icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dendam Mrs. Ilona

Bab 3 Sepasang Bola Mata Basah

Jumlah Kata:1613    |    Dirilis Pada: 05/06/2023

lantai hingga menimbulkan bunyi yang seakan terdengar seperti music pengiring langkah kakinya. Bunyi dengan irama konstan itu tak ia pedulikan kalau-kalau bunyinya nanti

juga ia tak punya kuasa untuk melakukannya. Lagi pula, ini temp

py eyes miliknya dan sejak tadi bertengger pada hidung bangir bak patung Yunani tersebut. Memandang lurus ke depan dengan senyum yang teramat tipis dan nyaris tak terlihat. Ia mencoba mengirup udara dalam-dalam seraya mengatup kelopak matanya

n. Ia lantas mendongakkan kepala tinggi-tinggi, menatap langit sore yang menyambut kedatangannya dengan warna indah-bir

an kembali lagi menginjakkan kaki di tempat yang banyak menciptakan kenangan indah itu? Tidak! Ia pasti akan kembali, tetapi untuk pula

u. Lelaki itu sekarang pasti tengah menanti kabar darinya. Namun, Ilona masih belum sempai mengirimkan pesan singkat untuk lelaki yang selalu membersamainya dalam segala keadaan selama di Paris. Lelaki

lnya. "Nanti akan kuperlihatkan rumah dan potret masa kecilku sesuai inginmu," sambung Ilona dengan senyum yang terpatri begitu cantik. Ia tiba-tiba membayangkan ba

ng Felix, sebab memikirkan lelaki itu tentu tak aka nada titi

sudah menyia-nyiakan waktu dan memperlambat dirinya tiba di rumah. Dan itu juga artinya ia akan membuat seseorang yang berjanji untuk menjemputnya sudah menunggu lebih lama. Kasihan. Sudah cukup satu windu lamanya men

akhirnya terjungkal ke depan dan lututnya berhasil menyentuh lantai pertama kali. Kacamata yang juga di dalam genggamannya terjatuh begitu saja. Ia menga

yentuh lantai bandara dengan sempurna. Namun, anehnya tak ada di antara keduanya yang angkat suara. Me

n, kelopak mata itu tampak terlihat memerah. Menatap Ilona tanpa berkedip. Tid

tapan Felix yang selalu berhasil membuatnya tenang. Namun, seperti ada luka yang terpancar dari sana. Dibuktikan dengan lebih kuat oleh kelop

ngat, ialah yang menjadi korban dalam insiden ini. Beruntungnya, ia

menembus tatapan Ilona, tetapi tak ada percikan ketertarikan di sana. Hanya yang jelas terlihat adalah duka. Lantas, Ilona menjentikkan jarinya di d

membangunkan laki-laki itu dari lamunannya. "Oh

ebelumnya menangis tersedu. Namun, detik berikutnya ia tersadar bahwa ia tidak boleh menjebak d

bergerak mengikuti arah gravitasi. "I'm okay," balasnya. "Aku pergi dulu," sambung laki-

, pikir Ilona. Namun, ia masih belum bisa melupakan s

a tersebut. Sejenak ia termenung memandangi benda itu. Ia lantas mengangkat kepala dan segera bangkit secepat kilat. Ini pasti barang laki-laki itu yang tak disadari tuannya terjatuh. Namun,

laki-laki asing pemilik bola mata basah itu. Akan tetapi, Ilona pun tak punya daya dan cara mengembalikan kepada pemiliknya. Ia tid

ia akan bertemu lagi dengan lelaki itu. Oh, apakah Ilona mengharapkan pertemuan lain setelah ini? Bukan! Bukan i

a bulatnya. Ah, laki-laki itu pasti salah mengambil barang karena tergesa-gesa, pikir Ilona. Tiba-tiba ia merasa sedih, karena harus kehilangan kacamata itu. Bagaimana tidak? Kacamata itu adalah barang pemberian terakhir

rangmu bisa berse

sejenak memicingkan mata untuk memperhatikan siapa laki-laki yang berdiri di hadapannya itu. Namun, detik berikutnya ia langsung memekik

itu di tanah kelahiran mereka. Tanah yang menjadi saksi masa kecil yang indah sebelum duka sama-sama merengg

perhatian orang, hm?" ujar Garry seraya melep

onesia jelas berbeda dengan Paris. Akan ada banyak pasang mata yang memusatkan perhatian dengan

ran

i orangnya sudah pergi," tutur Ilona

u ikut berjongkok dan membantu Ilona. "Dia tidak

ga baik-baik saja," ba

bah. Masih sama seperti dulu," puji Garry dan refleks mengelus puncak p

awa kecil. Padahal, di dalam hatinya ada desiran saat tangan besar Garry menyentuh pun

membantu Ilona membawa barang-barangnya menuju mobil. S

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dendam Mrs. Ilona
Dendam Mrs. Ilona
“Kepulangan Ilona ke tanah air setelah menginjak usia di angka seperempat abad adalah untuk membalas dendam atas kematian Tuan Belvara-ayahnya. Kematian yang begitu tiba-tiba dan tragis. Kematian yang menghancurkan keluarga Ilona tak hanya dari sektor ekonomi saja. Akan tetapi, juga merenggut kewarasan sang ibu hingga berakhir di rumah sakit jiwa. Peluang balas dendam Ilona dapatkan ketika ia bisa masuk menjadi salah satu tenaga pendidik di sebuah sekolah bergengsi di mana salah satu generasi penerus dari keluarga Altaresh yang membuat ayahnya meninggal menempuh pendidikan di sana. Hal itu tidak disia-siakan oleh perempuan pemilik nama lengkap Ilona Roselani Belvania itu. "Jika rindu harus dibayar temu. Maka, dendam harus dibayar tuntas." -ILONA ROSELANI BELVANIA Lantas, bisakah Ilona membalas dendamnya dengan tuntas?”
1 Bab 1 The Last Autumn2 Bab 2 Liburan Masa Lalu3 Bab 3 Sepasang Bola Mata Basah4 Bab 4 Barang yang Tertukar5 Bab 5 Dante dan Traumanya6 Bab 6 Rumah Masa Kecil7 Bab 7 Mengenang Kenang8 Bab 8 Menunggu Keajaiban9 Bab 9 Menuntut Penjelasan10 Bab 10 Jingga di Atas Pusara11 Bab 11 Informasi tentang Keluarga Altaresh12 Bab 12 Titik Terang13 Bab 13 Pertemuan Pertama14 Bab 14 Cerita Ilona15 Bab 15 Tentang Tante Cantik16 Bab 16 Melamar17 Bab 17 Pertemuan di Pusat Perbelanjaan18 Bab 18 Diterima19 Bab 19 Senja di Taman Rumah Sakit20 Bab 20 Laki-laki Kemeja Biru21 Bab 21 Masih di Rumah Sakit22 Bab 22 Bertemu 23 Bab 23 Mulai Jatuh Cinta 24 Bab 24 Cafe dan Ceritanya 25 Bab 25 Denting Piano Ilona26 Bab 26 Ruang Musik27 Bab 27 Masih tidak Percaya28 Bab 28 Rencana Dante29 Bab 29 Perdebatan30 Bab 30 Guru Private untuk Jaisy31 Bab 31 Malam Minggu32 Bab 32 Rumah Sakit Jiwa33 Bab 33 Luka, Duka, dan Rindu34 Bab 34 Kunjungan Pertama35 Bab 35 Jebakan Hujan36 Bab 36 Kepikiran37 Bab 37 Kedekatan yang Bermula38 Bab 38 Pesona ke Sekian39 Bab 39 Pertemuan Pertama Dante40 Bab 40 Makan Malam41 Bab 41 Dilema42 Bab 42 Telepon Tengah Malam43 Bab 43 Pagi dan Kabar Baiknya 44 Bab 44 Sepasang Kekasih45 Bab 45 Godaan46 Bab 46 Jadi Aunty Jaisy47 Bab 47 Baper48 Bab 48 Keputusan