icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kisah Aku & Dia

Bab 2 Cowok Slengean

Jumlah Kata:536    |    Dirilis Pada: 04/05/2024

t, ca

an campur aduk. Cemas sudah pasti,

i tengah pasar, berputar-putar, dan menghadapi

rkekeh-kekeh saja, seolah-olah semua hal yang sedang terjadi sekarang ini

berhasil keluar dari pasar itu dengan

ndisi pasar itu memudahkan kami untuk menghinda

erapa jauh lagi dari

ke rumah el

ng sesak, perut yang terasa kram, dan rusuk yang bernyut

mi saling pandang, dan dia terkek

n!" u

sek lu!

saja terta

naiki sepeda motornya yang sudah butut, di

yanya. "Padahal Ayah mo

embari merangkul bahuku. "Aku

tetap saja terkekeh menangg

dah," bal

nyaku dengan napas yang m

ahu aj

ustru temannya, yang jelas, selalu saja percakapan di antara

ebal

kejap kemudian, ayahku tel

rumahku dengan terlebih dahulu melepaska

kang sembari melepaskan sepat

itu hanya tertawa-

, R

a-gara dia aku terpaksa lari selama beberapa

paskan tubuhnya di sofa panjang di ru

engan tangan berada di pinggang dan men

eolah tak berdos

gue, habis semua basah. Semu

tawa saja, bahkan dengan santai dia merebahkan punggungnya di sofa panjan

katanya, lagi.

L

anyak selain meninggalkan Da

pikir aku ini pelayannya, begitukah? Main suruh begitu aja, in

sar anak o

amuala

ikumus

suara seorang wanita yang memasuki rumah dan disambut oleh Dama

habis ngapain, k

, biasalah, h

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kisah Aku & Dia
Kisah Aku & Dia
“Damar, dia seorang laki-laki yang pernah aku harapkan menjadi seseorang yang akan selalu mendampingiku dalam suka maupun duka. Dan aku, Rina, gadis yang akan selalu ada untuknya dalam sakit ataupun senang. Tapi kehidupan tak akan pernah sejalan dengan pemikiran dan keinginan, membuyarkan khayalanku, menghempaskan mimpi-mimpiku ke jurang terdalam, lalu pecah berderai di kerasnya kenyataan. Damar yang selalu memperlakukanku dengan baik, bahkan lebih dekat daripada keluarganya sendiri, ternyata sama sekali tak menaruh hati padaku. Perasaan yang terhempas ini tak pernah bisa kuungkapkan. Tidak pada orang tuaku, tidak pula pada Damar sendiri. Kusimpan segala sakit di dalam hati, sendiri, dan mendoakan yang terbaik baik bagi Damar sebab dia yang harus pindah, dibawa pergi oleh keluarganya ke luar kota.”