icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

HILDA PERAWAN TUA

Bab 2 DILAMAR PRIA BERISTRI

Jumlah Kata:1482    |    Dirilis Pada: 27/03/2023

kku Hilda segera memotong sayuran dan meracik bumbu-bumbu.

g, kesabarannya selama ini membuatk

ku. Tampak kedua bola matanya masih berka

ngin buang air besar?" I

u, berusaha untuk menahan kucuran air mata yang sudah menggantung pad

khawatir," senyum Hilda merekah. Aku tahu itu hanya senyuman palsu untuk tidak membuatku

gera mengatur hidangan di atas meja, lalu menyuapiku dengan telaten, set

ngkan pampers dewasa di tubuhku. Ya, bila Hilda sedang di luar rumah, aku selalu memakai pampers dewasa karena Hilda tak in

, ini gawainya aku taruh di meja ya, Mak." Lanjut

rjalan keluar rumah sambil menenteng

a Pramus

i rumah, namun apa hendak di kata, hanya akulah yang bisa menjaga Emak kare

ka mengangguk hormat, ada pula yang acuh tak acuh. Segerombolan mahasiswa tertawa terbahak-ba

mahasiswa semester lima menghampiriku untuk menawarkan bantuan walaupun seb

eman Rafael lalu disambut dengan tawa dari teman-te

i meninggalkan Rafael yang melihatku dengan lesu. Entah meng

kerjaku. Membuka laptop dan mengecek email sambil menunggu jam mengajar

dosen hukum yang selama ini selalu mende

k sekilas dan kembali membaca be

ada waktu? Bisa enggak kalau Ibu menemani sa

ku yang sedang menari

pak, Emak menungguku di rumah." Aku men

ini sudah dewasa bahkan sudah pantas mempunyai anak, tapi mengapa Ibu selalu menutu

Hatiku sedikit kesal mendengar ucapannya. Pak E

egois! Seharusnya Ibu

ak sudah

mencintaimu. Aku bisa menikahimu,"

irup oksigen sebanyak-banyaknya ag

tang satu persatu. Aku tak ingin keribut

u ke kelas." Aku berjalan melewatinya, membi

memang sudah mempunyai isteri, tapi...sekarang usiaku sudah sangat mapan, kepalaku berdenyut-d

anya di sepertiga malam ku. Ya Allah, b

, aku merasakan gawaiku bergetar. Cepat aku mengambil gawaiku di dalam tas dan menek

makan siang di restoran langgananku.) Su

aku enggak

etelah ini saya tidak akan mengajak Bu Hilda maka

seharusnya aku lakukan. Beberapa saat gawaiku menemp

Ibu masih

, Pak, saya

ima ajakan

a,

idak salah menerima ajakan makan siangnya? Hanya makan siang biasa

u harus meminta izinnya

ran kampus, aku menekan tomb

orean ya) kataku setelah sebelum

a mengajar di dua kelas saja

makan siang sam

ritakan pada Emakmu? Ya sudah, kamu terima saja aja

an aku berjodoh dengan seseorang yang menurut Emak sepadan denganku dan pant

aku menja

lau ia melamarmu, jangan kamu tolak,

ak, ia s

on tanpa mengucapkan salam. Aku menghela

iran kampus, kulihat Pa Ed

saja biar nanti saya antarkan pulang sekalian." Dengan sigap, Pak Edi me

melirik padaku sekilas sambil tersenyum

bilang terima

laupun ini untuk yang pertama dan terakhir

ma-sama

a..." Pak Edi menggantungkan kalimatnya

apa hatiku saat ini sangat berkecamuk. Kubiar

di sebuah kursi berhadap-hadapan dengan Pa

aku tak bereaksi sedikitpun. Saat ini aku tak tahu harus berbuat apa, yang jelas, aku sangat khawatir dengan usiaku yang terus beranjak menuju tua apalagi bila melihat Emak yang menginginkan

a yang di inginkan Emak untuk jadi menantunya. Tidak Hilda, ia sud

ak Edi bertanya, sebuah senyum hangat tersungging di bibirnya. Memang pria ini tak

tiba-tiba berdering, ke

Mak, a

saja datang. Katanya ia akan tingga

kenapa

dah tak bekerja, ia telah di PHK dua bu

an. Dan sekarang Risa sudah tak bekerja lagi di rumah makan karena kelahiran Dafa membuatnya sedikit

Ibu baik-ba

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
HILDA PERAWAN TUA
HILDA PERAWAN TUA
“Kecerdasan intelektual yang dimiliki Hilda telah mengantarkannya pada sebuah kesuksesan dan puncak karirnya. Namun semua yang diraihnya justeru berbanding terbalik dengan kisah percintaan yang selalu putus sebelum sempat bersatu. Miris, semua itu terjadi karena ulah Emaknya yang selalu mencampuri urusan pribadinya. Sikap materialistis yang dimiliki Emaknya membuat sang Emak sangat selektif dalam mencari jodoh anaknya. Tak disangka, sikap itulah yang menjerumuskan Hilda pada sebutan perawan tua. Berbagai macam konflik dalam hidupnya selalu datang silih berganti. Ternyata, bukan hanya tentang jodoh yang membuat Hilda semakin terpuruk. Perlakuan Emak yang pilih kasih terhadap dirinya dan adiknya pun telah membuat kehidupan Hilda nyaris hancur. "Adikmu mempunyai penyakit jantung bawaan dari lahir. Jantungnya bocor hingga mencapai satu cm." Kata Emak. Penyakit yang diderita adiknya itulah yang menjadi sebab Emak selalu mengutamakan adiknya tanpa mempedulikan perasaannya. Akankah Hida sanggup menghadapi sikap Emak yang merupakan sebab dari semua masalah dan sakit hatinya? Mampukah Hilda menemukan jodohnya di tengah badai konflik yang tiada habisnya? Ikuti terus kisah Hilda dalam judul HILDA PERAWAN TUA”
1 Bab 1 PENYESALAN SEORANG IBU2 Bab 2 DILAMAR PRIA BERISTRI3 Bab 3 BIMBANG4 Bab 4 AKU LELAH5 Bab 5 AKU DILAMAR PAK EDI DI DEPAN ISTRINYA6 Bab 6 KECELAKAAN7 Bab 7 PULANG KE RUMAH8 Bab 8 KEDATANGAN ANGGA DAN ESTI9 Bab 9 TAMPARAN UNTUK RISA10 Bab 10 TANGIS EMAK UNTUK RISA11 Bab 11 PERTENGKARAN RISA DAN ESTI12 Bab 12 PROBLEMA HIDUP13 Bab 13 TANGISAN ESTI14 Bab 14 AMELIA SAKIT15 Bab 15 TAMU TAK DIUNDANG16 Bab 16 AKU HARUS BAGAIMANA 17 Bab 17 RAFAEL18 Bab 18 MAS ADAM19 Bab 19 PUTUS DENGAN MAS ADAM20 Bab 20 RAFAEL, ESTI, KEMANA KALIAN 21 Bab 21 KEDATANGAN ANGGA DI PAGI BUTA22 Bab 22 TERNYATA IA SEORANG DOKTER23 Bab 23 PERMINTAAN BU MISKA24 Bab 24 KEKACAUAN DI MINI MARKET25 Bab 25 MAKAN SIANG DENGAN MAS ADAM26 Bab 26 KEPERGIANKU27 Bab 27 SUASANA DI RUMAH MAS ADAM28 Bab 28 PINGSAN DI RUMAH MAS ADAM