Melinda Jaeger
3 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Melinda Jaeger
Sembilan Pilihan, Satu Perpisahan Terakhir
Romantis Pernikahan hasil perjodohanku punya satu syarat kejam. Suamiku, Bima, harus melewati sembilan "tes kesetiaan" yang dirancang oleh cinta masa kecilnya, Shania. Sembilan kali, dia harus memilih Shania daripada aku, istrinya.
Di hari jadi pernikahan kami, dia membuat pilihan terakhirnya, meninggalkanku yang sakit dan berdarah di pinggir jalan tol saat badai.
Dia bergegas ke sisi Shania hanya karena wanita itu menelepon, mengaku takut pada guntur. Dia pernah melakukan ini sebelumnya—meninggalkan acara pembukaan galeriku demi mimpi buruk Shania, meninggalkan pemakaman nenekku demi mobil Shania yang mogok. Seluruh hidupku hanyalah catatan kaki dalam kisah mereka, sebuah peran yang belakangan diakui Shania telah dia pilihkan khusus untukku.
Setelah empat tahun menjadi hadiah hiburan, hatiku telah membeku. Tak ada lagi kehangatan yang tersisa untuk diberikan, tak ada lagi harapan yang bisa dihancurkan. Aku akhirnya selesai.
Jadi, ketika Shania memanggilku ke galeri seniku sendiri untuk babak terakhir penghinaan, aku sudah siap. Aku dengan tenang menyaksikan suamiku, yang putus asa untuk menyenangkannya, menandatangani dokumen yang disodorkan Shania di depannya tanpa melihat isinya. Dia pikir dia sedang menandatangani sebuah investasi. Dia tidak tahu itu adalah surat perjanjian cerai yang telah kuselipkan ke dalam map satu jam sebelumnya. Dia Memilih Kebohongan, Aku Memilih Pergi
Romantis Saya telah melewati banyak cobaan dan akhirnya menemukan adik perempuan suami saya yang telah lama hilang.
Namun, ketika saya menemukannya, dia sudah berada di ambang kematian.
Dalam kepanikan untuk membawanya ke rumah sakit, saya secara tidak sengaja menabrak mobil sport merah.
Pengemudi perempuan itu menuntut saya meminta maaf, serta membayar dua miliar untuk biaya perbaikan.
Saya berdebat, "Jelas sekali pindah jalur sembaranganmu yang menyebabkan kecelakaan ini. Kenapa semua biaya ditanggungkan olehku? Selain itu, dalam situasi hidup atau mati, saya harus membawa orang yang terluka ini ke rumah sakit terlebih dahulu!"
Wanita itu dengan kejam mendorong saya ke tanah. "Diam, kamu orang tak berguna! Suami saya baru saja membelikan mobil ini hari ini, dan bertemu orang seperti kamu benar-benar membawa sial! Suami saya adalah pewaris keluarga Blakely, keluarga terkaya di kota ini. Kami tidak peduli meskipun itu berisiko bagi banyak orang!"
Saya tertegun selama beberapa detik. Pewaris keluarga Blakely?
Jadi, wanita sombong di depan saya adalah selingkuhan suami saya, Nixon?
Haruskah saya meninggalkan adik perempuannya? Namun, kakeknya telah mencari dia dengan putus asa. Anda mungkin suka
Gairah Nikmat Kopi Susu
Juliana 21+
"Pantas belum jalan, ada maunya ternyata" Ujar Fany
"hehehehe... Yuk..." Ujar Alvin sambil mencium tengkuk istrinya.
Fany segera membuka handuknya. Buah dadanya menggantung indah, perutnya yang rata dan mulus, serta area kemaluannya yang ditutupi rambut hitam langsung muncul. Alvin segera memeluk Fany dan melumat buah dadanya dengan rakus.
"Pintu sudah dikunci? " Tanya Fany
"Sudah...." Jawab Alvin disela mulatnya sedang mengenyot puting pink milik Fany
"nyalain Ac dulu" suruh Fany lagi
Sambil melepas sedotannya, Alvin mencomot remote AC lalu memencet tombol ON.
Kembali dia melumat buah dada Fany bergantian kiri dan kanan, buah dada yang putih dan terlihat urat-urat merah dan biru di buah dada putihnya, membuat Alvin makin rakus melumatnya.
Sambil menrunkan celana pendek dan celana dalamnya, dia membuka kaosnya, lalu merenggangkan paha Fany, ujung kontolnya yang belum tegak sempurna diberi ludah lewat jari tengahnya di bagian kepala, lalu menggosok gosok pelan di bibir vagina Fany.
Fany mendesah dan merasakan mulai ada rangsangan di bibir kemaluannya, lalu tiba-tiba masuk batang berurat milik Alvin di vagina Fany yg belum begitu siap dan basah, pelan2 lelehan cairan membasahi dinding vaginanya, Alvin mulai menggoyang dan naik turun, Fanny memeluk bagian pinggul suaminya, pahanya dibuka lebar.
Tidak lama kemudian..... Antara Kerja dan Kenikmatan
Juliana Kupejamkan mataku, dan kukecup bibirnya dengan lembut, dia menyambutnya. Bibir kami saling terpaut, saling mengecup. Pelan dan lembut, aku tidak ingin terburu-buru. Sejenak hatiku berkecamuk, shit! She got a boyfriend! Tapi sepertinya pikiranku mulai buyar, semakin larut dalam ciuman ini, malah dalam pikiranku, hanya ada Nita.
My logic kick in, ku hentikan ciuman itu, kutarik bibirku mejauh darinya. Mata Nita terpejam, menikmati setiap detik ciuman kami, bibir merahnya begitu menggoda, begitu indah. Fu*k the logic, kusambar lagi bibir yang terpampang di depanku itu.
Kejadian ini jelas akan mengubah hubungan kami, yang seharusnya hanya sebatas kerjaan, menjadi lebih dari kerjaan, sebatas teman dan lebih dari teman.