icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Terjerat Nikmat Sesaat

Bab 4 Nikmat, 4

Jumlah Kata:1227    |    Dirilis Pada: 11/07/2024

a yang dikucir dua dan wajahnya yang oriental memang menggemaskanku

ubun-ubunku, aku tersadar. Mengapa aku harus curi-cur

tapa bodo

raut muka ja'im. Aku harus mainkan strategi agar bisa membujuk mereka tanpa terkesan

s kalian balik ke sekolah. Kalo ngga

ak menolak kompak. Tangannya m

asnya yang sudah kosong cuma diputar-putar di pangkuannya.

uselipkan di celana. "Pak Joko..." kataku dengan suara dibuat-buat, "katanya: pak Alfred,

membelalakkan m

lang kalo kita ters

ngaja kubuat berdering itu. Tak ada SMS sebenarnya. Yang ada hanya bualanku saja. "Gini

a aliran listrik yang menghujam pantatnya. "

an bapak ambil baju mandi.

gu di teras. Sepertinya tak sabaran, taku

^

ak jelas. Mulutnya dihadang oleh tangannya sehingga aku tak bisa membaca gerakan bibirnya. Sepertinya, mereka sedang main rahasia-rahasiaan. Seme

langkahku. "Kok kita terus, pak? Bukann

enti di pertigaan. Kiri, menuju ke atas, tempat yang kuyakini benar. Tapi

in, Yuth?

jawabnya pen

pak. Daerah ini benar-benar asing dan lebih terjal. Kami saling menolong agar tidak terpeleset jatuh. Seseka

anya Deva karena permukaan kulitnya penuh dengan rambut-rambut halus. Betisnya kuam

mpai di tujuan. Setelah mendaki sedikit, kami melihat ada umbul. Lebih jernih namun berdiameter lebih kecil. Tepi umb

i tempatnya." kata Iy

knya nih, lebih

ngi kembali. Santi yang terkejut cuma bisa menyumpah-nyumpah. Sekali dua kali, mereka juga salin

ng." gurauku. Tapi aku serius. Aku harus mengamati sekeliling untuk memastikan tak ada orang y

Di bawah jurang terdapat sawah yang ditata secara terasering, berundak-undak. Air dari umbul yang terbuang

ak, "kita mau mandi. Bapak jagain ba

ndi di umbul kan?" tanyaku mengingatkan. Aku berharap, mereka mengangg

udah nggak sabaran," goda Iyuth.

h kok, pak. Mending malu dikit daripada sat

kalau

s umbul. Bintang-bintang di langit bagaikan jatuh di atas air. Sepi di sekitar umbul. Bambu-bambu

t pandang ke arah umbul yang paling ideal. Ah, sedikit ke timur ada batu ya

jenak ke dalam umbul lalu menarik badannya kembali. Jari-jari lentiknya mengurai ikatan dasi pramukanya, dan m

sil, ia masih mengenakan sepatunya saat celana dalam putihnya terlihat jelas. Lucu dan menggema

ju. Tangannya membantu menanggalkan kaitan rok yang menutupi area pribadi Sinta. Deva masih berp

ur lagi beberapa langkah, membiarkan Santi menanggalkan roknya seorang diri. Kuamati paha jenjang Santi dari atas ke

u itu ke atas seperti sedang melepas kaos olah raga. Singlet putih pun menggantikan baju coklat yang baru saja ia tanggalkan. Dadan

ya memakai singlet dan celana dalam putih. Ia menga

, San." jawabku, "

tali sepatu bot-nya, dan mencopotnya satu demi satu. Kaos kaki putihnya

apa nih

pak." balas Deva, "kan seminggu

r. Giginya yang ra

a terlihat mengkilat dan terawat. Lalu ia menegakkan punggungnya,

emua nih." Perlahan-lahan, Santi menarik baju melewa

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Terjerat Nikmat Sesaat
Terjerat Nikmat Sesaat
“Jangan pernah baper atau...”