di televisi, at

sama s

dalam keluarga Damar, tentang ayah dan ibunya,

tidur di rumah kami. Di sanalah aku, ayah, dan ibuku baru menge

u, Damar selalu menj

i ke rumahnya meski sekadar bikin PR bersama, misalnya. Juga, alasan mengap

ngkin sudah menganggap Dama

ar mengambil sebotol air

te mau bikin pepes ikan

ampiriku. "

a begitu seenaknya saja mau duduk di

sementara ibuku menyiangi d

atanny

kamu mau, ya makan malam b

. Jangan ng

ol bahuku dengan bahunya. "Gue tuh lagi n

aja, dia menoyor kenin

r, ya!" Aku mendelik padan

!" sahutnya

mi, untuk yang kesejuta kalinya.

dinding yang juga dipas

am tiga

" jawabku. "Ntar aja

an!" Damar la

ka cemberut. "Lu tuh gak ada ba

mar. "Jangan galak-galak gitu, ah. Ibu gak suka.

lagi seraya mengambil satu pir

api keributan kami. Sementara Damar t

berupa ikan goreng balado, tahu, te

estoran ternama? Bukankah itu akan lebih sesuai untuknya? Dan,

musingkan k

*

coba menghentikanku semenjak dari ger

kepadanya. Dasar, dia bahkan tidak peduli denga

i," ucapnya, lagi. "Ri

memandang tajam padanya dan beb

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kisah Aku & Dia
Kisah Aku & Dia
“Damar, dia seorang laki-laki yang pernah aku harapkan menjadi seseorang yang akan selalu mendampingiku dalam suka maupun duka. Dan aku, Rina, gadis yang akan selalu ada untuknya dalam sakit ataupun senang. Tapi kehidupan tak akan pernah sejalan dengan pemikiran dan keinginan, membuyarkan khayalanku, menghempaskan mimpi-mimpiku ke jurang terdalam, lalu pecah berderai di kerasnya kenyataan. Damar yang selalu memperlakukanku dengan baik, bahkan lebih dekat daripada keluarganya sendiri, ternyata sama sekali tak menaruh hati padaku. Perasaan yang terhempas ini tak pernah bisa kuungkapkan. Tidak pada orang tuaku, tidak pula pada Damar sendiri. Kusimpan segala sakit di dalam hati, sendiri, dan mendoakan yang terbaik baik bagi Damar sebab dia yang harus pindah, dibawa pergi oleh keluarganya ke luar kota.”