icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Kisah Aku & Dia

Kisah Aku & Dia

Penulis: Minang KW
icon

Bab 1 Aku dan Damar

Jumlah Kata:539    |    Dirilis Pada: 04/05/2024

ri Rin.

tika mataku membesar dengan kengerian yang langsun

, bur

aksaku untuk ikut lari mengik

i, R

, kakiku terus berlari. "Damar berengsek!

a, sesekali dia menoleh ke belakang

Lari dulu y

am

rang siswa sekolah lain dengan sebatang

teriak yang

untuk kuhentikan lagi, sebab seragam SMA-ku sama persis dengan seragam SMA

unya terhalang ini dan itu, maklum saja, Damar

, s

i justru dipenuhi oleh para pedagang kaki

gibaskan tangannya, berusaha membuka

-kursi dagangannya menjadi berantakan tersenggol l

erus saja diseret oleh Damar.

a semakin kaget sebab lebih banyak lagi anak SMA yan

in geng SMA lain terse

keh meskipun umpatan dan makian dari ora

ak dari SMA lain itu pasti juga akan memukuliku. Paling parah, m

ke s

asuki sebuah gang ke

mi dari para pedagang dan para pengunjung pasar deng

a memah

p detakan jantungku akan membuat paru-paruku semakin dingin dan bertambah

nggapi kesialan orang-orang pasar

peduli, atau lebih tepatnya, Damar lah yang tidak peduli

ke s

balasku. "Gang

keh dan kami kembali ber

mer

n, sepertinya hidung mereka cukup kuat

u pada Damar sembari menunj

i mengangkat kepalan tangannya. "

nak SMA lain tersebut. "Kejar

nya berbalik dan meneriaki anak-anak SMA dari sekolahan

. Olah ra

lu pitak!" aku

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kisah Aku & Dia
Kisah Aku & Dia
“Damar, dia seorang laki-laki yang pernah aku harapkan menjadi seseorang yang akan selalu mendampingiku dalam suka maupun duka. Dan aku, Rina, gadis yang akan selalu ada untuknya dalam sakit ataupun senang. Tapi kehidupan tak akan pernah sejalan dengan pemikiran dan keinginan, membuyarkan khayalanku, menghempaskan mimpi-mimpiku ke jurang terdalam, lalu pecah berderai di kerasnya kenyataan. Damar yang selalu memperlakukanku dengan baik, bahkan lebih dekat daripada keluarganya sendiri, ternyata sama sekali tak menaruh hati padaku. Perasaan yang terhempas ini tak pernah bisa kuungkapkan. Tidak pada orang tuaku, tidak pula pada Damar sendiri. Kusimpan segala sakit di dalam hati, sendiri, dan mendoakan yang terbaik baik bagi Damar sebab dia yang harus pindah, dibawa pergi oleh keluarganya ke luar kota.”