icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pesona Liar Sang Pelakor

Pesona Liar Sang Pelakor

Penulis: Nur Afni
icon

Bab 1 Part 1. Malam Maksiat

Jumlah Kata:922    |    Dirilis Pada: 27/07/2023

? Sudah enakan?" Ha

ersamaku. Saat itu aku bermaksud mencari pembantu karena kondisiku yang sedang hamil. Dia datang bersama ibuny

amu pintar mijitnya, " uca

ta dokter yang kutemui dua hari yang lalu, itu biasa

lahirkan nanti, Mak

a juga punya kesibukan di kampung. Kenapa, k

Mak Uda adalah panggilanku untuk ibunya. Rumah oran

mang lebih baik kalau dia g

kaget menden

aku yang nge

sahutku meny

rat dari ucapannya. Naluriku meng

ah aneh. Sering kudapati dia mematut diri di depan cermin hias saat membersihkan kam

nya Mas Gilang malah membelanya. Dengan alasan sudah lama kepingin gaun seperti

ajuk pulang kampung, gimana? Kita kehilangan pembantu, kita jug

ampai malam harinya setelah kejadian itu, aku dapati Mas

lumayan besar. Toko itu di depan rumah kami pusatnya. Sedang cabangnya tersebar di beb

di toko?" kataku meng

ku melihat Harum duduk dipangkuan suamiku. Saat aku menghidupkan lampu, gadi

g dari toko. Aku tanya ngapain gelap-gelapan. Dia bilang masih sedih karena kam

af, kan? Kenapa masih mer

tas. Dadaku berdesir, saat itu sebenarnya aku sudah curiga. Tapi, aku tidak tahu harus curiga apa. Perasaanku ti

*

kamarku, ya? Kakak

m membuyark

enatap pungungny

n. Kurasakan gerakan bayiku seolah menendang. Kubelai per

ah tangan kekar tiba-ti

tokonya?" tanyaku

mana, masih k

makan dulu sana!

ah. Istirahat yang cukup, ya! Ka

a,

bisa nor

uang kerja mengecek laporan penjualan hari ini dar

a yang mau

Gilang kembal

ku gak tega, Mas harus nahan selama itu. Belum

nyum, lalu berjo

Sayang. Demi kebaikan dirimu dan ba

mata, begitu bahagia. Sua

," bisikku sa

ar, kupejamkan mata

seorang yang entah siapa mencuri baju dasterku. Aku kelelahan mengejar dan merebut k

sti dia masih di ruang kerjanya. Tenggorokanku tera

Kubuka pintu dengan pelan. Aku heran melihat lampu tidak menyala di dalamnya. Segera ku tekan saklar

Saat itu telingaku seperti mendengar suara desahan. Kucoba menajamkan pendengaran. Aku tidak salah denga

l dari kamarnya. Kenapa dia? Apakah dia sedang s

gadis itu? Ya, Allah, jangan sampai dia

.. kamu

demi melihat pem

upegangi kepalaku yang berdenyut heba

*

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pesona Liar Sang Pelakor
Pesona Liar Sang Pelakor
“Dan perempuan itu? Kulihat wajahnya memang cantik. Rambut panjang terurai dengan cat pirangnya. Kulit putih, meskipun tidak seputih susu. Tinggi semampai, dengan tubuh yang proporsional. Dengan dada dan bokong yang besar. Ah, tapi tetap saja, aku lebih cantik tentunya. Coba deh, tanyakan ke Mas Ali. Dia pasti akan bilang, bahwa aku adalah yang tercantik. Aku harus percaya diri. "Kamu jangan khawatir, sebentar lagi juga kamu bakalan jadi ratu di rumah ini. Menggantikan mantuku yang mandul itu. Kita hanya harus pintar bersandiwara. Kamu mainkan peranmu secantik mungkin. Jangan sampai rencana kita berantakan. Rayulah Ali, sampai dia jadi milikmu. Berikan aku cucu. Ok?" Spontan, aku menutupkan telapak tanganku, menutupi mulutku, yang membentuk huruf o. What ? Mantu mandul? Ibu mertuaku bilang, mantu mandul? Ok, baiklah. Orang bodoh pun tahu arah pembicaraan mereka. Tak perlu menerka-nerka, aku sudah sangat paham. Sepertinya aku akan ikuti sandiwara mereka, dan akan kupastikan, mereka hanya akan jadi figuran saja.”