icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Teman tapi Khilaf

Bab 7 Tempat yang Aman

Jumlah Kata:1612    |    Dirilis Pada: 16/07/2023

itu informasi yang Gisca ketahui tentang pria bern

semakin menjerumuskannya pada pria sinting itu. Namun, saat Barra memintany

bukti saat mereka berjalan, di sepanjang perjalanan banyak karyawan Starlight

rkomplot dengan Saga. Buka

rusaha tetap waspada. Ia tidak bo

tu mobil yang terparkir di sana. Gisca jadi baru

k di kursi penumpang, tepat di samping

nghadapi Saga sehingga berusaha berpikir positif kalau Barra memang bukan orang j

h Barra membuat sisa-sisa kecurigaan Gisca lenyap. Ki

Gisca. "Baik, aku tahu Bapak itu dokter di perusahaan ini. Tapi apa hubu

ab, "Saya harap kamu nggak berpikir saya ini ko

erpikir demikian," k

ya perhatikan dia berulang kali keluar-masuk mobilnya seperti sedang menunggu seseorang. Mungkin kalau sebentar saya nggak akan penasaran, masalahnya dia dari pagi s

nunggu Barra mela

eberapa kali menengok ke luar hanya untuk memastikan apakah Saga masih di sana. Selagi Saga masih ada di l

keluar dari sini karena tahu Saga nggak akan menyera

elum bisa memahami i

jadiannya udah lama, mungkin lebih dari setahun yang lalu. Dia pernah terobsesi sama adik perempuan saya. Dia

aga

an yang pernah menjadi korbannya. Dan sa

? Maksudny

ya yakin kamu mengerti maksud saya. Saya pun nggak akan me

sampai harus bersusah payah menjauh dari pria itu. Hanya saja, haruskah Gisca memercayai apa yang Barra katak

, membuat saya teringat adik

aras," balas Gisca. "Pertanyaannya kalau sebelum aku udah ada korban, kenapa sekara

anya didenda dan mendapat hukuman percobaan selama satu bulan kurungan. Baginya denda itu hal kecil ba

ya. Tapi Sela juga. Apa Sela tahu kelakukan pacarnya yang mengerikan

Barra barusan, Gisca mala

ketahuan oleh Saga." Setelah mengatakan itu, Barra kembali

karang berhati-hatilah. Dia bisa melakukan apa aja tanpa kenal rasa takut. Say

dan dengan santainya Barra mengemudikan mobilnya me

asih di situ,

arra lalu menemukan keberadaannya, meskipun sebenarnya mer

ai gemetaran saking

mpat Saga menunggu," ucap Barra. "Saya yakin dia masi

Barra. Aku nggak tahu bakalan sampai kapan

aja ya, karena kita belu

arra ingin meminta imbalan yang aneh-aneh. Jika iya, artin

di pinggir jalan. Jadi, rumah kamu

mau pulan

ngernyit

u kenakan ... kamu ini habis mel

Pak," jawab Gisca. "Kalau Bapak nggak

aham. "Oh, kamu pendatang? M

meng

n pulang s

ngkat ke sini

ya harap Saga ngg

n Saga. Andai ia rela mengeluarkan uang untuk penginapan dan tidak menumpang di aparte

ang? Biasanya Starlight itu ce

Kalau resmi diterima, aku bakal

angguk paham. "Se

p juga begitu. T

ering-sering ketemu saya, ya. Apalagi masu

meng

artinya kesehatanmu sedan

pa kalau Barra itu dok

di tidak terasa. Saat ini mobil yang Bar

ion kanan. Sebuah mobil yang sangat

ngikutin kita?"

ihat ke spion sampingnya. "

fakta bahwa Saga sedang mengikuti

kalau aku ada di sin

los saat melewati gerbang tadi. Masalahnya ini beneran m

ke kota ini, bekerja dan mencari uang yang banyak, k

u sesuatu. Siapa nam

penting dibicarakan sekarang? Ki

g jawa

is

mu percaya

k paham ma

a nggak bisa mengantar kamu pulang. Berkelahi dengan Saga agar dia ber

enunggu Barra melanjutkan pembicaraann

nnya lagi nggak aman dan saya mana tega meninggalkan

uk. Namun, ikut dengan Barra yang merupakan pria asing ba

u dari sakunya. "Pegang ini," ucapnya s

, Pak?" Tentu saja

aya. Kamu bisa pegang atau sembunyikan. Itu jami

ndungan dari Saga yang terus mengikutinya? Apakah prosesnya akan rumit mengingat Barra

d saya," tambah Barra. "Silakan putuskan sekar

apa ada jaminan Saga nggak

nggak akan bisa ik

kut ... tapi kenapa ia merasa

njauh dari pria berengsek itu. Dan saya nggak mungkin diam

mana agar bisa menjauh

aya," jaw

an cepat tapi tetap hati-hati. Ia akan membawa Gisca ke

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Teman tapi Khilaf
Teman tapi Khilaf
“Ketika rasa nikmat membuat dua insan terus menerus ketagihan untuk berbuat khilaf. Seperti orang kecanduan. Padahal mereka sama-sama sadar kalau hubungan ini belum tentu berakhir indah. Namun, rasa itu terus membuncah. Hubungan yang orang-orang katakan 'terlarang' ini seolah tidak ada habisnya menciptakan rasa saling menginginkan yang kuat. Menggebu-gebu tanpa peduli kalau kekhilafan ini hanyalah kenikmatan sesaat. Kalau sudah begini ... harus bagaimana lagi?”