icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

HILDA PERAWAN TUA

Bab 3 BIMBANG

Jumlah Kata:1482    |    Dirilis Pada: 27/03/2023

ersadar dari lamunanku. Cepat

akan di rumah saja) aku menyimpa

-baik saja." Tersenyum ke arah Pak

engan pikiran masing-masing hingga

an saya tadi, Bu Hilda? Mau

saya pikirk

jus mangga dan menyedo

Edi mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jari tangannya, tak

ya harus berpikir matang-matang

u. "Usia Bu Hilda sudah m

berdiri dan mengambil tas di atas meja. Hatiku teri

rumah, bukan apa-apa, namun aku kuatir Emak se

a sedang duduk bersantai di ruang tengah. Saat meli

. Suamiku sudah di PHK dari perusahaannya, jadi aku tak tahu harus kem

kalian tinggal di sini, biar aku bisa dekat sama keponakanku. Oya, dim

ur, Mbak, mungkin ke

ya, sudah bau keringet." Aku tertawa

mbangunkan ku yang baru saja tertidur beberapa menit. Aku membuka mata, menggeliat untuk melenturkan otot-otot k

jaan dapur selalu aku yang melakukannya, aku tak tahu apa alasannya, mungkin saja Emak merasa canggung karena Risa sudah menikah, atau mungkin Emak tak

at-alat masak di dapur, akhirnya aku bisa me

atas piringnya, sementara Risa sibuk me

aku belum menyuapi Emak. Baiklah, aku akan menyuapi Emak dulu. Tangan ka

dan aku mulai menyuapinya. Beruntung, Emak ta

Setelah makan aku segera membersihkan meja makan dan ku

g, Dafa agak rewel." Ujar Risa sambil mengambil s

aku bisa sendiri kok."

buat Dafa? Aku sudah tak punya uang, ta

nak aktivitasku yang

ti aku kirim k

a berjalan menghampi

tahun itu memang sangat lucu, dan ah, seandainya saja aku sudah berkeluarga, mungkin aku pun akan di karuniai anak selucu itu. Namun sayangnya, aku masih jug

mu tadi dengan Pak Edi?" Tany

ada yang istimewa." Jawabku sa

menerima l

up udara sebanyak-banyaknya, seakan sudah

ggi, karirnya bagus dan uangnya banyak, menurut Emak, kamu pantas

rempuan yang mempunyai karir tinggi. Maksudnya, takut ia tersaingi gitu lho Mbak, laki-laki kan selalu ingin di hargai, mereka mengutamakan harga dirinya, jadi menurutku, kalau

kukan apa. Usiaku sudah sangat mapan, dan mungkin sebentar lagi aku akan menopou

iti hati perempuan lain." Aku berujar cepa

kin aku pun tak akan terima jika suaminya menikah la

kamu punya anak, maka terima saja lamaran Pak Edi sebelum kamu men

ahu segalanya tentang jodohku?" Aku berdiri meninggalkan Emak dan Ri

tak tahan dengan semua ini, ingin rasanya aku bersimpuh di

buah mimpi. Bergegas aku mengambil wudhu, menghadap pada sang maha segala

ku rebahkan tubuhku di atas ranjang dan beb

hampir seluruh bagian bumi. Di antara terangnya cahaya matahari, semburat wajah tampan menyembul dari situ, menghampiriku yang sedang dilanda g

iri, berusaha menafsirkan mimpi yang datang dalam sekejap waktu tersebut. Kata orang tua, bila seorang perempuan bermimpi melihat m

arena aku terlalu memikirkan tentang jodoh?" Aku bergumam sendiri. Sejenak aku m

*

waban tentang pertanyaanku waktu itu?" P

ah mempuny

igami, saya bisa cukup adil membagi waktu untuk kedua is

ma perempuan, saya tidak mau menya

i setuju dengan keputusan saya untuk menika

nya tak mungkin ada perempuan yang rela di

lah, nanti akan saya pertemu

ngah aku hadapi sekarang. Sepintas, aku teringat mimpiku sem

eri Bapak?" Cetusku, ingin segera tahu apakah p

Saya akan pertemukan kalian b

asih tak percaya dengan

tas ujian dan di taruhnya di atas meja kerja seorang dosen. Ia menoleh pad

ang mahasiswaku di sana. Ku tekan tombol berg

el? K

saya ke rumah

ya ada p

in saya bicar

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
HILDA PERAWAN TUA
HILDA PERAWAN TUA
“Kecerdasan intelektual yang dimiliki Hilda telah mengantarkannya pada sebuah kesuksesan dan puncak karirnya. Namun semua yang diraihnya justeru berbanding terbalik dengan kisah percintaan yang selalu putus sebelum sempat bersatu. Miris, semua itu terjadi karena ulah Emaknya yang selalu mencampuri urusan pribadinya. Sikap materialistis yang dimiliki Emaknya membuat sang Emak sangat selektif dalam mencari jodoh anaknya. Tak disangka, sikap itulah yang menjerumuskan Hilda pada sebutan perawan tua. Berbagai macam konflik dalam hidupnya selalu datang silih berganti. Ternyata, bukan hanya tentang jodoh yang membuat Hilda semakin terpuruk. Perlakuan Emak yang pilih kasih terhadap dirinya dan adiknya pun telah membuat kehidupan Hilda nyaris hancur. "Adikmu mempunyai penyakit jantung bawaan dari lahir. Jantungnya bocor hingga mencapai satu cm." Kata Emak. Penyakit yang diderita adiknya itulah yang menjadi sebab Emak selalu mengutamakan adiknya tanpa mempedulikan perasaannya. Akankah Hida sanggup menghadapi sikap Emak yang merupakan sebab dari semua masalah dan sakit hatinya? Mampukah Hilda menemukan jodohnya di tengah badai konflik yang tiada habisnya? Ikuti terus kisah Hilda dalam judul HILDA PERAWAN TUA”
1 Bab 1 PENYESALAN SEORANG IBU2 Bab 2 DILAMAR PRIA BERISTRI3 Bab 3 BIMBANG4 Bab 4 AKU LELAH5 Bab 5 AKU DILAMAR PAK EDI DI DEPAN ISTRINYA6 Bab 6 KECELAKAAN7 Bab 7 PULANG KE RUMAH8 Bab 8 KEDATANGAN ANGGA DAN ESTI9 Bab 9 TAMPARAN UNTUK RISA10 Bab 10 TANGIS EMAK UNTUK RISA11 Bab 11 PERTENGKARAN RISA DAN ESTI12 Bab 12 PROBLEMA HIDUP13 Bab 13 TANGISAN ESTI14 Bab 14 AMELIA SAKIT15 Bab 15 TAMU TAK DIUNDANG16 Bab 16 AKU HARUS BAGAIMANA 17 Bab 17 RAFAEL18 Bab 18 MAS ADAM19 Bab 19 PUTUS DENGAN MAS ADAM20 Bab 20 RAFAEL, ESTI, KEMANA KALIAN 21 Bab 21 KEDATANGAN ANGGA DI PAGI BUTA22 Bab 22 TERNYATA IA SEORANG DOKTER23 Bab 23 PERMINTAAN BU MISKA24 Bab 24 KEKACAUAN DI MINI MARKET25 Bab 25 MAKAN SIANG DENGAN MAS ADAM26 Bab 26 KEPERGIANKU27 Bab 27 SUASANA DI RUMAH MAS ADAM28 Bab 28 PINGSAN DI RUMAH MAS ADAM