/0/30508/coverorgin.jpg?v=2c20d10388ca4581c1eace5f1e6ce93f&imageMogr2/format/webp)
Declan Montereau duduk di kursi kayu tua di sudut ruang tamunya yang megah, menatap tumpukan kertas di depannya. Layar laptop yang menyala memperlihatkan angka-angka yang terus berubah, grafik naik turun yang mewakili kekayaan dan kesuksesan yang ia bangun sejak bertahun-tahun lalu. Namun, di dalam hatinya, tak ada satu pun grafik yang bisa menebus rasa kosong yang mulai merayapi.
Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-35. Bukan usia yang muda lagi, namun juga belum terlalu tua untuk mulai merasakan penyesalan. Tapi penyesalan itu belum pernah datang, bukan karena ia tak punya alasan, melainkan karena ia selalu menolak segala hal yang membuatnya lemah-terutama cinta dan keluarga.
"Selamat ulang tahun, Declan," suara halus dari kamar sebelah terdengar. Seorang wanita muda masuk membawa nampan berisi kue kecil dan lilin yang menyala.
Declan mengangguk singkat tanpa menoleh. "Terima kasih, Elise."
Elise tersenyum, seorang asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun setia mendampinginya. "Acara kecil hari ini. Hanya kita berdua dan beberapa tamu di ruang makan."
Declan mengangguk lagi, tapi pikirannya melayang jauh. Ia selalu merasa acara ulang tahun seperti ini sia-sia. Setiap tahun, perayaan itu hanya mengingatkannya pada sesuatu yang hilang-sesuatu yang tak pernah ia miliki dan tak ingin ia cari.
Tepat saat jam berdentang menunjukkan pukul tujuh malam, suara bel pintu menggelegar di ruang tamu. Declan mengerutkan dahi, merasa risih oleh suara tak terduga di tengah malam.
"Siapa itu?" tanyanya pada Elise yang juga terlihat kaget.
Elise melangkah ke pintu, membuka sedikit tirai dan menatap ke luar. "Seorang bocah kecil, Pak."
Declan berdiri dengan langkah berat mendekati pintu. Ia membuka pintu depan dengan hati-hati, dan di sana berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun, dengan rambut ikal coklat gelap dan mata abu-abu yang menusuk. Bocah itu memandangnya tanpa rasa takut, hanya dengan tatapan yang membuat jantung Declan seakan berhenti sejenak.
"Siapa kamu?" suara Declan terdengar serak, antara ingin tahu dan cemas.
Bocah itu mengangkat dagunya dengan sedikit bangga. "Namaku Elio. Mama bilang, kamu ayahku."
Declan terdiam. Kata-kata itu seperti petir di siang bolong, mengguncang semua keyakinannya selama ini.
"Ayahmu?" Declan mengulangi dengan suara nyaris tak percaya. "Apa yang kamu katakan?"
Elio mengangguk dengan mantap, tapi ia juga terlihat sedikit bingung. "Mama bilang kamu ayahku. Dia bilang kamu sudah lama mencariku."
Declan menghempaskan napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia menunduk, memperhatikan bocah kecil itu dengan lebih seksama. Ada sesuatu yang sangat familiar dalam wajah Elio-bukan hanya bentuk hidung atau warna mata, tapi ada getaran yang sulit dijelaskan oleh akal sehat.
"Siapa ibumu?" Declan akhirnya bertanya.
Elio menggeleng. "Mama tidak bilang. Tapi aku ingin tinggal sama ayah."
Suasana menjadi hening. Declan memandang bocah itu, dan sebuah gelombang emosi bergejolak dalam dadanya: keterkejutan, ketakutan, kemarahan, dan rasa bersalah yang tak pernah ia sadari sebelumnya.
/0/24713/coverorgin.jpg?v=d5ec8a1ab9d841d707913428394d96b4&imageMogr2/format/webp)
/0/2841/coverorgin.jpg?v=f985878837adf7ea89879cdbb243c038&imageMogr2/format/webp)
/0/16564/coverorgin.jpg?v=1fea2c047e0199e457c5dfea4689e55f&imageMogr2/format/webp)
/0/16958/coverorgin.jpg?v=97ed2f639923e0c792d22df0e3e325a1&imageMogr2/format/webp)
/0/4053/coverorgin.jpg?v=4611eb4715991ae118af1d3d0798752d&imageMogr2/format/webp)
/0/12939/coverorgin.jpg?v=6c174984c8ef1145cdac2fdce22ee108&imageMogr2/format/webp)
/0/13104/coverorgin.jpg?v=bdd767dfe4ccbcd919c9d423c9e4c222&imageMogr2/format/webp)
/0/6602/coverorgin.jpg?v=88214d6b45570198e54c4a8206c1938e&imageMogr2/format/webp)
/0/14553/coverorgin.jpg?v=70c0a6def8075f778c511b668778bee4&imageMogr2/format/webp)
/0/4259/coverorgin.jpg?v=cb1dcacc96fc7ddceb6c328c1d504baa&imageMogr2/format/webp)
/0/23841/coverorgin.jpg?v=f504fd44d5add382fb179085698f1b10&imageMogr2/format/webp)
/0/31004/coverorgin.jpg?v=02caae0f37961c6004b43ddb7dc81e9b&imageMogr2/format/webp)
/0/10773/coverorgin.jpg?v=b5db46b4894f9e45289dad0a48feb797&imageMogr2/format/webp)
/0/28474/coverorgin.jpg?v=d120edfc595220e29f599bab7a546f88&imageMogr2/format/webp)
/0/30894/coverorgin.jpg?v=7d076e679131697c24475832a1ca772f&imageMogr2/format/webp)
/0/28647/coverorgin.jpg?v=796a27162829ed6a2165b9cafa0a6eb6&imageMogr2/format/webp)
/0/29168/coverorgin.jpg?v=e9e48c9955d6a8bdb0d7c878d0f11405&imageMogr2/format/webp)
/0/27974/coverorgin.jpg?v=886a185ae9aa251d4b552495e43fbd39&imageMogr2/format/webp)
/0/17878/coverorgin.jpg?v=1a1e91ae2d6693eebb5ac59d07d8724f&imageMogr2/format/webp)